Menjaga Asa dari Sepasang Mata

Nur Hana Putri Nabila
31 Juli 2026, 05:09
BPJS Kesehatan
ANTARA FOTO/Fauzan/aww.
Pegawai melayani peserta BPJS Kesehatan
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sebelas tahun hidup dengan diabetes melitus bukan perjalanan mudah bagi Asan (58). Sejak terdiagnosis pada 2015, diabetes perlahan merenggut penglihatannya. Dunia yang semula tampak jelas mulai mengabur hingga dokter mendiagnosis Asan mengalami katarak akibat komplikasi diabetes.

Setahun lamanya ia menjalani masa suram. Hari-harinya menjadi makin berat lantaran harus beraktivitas dengan bantuan kursi roda. Tenaga Asan nyaris hilang dan sama sekali tak bisa berjalan. 

Kala itu jarak dari kamar tidur ke kamar mandi terasa seperti perjalanan terjauh. Kakinya sempat sama sekali tak bisa menopang tubuhnya sendiri. Setiap hendak buang air, ia harus mengesot, menyeret tubuhnya di lantai. Sementara istrinya, Sri Haryanti (54), selalu mengawasi, siap menangkap jika sewaktu-waktu tubuh suaminya limbung. 

“Sudah meraba-raba aja jalannya,” kata Asan bercerita tentang sakit ia pernah ia derita kepada Katadata.co.id akhir Juli 2026. 

Sebelum sakit, Asan bekerja sebagai satpam, berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Ia pernah menjaga apartemen dan hotel.

Kerja malam membuatnya harus terjaga sepanjang shift. Asan mengandalkan minuman berenergi demi kuat begadang. Kebiasaan itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga tubuhnya menyerah dan perlahan digerogoti sakit hingga berat badannya turun drastis. 

Melihat perubahan Asan, Sri resah. Ia pun sempat membawa Asan berobat ke beberapa klinik. "Sudah seperti tengkorak," ujar Sri.

Ia mengira yang dialami Asan adalah sakit biasa. Tapi diagnosis hari itu membuatnya tercekat. Dokter menyatakan Asan mengidap diabetes usai kadar gula darahnya mencapai 400 mg/dL, jauh dari batas normal. Dokter lalu meresepkan obat yang saat itu harus ditebus sekitar Rp 400 ribu.

Sri menebus obat itu dan memberikan pada Asan. Namun ternyata kesehatannya tak kunjung pulih. Sri kemudian membawa suaminya ke rumah sakit.

Berbekal jaminan kesehatan dari kepesertaan di BPJS Kesehatan, ia membawa Asan ke Puskesmas. Dari situlah perjalanan untuk penyembuhan dimulai. Asan kemudian dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.

“Saya panik lihat kondisinya, sudah berobat enggak ada perubahan juga, langsung Bapak dibawa (ke RS besar), pakai BPJS Kesehatan,” ucap Sri. 

Sri tak pernah menyangka keputusan mendaftarkan keluarganya ke BPJS Kesehatan bertahun-tahun lalu menjadi penyelamat saat Asan jatuh sakit.  Keputusan untuk ikut BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) ia ambil setelah mendapat sosialisasi ketika ia aktif sebagai kader PKK  di lingkungan tempat tinggalnya. 

“Imbauan saat itu ‘ayo Ibu-Ibu kita kan warga negara Indonesia harus punya BPJS Kesehatan’, akhirnya saya ikut daftar,” kata Sri. 

Tak sampai tiga bulan, kartu BPJS Kesehatan terbit. Sejak saat itu kepesertaan mereka terus aktif dan sangat membantu membiayai pengobatan Asan. Harapan Sri pun sederhana, agar BPJS Kesehatan terus berjalan.

Saat Dunia Mulai Gelap

Namun, perjalanan Asan belum selesai. Diabetes yang telah lama diidapnya mulai menyerang organ lain. Penyakit itu membuat penglihatannya semakin kabur. Pada titik terparah, Asan tak mampu melihat.

"Gelap, benar-benar enggak kelihatan," kenang Sri.

Hasil pemeriksaan dokter membawa secercah harapan. Katarak yang dialami Asan bisa ditangani melalui operasi. Mata kanannya dipulihkan lebih dulu, disusul mata kiri dua bulan kemudian. Yang mereka keluarkan hanyalah ongkos menuju rumah sakit. Ia sangat bersyukur seluruhnya ditanggung BPJS Kesehatan.

“Saya yakin bismillah, udah niat bapak bisa melihat, dioperasi aja, itu kacamatanya juga di cover, obat, terapi juga gratis semua, biasanya dua mata katarak makan biaya sekitar Rp 10 juta,” ucap Sri. 

Namun usaha Sri dan Asan demi mendapatkan perawatan tak selalu mudah. Setiap kali jadwal kontrol tiba, perjuangan mereka dimulai sejak sebelum matahari terbit.

