BUMN Diminta Aktif Ekspansi ke ASEAN di Sektor-sektor Strategis
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta bisa bergerak aktif dalam mencari dan memanfaatkan peluang, khususnya di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).
Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, transformasi membuat perusahaan-perusahaan BUMN lebih siap untuk berkompetisi di level internasional.
“Hasilnya, kita sudah melihat perkembangan konkret pada BUMN-BUMN. Mereka jadi lebih tangguh, lebih produktif dan lebih siap untuk berkompetisi di panggung global," ujar dalam keterangan resmi dikutip Kamis (31/8).
Di wilayah ASEAN, BUMN kata Erick memiliki beberapa proyek kerja sama yang tengah berjalan dengan negara-negara tetangga. Singapura tercatat sebagai negara ASEAN yang memiliki banyak kerja sama dengan Indonesia. Singtel, salah satu perusahaan telekomunikasi di Singapura telah berkontribusi dalam pengintegrasian IndiHome ke Telkomsel yang memiliki dampak positif peningkatan inklusi digital melalui penyediaan konektivitas yang lebih luas dan merata di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan peta jalan Telkom untuk menjadi yang terdepan di pasar B2B (business-to-business) dengan fokus pada penyediaan layanan digitalisasi pada ceruk pasar perusahaan dan lembaga, sementara Telkomsel akan fokus pada bisnis B2C (business-to-customer). Dengan integrasi ini, kepemilikan efektif Telkom di Telkomsel naik menjadi 69,9%, sementara Singtel menjadi 30,1%.
Kemitraan Indonesia dengan Singapura melalui Singtel, sambungnya juga tercatat pada pembangunan pusat data di Batam. Ini sejalan dengan proyeksi kebutuhan pusat data di Batam yang meningkat tajam dalam 10 tahun ke depan (2022-2031). Proyek yang ditargetkan mencapai kapasitas IT Load 51 Mega Watt pada tahun 2031 ini merupakan kerja sama Telkom melalui anak usahanya NeutraDC, bersama Singtel dan Medco Power.
“Proyek ini diharapkan mampu menarik minat perusahaan-perusahaan yang sebelumnya menaruh data di Singapura ke Batam, Indonesia,” kata Erick.
Indonesia kini juga tengah menjajaki kerjasama potensial dengan Singapura di sektor pariwisata berupa kapal pesiar dan kepelabuhanan dengan melibatkan PT Pelindo. Khususnya untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan kapal pesiar ke beberapa titik di Indonesia serta peluang kolaborasi terkait pengembangan dan pengoperasian marina di Benoa.
“Di samping Telkom dan Pelindo, terdapat beberapa BUMN lainnya yang memiliki aktivitas bisnis dan kerja sama di Negeri Singa seperti BNI, BTN dan Pertamina,” ucap Erick Thohir.
Mengenai energi baru dan terbarukan, Indonesia dan Singapura telah menandatangani MoU Bilateral pada tanggal 16 Maret 2023 dan tengah menjajaki kerja sama lebih jauh dalam pengembangan industri manufaktur energi terbarukan di Indonesia, termasuk panel surya dan Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS) untuk memasok energi terbarukan ke Indonesia.
Selain Singapura, papar Erick, BUMN juga menjalin kerjasama di Malaysia. Demi memenuhi kebutuhan energi nasional dan menjaga pasokan migas dari sisi hulu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menandatangani perjanjian jual beli dengan Shell untuk pengambilalihan hak partisipasi (PI) sebesar 35% di Blok Masela. Dalam proses akuisisi tersebut, PHE bekerja sama dengan Petronas melalui Petronas Masela Sdn. Bhd. (Petronas Masela). Adapun dari 35% PI yang dialihkan, PHE nantinya akan menggenggam kepemilikan PI sebesar 20% sementara Petronas Masela sebesar 15%.
Sementara itu, di Filipina, Adhi Karya berkolaborasi dengan PTPP sedang menggarap proyek North-South Commuter Railway senilai US$ 531 juta bekerjasama dengan Departemen Transportasi.
Erick menambahkan dengan kerja sama yang telah dilakukan ini artinya ada kepercayaan dari mitra baik lokal maupun global, ini tidak lepas dari perbaikan-perbaikan tata kelola perusahaan, mendorong inovasi dan memperkuat manajemen keuangan.
Perusahaan-perusahaan BUMN didorong melakukan ekspansi dengan fokus beberapa sektor strategis dari energi dan pertambangan ke pertanian, perkebunan, telekomunikasi, transportasi dan keuangan karena BUMN merupakan poros, baik dalam ekonomi maupun pembangunan di Indonesia.
“Adanya peran aktif BUMN dalam tingkat ASEAN-Indo Pacific diharapkan dapat membawa dampak positif bagi ekonomi nasional serta menjadi wujud konkret kerja sama bisnis antar negara anggota," jelas Erick.
Dalam rangka meningkatkan dialog dan kerja sama antar negara-negara ASEAN dan Indo-Pacific yang berkontribusi pada 65% pertumbuhan ekonomi dunia, ASEAN dibawah Keketuaan Indonesia untuk pertama kalinya akan menyelenggarakan ASEAN-Indo Pacific Forum (AIPF).
Digelar bersamaan dengan KTT ke-43 ASEAN dan KTT Asia Timur, AIPF: Implementation of the ASEAN Outlook on the Indo-Pacific sebagai flagship event KTT ke-43 ASEAN akan berlangsung selama dua hari, pada 5-6 September 2023 di Jakarta.
Dalam penyelenggaraannya, AIPF diharapkan dapat menjadi platform inklusif bagi sektor publik, BUMN, dan swasta dari negara anggota ASEAN dan mitra untuk terlibat dalam diskusi yang konstruktif, mengidentifikasi potensi proyek yang nyata, dan menghasilkan kerja sama yang konkret dalam mempromosikan kolaborasi di Indo Pasifik.
Sebagai informasi, AIPF mengusung tiga agenda prioritas dalam kerangka kerja sama ASEAN dan Indo Pasifik, yaitu infrastruktur hijau dan rantai pasok yang tangguh, transformasi digital dan ekonomi kreatif, serta pembiayaan yang berkelanjutan dan inovatif.
Sejumlah pemimpin negara, pimpinan organisasi dan perusahaan akan menjadi pembicara kunci di acara ini yang turut menghadirkan para investor dan pelaku industri di kawasan ASEAN dan Indo Pasifik.
