Harga Kembali Melonjak, Intip Prospek Investasi Emas hingga Akhir Tahun
Harga emas dunia melonjak 1,15% atau 46,31 poin menjadi US$ 4.118 per troy ounce pada perdagangan Rabu (22/7) pukul 16.25 WIB. Lonjakan harga logam mulia itu terjadi karena tiga penyebab utama.
Pertama, adanya aksi borong investor terhadap aset safe haven. Berikutnya, pasar juga mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Sementara alasan yang ketiga yaitu investor juga bersiap menghadapi rapat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), terkait arah kebijakan suku bunga yang akan berlangsung pekan depan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan ruang kenaikan harga emas hingga akhir tahun masih terbuka, namun cenderung terbatas. Ia memproyeksikan harga emas mencapai sekitar US$ 4.241 per troy ounce pada Agustus 2026 dan bergerak di kisaran US$ 4.400 per troy ounce pada akhir tahun.
"Kalau akhir tahun masih ada kecenderungan naik, tetapi kenaikannya kemungkinan hanya di kisaran US$ 4.400-an," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Rabu (22/7).
Menurut dia, pergerakan emas masih dibayangi tingginya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama antara AS dan Iran. Ketegangan tersebut membuat harga minyak dunia kembali bergerak volatil sehingga memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga AS.
Ia menjelaskan, reli harga emas dalam beberapa pekan terakhir sempat dipicu oleh melandainya inflasi AS yang memunculkan harapan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga minyak sehingga memicu kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat.
Selain itu, ancaman kebijakan tarif baru dari Presiden AS Donald Trump dan potensi gangguan pasokan minyak akibat ancaman blokade Selat Hormuz turut meningkatkan ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, Ibrahim menilai permintaan emas dari bank-bank sentral global juga masih menjadi penopang harga. Pembelian emas terus dilakukan ketika harga terkoreksi sehingga menjaga permintaan tetap kuat.
Ia menuturkan, apabila harga minyak kembali mendekati US$ 100 per barel, tekanan inflasi di AS berpotensi meningkat. Kondisi itu dapat mendorong The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Agustus atau September yang berpotensi membatasi kenaikan harga emas.
Sementara itu, harga emas di Indonesia dinilai masih bertahan tinggi karena pelemahan nilai tukar rupiah. Menurut Ibrahim, depresiasi rupiah membuat harga emas domestik tetap mahal meski pergerakan harga emas dunia tidak terlalu signifikan.
Senada dengan Ibrahim, Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa memperkirakan harga emas masih berpotensi menguat hingga akhir tahun meski pergerakannya akan tetap volatil.
Menurut Amru, kenaikan harga emas dalam dua pekan terakhir ditopang oleh kombinasi sejumlah sentimen, mulai dari meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik, ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi Pemerintah AS (US Treasury), hingga fluktuasi harga minyak dunia yang memengaruhi ekspektasi inflasi.
"Apabila ketidakpastian global meningkat atau ekspektasi penurunan suku bunga The Fed menguat, harga emas berpotensi melanjutkan penguatannya," ujar Amru.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama dapat membatasi kenaikan harga emas.
Rekomendasi Investasi Emas di Tengah Ketidakpastian
Meskipun prospek harga emas masih bergerak di zona positif, Ibrahim mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan transaksi jangka pendek mengingat volatilitas pasar masih tinggi.
Ia menyarankan investor mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah sebelum mengambil keputusan investasi. Dalam kondisi saat ini, strategi akumulasi dinilai lebih tepat dibandingkan menjual kepemilikan emas.
Selain itu, Ibrahim menilai selisih harga jual kembali (buyback) emas yang masih sekitar Rp 300 ribu membuat investor kurang diuntungkan apabila menjual emas saat ini.
"Buyback ini cukup besar sehingga jangan melakukan transaksi jangka pendek. Harus melakukan transaksi jangka menengah dan jangka panjang," ujar Ibrahim.
