Harga Emas Dunia Terus Melejit, Nyaris Tembus US$ 5.000 per Ons
Harga emas terus melejit, memecahkan rekor baru di level US$4.988,17 per ons pada perdagangan Jumat (23/1) waktu Amerika Serikat.
Berdasarkan data Reuters, harga emas di pasar spot ditutup di level US$ 4.982, setelah sempat mencetak rekor di level US$ 4.988,17. Harga perak juga ikut melesat di atas US$100 per ons untuk pertama kalinya.
Investor berbondong-bondong memindahkan dananya ke aset aman atau safe-haven di tengah gejolak geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga AS.
"Peran emas sebagai aset aman dan diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik yang tinggi menjadikannya kebutuhan dalam portofolio strategis. Ini lebih dari sekadar badai sempurna yang tidak berlangsung lama, ini adalah tanda perubahan mendasar di masa depan," kata Tai Wong, seorang investor logam.
Sejak awal tahun 2026, gesekan antara AS dan NATO terkait Greenland, kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve, dan ketidakpastian yang berkelanjutan mengenai tarif telah mendorong lonjakan permintaan terhadap aset-aset aman, termasuk emas.
Pembelian oleh bank sentral dan pergeseran yang lebih luas dari dolar juga mendukung kenaikan harga emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas seringkali menjadi pilihan favorit investor selama periode suku bunga rendah.
Harga emas menembus level US$3.000/oz dan US$4.000/oz untuk pertama kalinya tahun lalu pada bulan Maret dan Oktober, didorong oleh penurunan suku bunga AS dan konflik di seluruh dunia.
Commerzbank menyatakan dalam sebuah catatan bahwa mereka memperkirakan penurunan suku bunga AS akan meningkat akhir tahun ini setelah penunjukan ketua Fed yang baru, sebuah langkah yang seharusnya kembali mendorong harga emas.
