Kata Suahasil soal Proses Ambil Alih Utang Whoosh yang Sempat Ditangani Purbaya
Proses handover atau pengambilalihan tanggung jawab penanganan utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sedianya bakal memasuki babak baru dalam waktu dekat. Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyatakan akan memeriksa kembali proses itu.
Proses tersebut sebelumnya berada di bawah penanganan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan dijadwalkan memasuki tahap pengambilalihan pada Selasa (15/9) besok.
Saat ditanya wartawan, Suahasil enggan memberikan jawaban pasti mengenai pengalihan penanganan utang perusahaan operator Whoosh itu. Ia hanya menyatakan akan mengecek lebih dulu perkembangan proses tersebut dalam waktu dekat.
"Saya cek di kantor," kata Suahasil seusai dilantik Prabowo sebegai menkeu di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (14/9).
Pemerintah sebelumnya menyiapkan pengambilalihan penanganan utang KCIC oleh Kemenkeu melalui Special Mission Vehicle (SMV).
Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani mengatakan, pergantian menteri keuangan tidak akan menghambat proses pengalihan penanganan KCIC. Dia mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Suahasil untuk melanjutkan langlah pengalihan utang tersebut.
Rosan, yang juga menjabat menteri investasi dan hilirisasi itu menuturkan, Danantara menargetkan proses tersebut dapat diselesaikan pada pekan ini. "Kami sudah janji bertemu Kamis atau Jumat pekan ini untuk menindaklanjuti beberapa hal yang tentunya berhubungan baik di Danantara maupun juga di Kementerian Investasi," kata Rosan pada kesempatan serupa.
"Ini tim langsung tetap bekerja, mudah-mudahan minggu ini bisa beres semua."
Menkeu sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, kemungkinan SMV yang akan mengelola kewajiban Whoosh yakni Indonesia Investment Authority (INA) dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Purbaya menuturkan, setelah direstrukturisasi, utang Whoosh meiliki tenor pembayaran 80 tahun. Cicilan per tahunnya berjumlah Rp 1 triliun atau sedikit di bawahnya.
Dia pun memastikan ketersediaan dana yang dimiliki SMV untuk membayar utang tersebut. Purbaya menggambarkan, keuntungan yang bisa diperoleh satu SMV sudah dapat menutupi kewajiban pembayaran per tahun utang Whoosh.
“Ada (anggarannya) kan. Kalau kita lihat, salah satu perusahaan, yang salah satu yang BUMN yang di bawah Kementerian Keuangan, yang kita yang agak kecil saja untungnya setahun Rp 3 triliun sampai Rp 4 triliun. Ya, sedikit kan bisa. Tambah satu lagi ada yang untung Rp 6 triliun sampai Rp 7 triliun. Jadi cukuplah, enggak ada masalah,” kata Purbaya, ditemui di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).
