Rupiah Kian Tertekan, Dibuka Melemah di 18.161 per Dolar Amerika

Ade Rosman
28 Oktober 2026, 09:55
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 perse
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Rabu (28/10) pagi. Merujuk data spot Bloomberg, rupiah dibuka di angka 18.161 per US$. Angka ini melemah 5 poin atau sekitar 0,028% dari penutupan sebelumnya yang mana berasa di level 18.156 per US$. 

Analisa Doo Financial, Lukman Leong mengatakan, pelemahan mata uang garuda ini diperkirakan lantaran kenaikan indeks dolar AS oleh antisipasi sikap hawkish dari the Fed dalam pertemuan FOMC malam ini.

“Harga minyak yang masih tinggi dan net sell investor asing di pasar ekuitas domestik juga masih membebani,” kata Lukman saat dihubungi, Rabu (28/10). 

Lukman memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini berada dalam kisaran 18.100 hingga 18.200 per US$.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto sebelumnya menilai pelemahan rupiah tidak hanya berdampak negatif. Ia menilai, pelemahan rupiah dapat menjadi daya saing di sisi ekspor. 

“Kalau buat ekspor kan, menambah daya saing, ya,” kata Airlangga kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (27/10). 

Di sisi lain ia memastikan pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar mata uang garuda.  Merujuk data spot Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup di angka 18.156 per US$ pada penutupan Selasa (27/10). 

“Ya nanti dimonitor. Itu kan BI yang terus monitor,” kata dia. 

Angka pada penutupan ini menunjukkan pelemahan 19 poin atau 0,10% dari pembukaan pagi ini yang mana berada di angka 18.137 per US$. 

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebelumnya memastikan bank sentral selalu memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi volatilitas akibat situasi global.  

“Ya, kami tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply-demand hari ini, ya, mungkin lagi. Ya, pokoknya tetap kami monitor pergerakannya,” kata Destry kepada wartawan di hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10).

Destry menilai, nilai tukar rupiah yang menembus 18.100 per US$ merupakan pergerakan biasa. Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan lalu mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah melemah dan menembus lebih dari 18.000 per dolar AS.  

Salah satunya, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.  Tantangan bagi rupiah lainnya, yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS, yakni Federal Reserve (The Fed).   

“Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10). 

Destry mengklaim, bank sentral dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang garuda.  

“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di (emerging markets),” katanya. 

Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging.  

Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.  

“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry.  

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...