Setiap kontrol, mereka harus berangkat sejak dini demi mendapatkan antrean. Asan menjalani kontrol rutin sebulan sekali atau dua kali jika kadar gula darahnya meningkat.

Dulu, satu kali kontrol bisa menghabiskan waktu seharian sehingga Sri selalu membawa bekal dari rumah untuk menghemat pengeluaran. Sekarang ia mengaku prosesnya jauh lebih cepat. Setelah pemeriksaan, mereka biasanya sudah pulang sebelum siang. Sementara obat dapat dikirim melalui kurir dengan ongkos sekitar Rp 40.000, tergantung jarak.

 

Berbagai macam jenis obat resep dokter

Obat-obatan yang dikonsumsi Asan (58) selama 11 tahun. Mulai dari obat sesak, bengkak, gula, kebas, lambung hingga wajib suntik insulin. (Katadata/Nur Hana Putri Nabila).
 

Lebih dari satu dekade obat-obatan menjadi bagian dari keseharian Asan. Dulu ia harus menyuntik insulin empat kali sehari, kini cukup dua kali, pagi dan malam. Seluruh kebutuhan insulin itu ditanggung BPJS Kesehatan, begitu pula sepuluh obat lain yang harus diminumnya setiap hari.

Di tengah rutinitas itu, Sri tak pernah absen menyiapkan makanan dan air minum sebelum berangkat kerja. Semua diletakkannya dalam jangkauan tangan Asan.

Ada satu momen yang hingga kini masih diingat Sri. Saat itu, kadar gula darah Asan melonjak ke angka 1.000. Menurut Sri, dengan kadar gula setinggi itu, biasanya sudah tidak sadarkan diri atau harus dipapah menggunakan kursi roda. Namun, Asan masih mampu berjalan sendiri ke toilet.

"1.000 (gula) pernah tiga kali, Allah pasti kasih sehat panjang umur, dokter juga sampai heran, jangan-jangan bapak punya pegangan," ucap Sri.

Sri mengatakan kondisi Asan biasanya mulai menurun saat tubuhnya lemas dan kakinya mulai sakit. Alhasil Asan tak bisa berbuat banyak dan harus segera dibawa ke RS.

Meski begitu, Sri bersyukur Asan kini bisa berjalan. Baginya, itu menjadi tanda suaminya masih diberi umur panjang. Selama 11 tahun, Sri pun mengandalkan satu hal untuk menopang pengobatan Asan, yakni BPJS Kesehatan.

Menjaga Asa Jutaan Peserta

Di balik kisah Sri dan Asan, kebutuhan akan layanan BPJS Kesehatan terus meningkat. Jumlah penyandang diabetes di Indonesia dalam lima tahun terakhir sudah mencapai 4,55 juta orang pada 2025. 

Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan membayarkan klaim untuk penanganan diabetes sebesar Rp 15,69 triliun. Angka itu melonjak 135,2% dibandingkan Rp 6,67 triliun pada 2021.

Trend Klaim BPJS Kesehatan

Trend Klaim BPJS Kesehatan (BPJS Kesehatan/ Diolah)

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah mengatakan pembiayaan itu menjadi komitmen program JKN demi menjamin pelayanan bagi peserta penyandang diabetes. BPJS menerapkan prinsip gotong royong, peserta dapat mengakses pemeriksaan, konsultasi, pengobatan, hingga layanan rujukan sesuai indikasi medis.

Selain pengobatan, BPJS Kesehatan mendorong pengelolaan penyakit sejak dini melalui skrining riwayat kesehatan, prolanis, dan Program Rujuk Balik (PRB) bagi peserta dengan kondisi stabil. Komitmen ini juga mencakup peserta PBI yang iurannya dibayarkan pemerintah, selama kepesertaan JKN aktif.

“Setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh perlindungan kesehatan,” ucap Rizzky kepada Katadata.co.id, Selasa (28/7).

Show more

 
 

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, menilai pemerintah harus menjamin masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan yang layak, beserta pembiayaannya.

Ia mengatakan amanat tersebut tertuang dalam Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945, dan diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang mengusung transformasi sistem pembiayaan kesehatan.

Selain itu, Timboel mendorong pemerintah menaikan kuota PBI JKN sesuai target dalam Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2023. Ia juga meminta besaran iuran PBI yang ditanggung penuh pemerintah dinaikkan dari Rp 42.000 menjadi Rp 70.000 per peserta. 

“Ini merupakan tanggung jawab pemerintah karena biaya kesehatan mahal, karena rakyat miskin kalau dia nggak punya JKN, tidak akan bisa berobat,” kata Timboel.

Menurut Timboel, pelu ada kenaikan iuran yang ditanggung pemerintah agar pendapatan JKN cukup membiayai layanan kesehatan yang diberikan fasilitas kesehatan. Langkah itu penting demi memastikan peserta memperoleh akses kesehatan yang layak sesuai amanat konstitusi.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...