Pasar Saham Bergejolak, Kenali Strategi Value Investing untuk Investor Ritel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergerakan lebih dari 4.000 poin di tengah aksi jual investor asing. Kondisi ini membuat strategi value investing menjadi salah satu pendekatan yang menarik untuk dicermati oleh investor ritel.
Mandiri Sekuritas mendefinisikan value investing sebagai strategi investasi yang berfokus pada saham dengan harga di bawah nilai intrinsik. Dengan demikian, investor diharuskan melihat nilai sebuah perusahaan, dan bukan hanya harga pasar dalam berinvestasi.
"Artinya, investor bisa memilih perusahaan dengan fundamental kuat yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya, sehingga berpotensi memberikan keuntungan dalam jangka panjang," seperti tertulis dalam laman resmi Mandiri Sekuritas, Jumat (30/10).
Setidaknya ada empat investor ternama yang menggunakan strategi value investing, yakni:
- Benjamin Graham Graham dikenal sebagai bapak value investing karena menerbitkan beberapa rasio investasi baru dalam value investing, seperti margin of safety, low price-to-earning ratio, dan low price-to-book ratio.
- Warren Buffett Mantan CEO Berkshire Hathaway ini merupakan murid langsung dari Graham di Columbia University hingga 1951. Buffett menggabungkan filosofi value investing Graham dengan analisis kualitatif.
- Charlie Munger, wakil Buffett di Berkshire Hathaway sebelum wafat pada 2023. Munger mengubah strategi value investing milik Buffett dari membeli saham dengan harga di bawah nilai intrinsik menjadi membeli emiten berkualitas di harga wajar.
- Lo Kheng Hong Investor domestik dengan julukan Warren Buffett Indonesia ini mempopulerkan strategi value investing di dalam negeri. Salah satu strateginya dalam membeli saham adalah membeli saham Mercy dengan harga Bajaj.
Sedangkan MNC Sekuritas menyatakan cara paling sederhana untuk memulai value investing adalah mencari emiten dengan harga saham yang tidak sesuai dengan laporan keuangannya. Beberapa teknik analisa yang bisa digunakan adalah top-down dari kondisi keuangan, pergerakan harga saham, dan daya beli masyarakat.
Namun harga saham yang tidak sesuai dengan kinerja keuangan emiten bukan berarti saham dengan harga murah. Karena itu, MNC Sekuritas merekomendasikan beberapa rasio keuangan yang harus diperhatikan seperti rasio harga terhadap pendapatan (PER), nilai harga terhadap pemesanan (PBV), rasio pendapatan terhadap aset (ROA), hingga rasio pendapatan terhadap ekuitas (ROE).
"Pengambilan keputusan value investor tentunya memerlukan data yang komprehensif," seperti tertulis di laman resmi MNC Sekuritas.
IHSG mencapai puncak tertinggi sepanjang masa di level 9.134,7 poin pada 20 Januari 2026. Indeks masuk ke tren pelemahan sejak awal Februari dan menyentuh titik terendah tahun ini di level 4.996,61 pada Senin (19/10).
IHSG terakhir kali diperdagangkan di bawah level 5.000 poin pada Maret-Oktober 2026 akibat pandemi Covid-19. Terlepas pandemi, IHSG tercatat mulai menjauhi level 5.000 pada Juni 2016.
Pada perdagangan Kamis (29/10), IHSG anjlok 3,49% ke level 5.098,06. Indeks bahkan ditutup mendekati level terendah hariannya di tengah tekanan jual yang menyasar sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp1,52 triliun di pasar reguler. Saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi sasaran tekanan jual.

