Fitch Beri Peringkat BBB untuk Rencana Obligasi RI Berdenominasi Euro dan Yuan

Ahmad Islamy
24 Februari 2026, 21:57
Obligasi
MAS Software
Ilustrasi obligasi atau surat utang negara (SUN).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, secara resmi memberikan peringkat BBB untuk rencana penerbitan surat utang atau obligasi luar negeri Pemerintah Indonesia dalam denominasi mata uang euro dan yuan (offshore). Pengumuman yang dirilis pada Selasa (24/2) itu menandai langkah strategis pemerintah dalam mendiversifikasi sumber pembiayaan negara di pasar modal global pada 2026.

Peringkat BBB yang diberikan pada instrumen utang baru itu selaras dengan peringkat gagal bayar penerbit mata uang asing jangka panjang atau long-term foreign-currency issuer default rating (IDR) Indonesia yang terakhir diumumkan Fitch hampir setahun lalu. Penyelarasan ini mencerminkan keyakinan Fitch bahwa surat utang dalam mata uang asing tersebut memiliki risiko gagal bayar yang rendah dan setara dengan kualitas kredit nasional yang telah dikonfirmasi pada tahun lalu.

Dalam laporan resminya, Fitch menekankan bahwa peringkat instrumen tersebut menjadi cerminan langsung dari profil risiko negara secara keseluruhan. Hal ini sekaligus menekankan konsistensi penilaian terhadap kredibilitas fiskal Indonesia.

"Peringkat obligasi ini sejalan dengan IDR mata uang asing jangka panjang Indonesia, yang telah kami afirmasi sebelumnya pada 11 Maret 2025," tulis Fitch dalam rilis resminya yang dipantau di Jakarta, Selasa (24/2).

Fitch juga menyoroti indikator environmental, social, and governance (ESG) sebagai elemen krusial dalam penilaian ini, khususnya pada aspek tata kelola. Indonesia tercatat memiliki skor relevansi ESG sebesar 5 poin untuk stabilitas politik dan penegakan hukum, yang mencerminkan sejarah transisi politik yang damai namun tetap memberikan catatan pada kapasitas institusional yang masih berkembang.

Lembaga itu juga memberikan peringatan mengenai faktor-faktor yang dapat memicu penurunan peringkat Indonesia di masa depan (downgrade), terutama terkait kedisiplinan anggaran. Fitch menekankan bahwa lonjakan beban utang yang tidak terkendali atau defisit fiskal yang membengkak secara material dapat memberikan tekanan negatif bagi peringkat Indonesia di pasar global.

Di sisi lain, Fitch membuka peluang untuk kenaikan peringkat (upgrade) jika pemerintah mampu memperkuat rasio pendapatan negara secara berkelanjutan melalui perbaikan kepatuhan pajak. "Peningkatan nyata pada rasio pendapatan pemerintah yang lebih dekat dengan level negara sebayanya di kategori BBB akan memperkuat fleksibilitas keuangan publik," tulis Fitch menambahkan dalam analisisnya.

Sebagai penutup, Fitch menegaskan prospek stabil pada peringkat ini sangat bergantung pada kemampuan Indonesia dalam memitigasi kerentanan eksternal. Penguatan cadangan devisa serta pengurangan ketergantungan pada volatilitas harga komoditas menjadi syarat utama bagi Indonesia jika ingin meraih peningkatan status kredit ke level yang lebih tinggi di masa depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...