Anomali Harga Emas di Tengah Konflik AS-Iran, Kapan Waktu Investor Koleksi Lagi?

Karunia Putri
8 April 2026, 07:27
Harga Emas Hari ini 12 September 2025
Unsplash
Harga Emas Hari ini 12 September 2025
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga emas di pasar spot turun 6,63% dalam satu bulan terakhir di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran. Kondisi ini berlawanan dengan pola yang biasanya terjadi, di mana emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) biasanya menguat saat ketidakpastian global meningkat.

Berdasarkan data Gold Price, pada perdagangan Rabu (8/4), harga emas spot berada di level US$ 4.830 per troy ons. Meski begitu, secara bulanan, harganya telah turun dari titik tertinggi US$ 5.500 pada akhir Januari 2026. Meski begitu bila melihat trend perdagangan sepekan potensi emas naik lagi sangat terbuka. 

Direktur PT Trijaya Pratama Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan penyebab turunnya harga emas serta prospek harga logam mulia ini kedepannya. Menurutnya, penurunan harga logam mulia tersebut dipicu oleh naiknya harga minyak dan dolar AS. Harga minyak mentah khususnya brent crude saat ini berada di kisaran US$ 116 per barel, sementara indeks dolar terus menguat.

Dia menyebutkan, penguatan dolar dan lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global sehingga bank sentral diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan.

“Kalau inflasi ini terjadi, maka Bank Sentral Global kemungkinan besar di bulan April akan menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim kepada Katadata.

Kenaikan suku bunga tersebut mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman, sehingga menekan harga emas. Namun, Ibrahim menilai kondisi ini bersifat sementara.

Ia memperkirakan harga emas berpotensi kembali menguat apabila konflik meningkat menjadi perang darat atau terjadi perubahan kendali di Selat Hormuz. Dalam skenario tersebut, harga minyak berpeluang turun dan emas kembali diburu sebagai safe haven.

“Jadi tinggal menunggu waktu saja. Saya masih optimis bahwa harga emas dunia itu akan tembus level US$ 6.000. Tinggal tunggu waktu saja,” kata Ibrahim.

Para pelaku pasar berpikir bank sentral Amerika Serikat, The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada 2026, sehingga meningkatkan daya tarik investasi yang menghasilkan imbal hasil tinggi seperti obligasi, dan mengurangi daya tarik emas. 

The Fed baru saja mempertahankan suku bunga acuan untuk pertemuan kedua berturut-turut. CME FedWatch menilai, para pedagang berspekulasi tidak akan ada penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini. 

Harga emas sempat melonjak beberapa waktu lalu ketika The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Untuk beberapa bulan ke depan, suku bunga The Fed diperkirakan tetap stabil, yang meningkatkan peluang biaya untuk memegang emas.

Kapan Investor Baiknya Mengoleksi Kembali Emas?

Di tengah penurunan harga emas, Ibrahim menilai kondisi saat ini menjadi momentum bagi investor untuk mengoleksi emas. Pasalnya, harga emas telah turun signifikan dari level tertingginya di kisaran US$ 5.600 per troy ons pada akhir Januari lalu.

Ia menyarankan investor mulai melakukan akumulasi saat harga emas berada di bawah Rp 2,8 juta per gram. Dengan level tersebut, diperkirakan minat beli masyarakat diperkirakan akan meningkat.

Saat ini, harga emas Logam Mulia tercatat sekitar Rp 2,81 juta per gram, sementara harga emas ukuran 10 gram berada di kisaran Rp 27,63 juta.

Ibrahim menambahkan, pelemahan harga emas pada konflik kali ini juga dipengaruhi karakter perang yang berbeda. Menurutnya, konflik saat ini lebih bersifat teknologi dan tidak melibatkan perang darat secara langsung.

“Kemungkinan besar, nanti pada saat terjadi perang darat, kemudian Selat Hormuz dikuasai oleh Amerika CS, kemungkinan besar harga minyak ini akan turun dan emas sebagai safe haven sebagian yang tinggi akan terbang,” ujarnya.

Selain itu, isu penutupan Selat Hormuz turut menjadi faktor penting. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global, sehingga gangguan pasokan dapat mendorong lonjakan harga minyak, meningkatkan inflasi, dan memicu respons pengetatan kebijakan moneter. Kondisi tersebut pada akhirnya memperkuat dolar AS dan menekan harga emas dalam jangka pendek.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...