Wall Street Bergejolak Tersengat Harga Minyak dan Imbal Hasil US Treasury Naik

Nur Hana Putri Nabila
21 September 2026, 05:53
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Antara
Ilustrasi - Bursa Wall Street. ANTARA/Reuters/Mike Segar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (18/9) setelah investor mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan tingginya harga minyak. Pasar juga bergejolak usai Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Dow Jones turun 95,40 poin atau 0,18% ke level 51.682,64. Sebaliknya, S&P 500 naik 0,17% ke 7.650,50 dan Nasdaq Composite menguat 0,39% ke 26.522,55.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan pasar saham. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat kembali menembus 5% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Juli 2007 pada awal pekan. Imbal hasil tersebut terakhir naik hampir 6 basis poin menjadi 5,006%.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS berakhir relatif stabil sepanjang pekan, tetapi masih bertahan di atas US$100 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 1,58% pada Jumat dan ditutup di US$100,30 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka Brent melemah 0,91% menjadi US$103,87 per barel.

Sepanjang pekan lalu, kinerja indeks utama Wall Street bergerak bervariasi. Dow Jones turun 1,7% sekaligus memperpanjang tren negatif menjadi tiga pekan beruntun. Penurunan itu menjadi yang terdalam sejak Maret.

S&P 500 juga terkoreksi 0,1% sepanjang pekan. Sementara itu, Nasdaq Composite menjadi satu-satunya indeks utama yang mencatat kenaikan dengan penguatan 0,7%.

Adapun Wall Street sempat menguat pada Kamis (17/9), sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin dan mengisyaratkan kemungkinan satu kali kenaikan tambahan hingga akhir tahun. Keputusan itu sebelumnya menekan indeks-indeks utama pada perdagangan Rabu (16/9).

Namun, investor kembali memburu saham teknologi pada Kamis (17/9). Pergerakan itu menunjukkan perhatian pasar masih melihat prospek kecerdasan buatan (AI) yang dinilai dapat menopang pertumbuhan laba perusahaan. Meskipun lingkungan suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama.

“Beberapa ketidakpastian telah teratasi pekan ini ketika The Fed menaikkan suku bunga,” kata Scott Welch, kepala investasi di Certuity dikutip CNBC International, Senin (21/9). 

Namun, Welch menilai kenaikan suku bunga terbaru bukan langkah satu kali. Ia memperkirakan siklus kenaikan suku bunga baru saja dimulai dan berpotensi menekan kinerja pasar saham dalam beberapa bulan ke depan.

“Entah pada Oktober atau setelah pemilu, saya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi pada 2026 dan kemungkinan satu atau dua kali lagi pada 2027,” ujar Welch.

Dengan prospek itu, Welch memperkirakan adanya tekanan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS terus berlanjut. Ia juga menilai harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

“Meskipun saya tidak bersikap pesimis terhadap pasar, saya rasa kita sedang berada dalam lingkungan yang bergerak lambat hingga akhir tahun ini,” tambah kepala investasi tersebut.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...