BRI Upayakan Digitalisasi Tanpa PHK
Digitalisasi membantu berbagai industri dalam mengakselerasi produktivitas kinerja perusahaan, termasuk perbankan. Dengan digitalisasi, efisiensi dihasilkan dari proses automasi yang mengurangi alokasi waktu dan sumber daya manusia.
Dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Selasa (30/1), Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso menjelaskan bahwa digitalisasi adalah cara perseroan untuk mengefisienkan sekaligus meningkatkan produktivitas pekerja. Hal itu disampaikannya saat menghadiri World Economic Forum 2024 di Davos, Swis, beberapa waktu lalu.
Menurut Sunarso, digitalisasi tidak selalu disertai dengan pengurangan jumlah karyawan. “Saya berusaha mati-matian untuk itu,” ujarnya. “Kami pastikan digitalisasi tidak harus menyebabkan PHK (pemutusan hubungan kerja), karena justru produktivitas pekerjanya yang ditingkatkan dengan tambahan alat atau tools.”
Untuk menjangkau nasabah dan menghasilkan inovasi produk dan layanan, BRI menjalankan strategi hybrid bank. Yakni, gabungan antara layanan fisik dan digital. Cara ini menerapkan digitalisasi proses bisnis internal, namun tetap dapat menjangkau nasabah sesuai karakteristik masyarakat lokal.
Sunarso mengungkapkan, hybrid bank dilakukan untuk menjangkau masyarakat Indonesia dengan beragam karakteristiknya. “Konsep tersebut memungkinkan jangkauan layanan nasabah semakin luas dengan memadukan keunggulan layanan fisik secara langsung dan secara digital,” imbuh dia.
Di samping itu, transformasi digital juga dilakukan melalui penciptaan BRISPOT. BRISPOT memangkas waktu pemrosesan kredit, dari dua minggu menjadi satu hari. Lalu, tersedia juga berbagai layanan perbankan melalui platform BRIAPI yang telah melayani ratusan partner. Produk-produk digital tersebut memudahkan nasabah dalam mengakses layanan keuangan BRI.
Ada pula BRIBRAIN yang merupakan “pusat otak digital” BRI. BRIBRAIN mengonsolidasikan kapabilitas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan analitik. Tujuannya, untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan, analisis risiko dan antipenipuan, penjaminan kredit, hingga automasi untuk layanan dan operasi cerdas.
Sistem rekomendasi AI yang dimiliki BRI diimplementasikan untuk memilih calon nasabah potensial berdasarkan data, seperti jumlah simpanan, portofolio pinjaman, demografi, dan lokasi. Dampaknya, AI mampu menumbuhkan tingkat konversi 60% dan meningkatkan kualitas akuisisi debitur sebesar 49%.
