Membawa Rasa Tenang Saat Menyeberang ke Negeri Orang 

Ira Guslina Sufa
11 Oktober 2026, 23:28
Asuransi
ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Karyawan kantor cabang Asuransi Astra regional Kediri berbincang diantara kendaraan operasional Garda Siaga di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (14/11/2019). Asuransi Astra memperluas jaringan dengan membuka kantor cabang baru di sejumlah daerah sekaligus meluncurkan aplikasi Garda Mall dengan fitur terbaru yang dapat memberikan layanan pembelian berbagai produk otomotif, produk keuangan Astra Financial, hingga jual beli mobil bekas.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ada hal berbeda yang disiapkan Nana (41 tahun) sebelum berangkat ke luar negeri pada Agustus lalu. Kali ini, ia tidak hanya akan meninggalkan Indonesia selama dua atau tiga hari, seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya. Ia harus tinggal hampir sebulan penuh.

Durasi perjalanan yang lebih panjang membuat Nana berpikir ulang tentang persiapan yang perlu dibawa. Di antara koper, pakaian, dan berbagai perlengkapan perjalanan, ada satu hal yang kali ini tidak ingin ia lewatkan yaitu asuransi perjalanan.

“Karena cukup lama, maka asuransi perjalanan yang dipilih harus mengcover potensi risiko,” ujar Nana mengenang persiapannya saat bercerita dengan Katadata, Kamis (8/10). 

Bagi Nana, membeli asuransi perjalanan terpisah dari pemesanan tiket merupakan pengalaman baru. Sebelumnya, ia biasanya hanya mengandalkan perlindungan yang sudah melekat pada pembelian karcis perjalanan. Namun, perjalanan dengan durasi panjang membuat ia merasa perlu menyiapkan perlindungan tersendiri.

Persoalannya, ia belum memiliki pengalaman memilih produk asuransi perjalanan. Ia tidak tahu persis program mana yang sesuai dengan kebutuhan, manfaat apa yang perlu diprioritaskan, maupun bagaimana membandingkan pilihan yang tersedia.

Di tengah pencarian itu, informasi tentang Garda Trip, produk asuransi perjalanan dari Asuransi Astra, muncul di linimasa Instagram miliknya. Nana pun mulai mempertimbangkan produk tersebut. Reputasi perusahaan yang berada di bawah Grup Astra dan penawaran perlindungan yang dinilainya menarik ikut memengaruhi keputusan saat itu.

“Saya bahkan bisa dapat harga paket yang jauh lebih murah tetapi dengan banyak manfaat,” kata Nana bercerita. Saat itu, ia juga memperoleh potongan harga melalui promosi menjelang Hari Kemerdekaan.

Keputusan membeli asuransi perjalanan itu kemudian terasa berarti ketika Nana berada jauh di negeri orang. Di tengah aktivitasnya, ia sempat jatuh sakit dan merasa tidak enak badan. Kondisinya memang tidak sampai berat, tetapi berada jauh dari rumah membuatnya perlu memikirkan langkah yang harus dilakukan jika sakitnya memburuk.

Ia mulai mencari informasi tentang kemungkinan berobat ke klinik atau rumah sakit terdekat. Ia kemudian menghubungi layanan pelanggan secara daring untuk menanyakan bagaimana memanfaatkan perlindungan asuransi perjalanan jika membutuhkan pengobatan di negara tujuan.

Menurut Nana respons yang diterimanya cukup cepat. Ia memperoleh penjelasan mengenai langkah yang perlu dilakukan apabila membutuhkan penanganan medis di rumah sakit. Untungnya, sakit yang ia rasakan saat itu tidak sampai membuat ia harus mendapat penanganan medis lanjutan. 

“Setidaknya saya tenang karena punya gambaran apa yang harus dilakukan bila hal sulit terjadi,” ujarnya.

Nana tidak bercerita tentang klaim besar atau pengalaman menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, dalam situasi ketika kondisi tubuh tiba-tiba menurun di negeri orang, mengetahui ke mana harus bertanya dan apa yang perlu dilakukan menjadi bekal tersendiri. 

Dari Kebutuhan Menjadi Kebiasaan

Nana bukan satu-satunya pelanggan yang mempertimbangkan perlindungan perjalanan melalui Garda Trip. Dwi Wulandari, misalnya, telah menggunakan produk asuransi perjalanan tersebut sejak 2022.

Berbeda dengan Nana yang mulai mencari perlindungan karena akan bepergian lebih lama, Dwi mengenal Garda Trip setelah mendapat informasi dari rekan-rekannya mengenai manfaat produk tersebut. Pengalaman itu kemudian membuatnya kembali menggunakan layanan yang sama untuk perjalanan-perjalanan berikutnya.

Bagi Dwi, kemudahan menjadi salah satu alasan penting. Proses digital memungkinkan pembelian dilakukan melalui telepon genggam tanpa harus melalui prosedur yang menurutnya merepotkan. Pilihan paket yang beragam juga memberinya keleluasaan untuk menyesuaikan perlindungan dengan kebutuhan perjalanan.

“Yang paling penting, karena mudah mengaksesnya, alias enggak ribet, cukup lewat digital atau hape," ujar Dwi. Selain itu ia juga tertarik dengan cakupan pertanggungan yang disediakan. "Polisnya juga terjangkau,” ujar Dwi.

Kisah Nana dan Dwi memang tak sama. Nana mencari perlindungan karena akan bepergian lebih lama. Sedangkan Dwi kembali memilih Garda Trip karena kemudahan akses dan pengalaman sebelumnya.

Keduanya juga menunjukkan peran kanal digital dalam mempertemukan konsumen dengan produk perlindungan. Informasi yang ditemukan di media sosial atau diperoleh melalui orang terdekat dapat menjadi awal keputusan membeli. Namun, riset yang dilakukan perusahaan asuransi Igloo memperlihatkan urusan asuransi perjalanan masih sering menjadi daftar akhir dari persiapan perjalanan. 

Berdasarkan data transaksi di platform igloo.co.id yang dirilis Agustus lalu, sepanjang 2025 pembelian asuransi perjalanan di Indonesia masih kerap dilakukan mendekati waktu keberangkatan. Median jarak antara penerimaan penawaran harga dan waktu keberangkatan tercatat hanya dua hari. 

Sebanyak 67% pelanggan membeli asuransi perjalanan dalam kurun waktu sepekan sebelum berangkat, sedangkan 30% melakukan pembelian tepat pada hari keberangkatan. Untuk perjalanan domestik, pembelian rata-rata dilakukan satu hari sebelum keberangkatan. 

Untuk perjalanan internasional, pembelian asuransi rata-rata dilakukan enam hari sebelum keberangkatan. Co-Founder dan CEO Igloo Raunak Mehta mengatakan pola tersebut menunjukkan bahwa perlindungan perjalanan belum selalu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.

“Pembelian asuransi perjalanan di saat-saat terakhir menunjukkan bahwa masyarakat belum menjadikan perlindungan perjalanan sebagai bagian dari perencanaan perjalanan," kata Raunak dalam pernyataan resmi. 

Menurut laporan itu, wisatawan sering kali baru memutuskan membeli asuransi ketika ada hal yang mengingatkan mereka akan kebutuhan perlindungan. Bahkan tak jarang pengguna belum menentukan pilihan pada malam sebelum keberangkatan atau tepat pada hari perjalanan.

Laporan Igloo juga menunjukkan bahwa perlindungan medis menjadi prioritas utama pelanggan. Sebanyak 92% pelanggan memilih perlindungan medis sebagai manfaat yang paling diutamakan. Perlindungan atas kematian akibat kecelakaan dipilih oleh 62% pelanggan, disusul keterlambatan perjalanan sebesar 61%, kehilangan barang pribadi 60%, dan keterlambatan bagasi 54%.

Angka tersebut berasal dari transaksi di platform Igloo sehingga tidak serta-merta mewakili seluruh konsumen asuransi perjalanan di Indonesia. Namun, temuan itu memberikan gambaran tentang risiko yang mendapat perhatian ketika konsumen memutuskan membeli perlindungan.

Data asuransi perjalanan

Data asuransi perjalanan (igloo.co.id)

Risiko yang Tak Selalu Terlihat

Head PR, Marcomm Event Asuransi Astra Laurentius Iwan Pranoto mengatakan, kebutuhan perlindungan perjalanan kembali relevan seiring meningkatnya aktivitas perjalanan masyarakat setelah pandemi. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 1,2 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025. 

Aktivitas perjalanan yang semakin beragam, menurut Iwan, membuat masyarakat perlu memperhatikan risiko yang mungkin muncul, bukan hanya mempersiapkan biaya dan jadwal keberangkatan. Selain itu Iwan mengatakan risiko perjalanan tidak terbatas pada kecelakaan. 

Gangguan dapat terjadi sebelum keberangkatan, ketika penerbangan tertunda, saat transit, maupun ketika seseorang jatuh sakit di tempat tujuan. Perjalanan yang melibatkan beberapa kota atau penerbangan lanjutan juga dapat memperbesar konsekuensi finansial ketika salah satu jadwal terganggu.

"Perubahan tersebut membuat jenis risiko yang perlu diantisipasi semakin beragam," ujar Iwan dalam penjelasan kepada Katadata.

Berdasarkan pengalaman penanganan klaim Garda Trip, keterlambatan perjalanan serta kehilangan atau kerusakan bagasi termasuk risiko yang paling sering diajukan pelanggan. Namun, jika dilihat dari nilai klaim, biaya medis akibat sakit atau kecelakaan selama perjalanan justru memberikan kontribusi terbesar.

Perbedaan itu memperlihatkan bahwa risiko yang paling sering terjadi belum tentu menimbulkan kerugian finansial paling besar. Iwan mendorong masyarakat mempertimbangkan perlindungan perjalanan sejak tahap perencanaan, bukan hanya ketika waktu keberangkatan sudah dekat.

“Bukan sekadar mengajak masyarakat membeli asuransi perjalanan, tetapi membantu mereka memahami risiko, manfaat perlindungan, serta batasannya agar dapat mempersiapkan perjalanan dengan lebih baik,” ujarnya.

Melalui Garda Trip, Asuransi Astra menyediakan pilihan manfaat perlindungan perjalanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketentuan polis. Perusahaan juga mendorong pelanggan memahami batas pertanggungan dan pengecualian yang berlaku sebelum membeli produk. Pemahaman tersebut penting agar konsumen mengetahui risiko apa yang dijamin dan bagaimana menggunakan perlindungan ketika menghadapi kejadian yang tercakup dalam polis.

Memahami Sebelum Membutuhkan

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap asuransi perjalanan bukan pekerjaan yang selesai hanya dengan memperluas akses pembelian. Kemudahan menemukan produk perlu diikuti informasi yang jelas mengenai manfaat, biaya, prosedur penggunaan, dan batas perlindungannya.

Iwan menilai tantangan perluasan asuransi perjalanan berkaitan dengan literasi, harga, distribusi, dan desain produk. Masyarakat perlu memahami bukan hanya apa itu asuransi perjalanan, melainkan juga kapan perlindungan dibutuhkan dan bagaimana memanfaatkannya ketika risiko terjadi.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2026 menunjukkan indeks literasi perasuransian sebesar 42,84%, sedangkan indeks inklusinya sebesar 29,55%. Data tersebut mencakup sektor perasuransian secara keseluruhan, bukan khusus asuransi perjalanan. Meski demikian, angka itu menunjukkan masih adanya ruang untuk memperluas pemahaman dan penggunaan layanan asuransi.

OJK mencatat sebagian konsumen masih memandang asuransi sebagai biaya tambahan. Perlindungan baru dipertimbangkan ketika menjadi persyaratan pengajuan visa atau ditawarkan bersamaan dengan pembelian tiket. Di sisi lain, konsumen juga perlu memperoleh informasi yang mudah dipahami agar dapat membandingkan manfaat dengan premi yang dibayarkan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono juga menekankan pentingnya menyesuaikan produk asuransi dengan kebutuhan masyarakat. Menurut dia, prospek asuransi perjalanan hingga akhir 2026 masih terbuka seiring meningkatnya aktivitas perjalanan domestik dan internasional.

“Untuk mendorong pertumbuhannya, produk perlu semakin relevan, sederhana, terjangkau, dan mudah diakses oleh masyarakat, termasuk melalui kanal digital,” ujar Ogi.

Keyakinan Ogi akan pertumbuhan asuransi selaras dengan temuan OJK. Data terbaru mencatat kinerja asuransi komersial termasuk di dalamnya asuransi perjalanan berupa akumulasi pendapatan premi pada periode Agustus 2026 mencapai Rp 255,40 triliun, atau tumbuh 2,66% yoy. 

Kinerja Asuransi Umum di Indonesia Kuartal I 2026

Kinerja Asuransi Umum di Indonesia Kuartal I 2026 (AAUI)

 

Bagi Asuransi Astra, upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan layanan dan akses digital Garda Trip. Namun, perusahaan menegaskan bahwa memperluas penggunaan asuransi perjalanan bukan semata-mata persoalan menambah jumlah polis yang terjual.

“Bagi kami, meningkatkan penggunaan asuransi perjalanan bukan hanya soal memperbanyak polis yang terjual, tetapi juga memastikan masyarakat memahami perlindungan yang dibeli dan mengetahui bagaimana menggunakannya ketika menghadapi risiko yang dijamin,” ujar Iwan.

Memasuki usia tujuh dekade, Iwan mengatakan Asuransi Astra berkomitmen untuk terus menghadirkan perlindungan dan ketenangan bagi pelanggan. Menurut dia, kepercayaan pelanggan menjadi salah satu kunci untuk memperluas jangkauan layanan 

Bagi Nana, perjalanan ke luar negeri pada Agustus lalu tidak berakhir dengan klaim besar atau perawatan medis. Ia sempat jatuh sakit, menghubungi layanan pelanggan, dan memperoleh gambaran mengenai langkah yang dapat ditempuh jika membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pengalaman itu mengubah cara Nana memandang persiapan perjalanan. Tiket, penginapan, dan anggaran tetap penting, tetapi ia kini juga menyadari perlunya mengetahui ke mana harus bertanya ketika menghadapi situasi tak terduga jauh dari rumah.



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...