IHSG Sentuh Rp 6.400, Investor Asing Tarik Rp 16,8 Triliun dari Bursa, Ada Apa?
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia terus mengalami tekanan. Dalam sepekan terakhir IHSG telah merosot 4,7% dari Rp 6.789 pada Jumat (21/2) menjadi Rp 6.470 pada perdagangan bursa Kamis (27/2) pukul 14.00 WIB.
Merujuk data perdagangan di BEI dalam sepekan terakhir aksi jual saham atau net sell investor asing di bursa saham masih tinggi. Secara keseluruhan dalam sepekan, investor asing tercatat melakukan net sell hingga Rp 6,88 Triliun. Bila ditarik rentang yang lebih panjang, sejak awal tahun net sell asing di bursa efek Indonesia sudah mencapai Rp 16,78 triliun.
Aksi jual investor asing ini banyak tercatat pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) juga banyak dilepas dan menjadi pemberat IHSG.
Statistik perdagangan harian BEI juga menunjukkan saham-saham blue chip penghuni LQ45 secara keseluruhan telah turun -9,55% sejak awal tahun atau year to date. Begitu pula dengan saham-saham IDX Quality30 turun 10,27%.
Saham-saham pembagi dividen yang tergabung dalam IDX High Dividend 20 yang biasanya naik di momen rilis laporan kinerja keuangan juga ikut turun 8,51%. Penurunan terbesar secara ytd terjadi pada IDX Cyclical Economy dengan penurunan 10,54%
Berikut Rincian aksi jual investor asing selama sepekan terakhir merujuk data BEI
- Kamis, 20 Februari 2025: Net Sell Rp 787 miliar, IHSG turun 0,1% ke 6.788
- Jumat, 21 Februari 2025: Net Sell Rp 705 miliar, IHSG naik 0,22% Rp 6.803
- Senin, 24 Februari 2025: Net Sell: 3,47 triliun, IHSG turun 0.78% ke 6.749
- Selasa, 25 Februari 2025: Net Sell Rp 1,6 triliun, IHSG turun 2,41% ke 6.587
- Rabu, 26 februari: Net Sell Rp 323 miliar, IHSG naik 0.29% ke 6.606
- Kamis, 27 Februari 2925: Pukul 14.0) WIB IHSG turun 2,09% ke Rp 6.268
Pada perdagangan Kamis (27/2), data perdagangan BEI menunjukkan nilai transaksi saham sebesar Rp 6,40 triliun dengan volume 9,56 miliar saham. Adapun frekuensi perdagangan sebanyak 676,27 ribu kali.
Sebanyak 190 saham menguat, 391 saham terkoreksi, dan 196 saham tidak bergerak. Adapun kapitalisasi pasar IHSG sesi pertama siang ini sebesar Rp 11.229 triliun.
Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, sepuluh sektor terpantau anjlok. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni keuangan 2,04%. Adapun saham di sektor tersebut yang berada di zona merah yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 2,85% ke level Rp 8.525 per lembar saham.
Penyebab IHSG Lesu
Gerak lesu IHSG selama beberapa hari terakhir salah satunya dipicu oleh penurunan rating pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International atau MSCI dari equal weight menjadi underweight. Dalam pengumuman terbaru yang dirilis sejak 19 Februari itu, MSCI menjelaskan terjadi pergeseran tren return on equity (ROE) Indonesia yang tertekan akibat ekonomi domestik melemah.
Equity Strategist Morgan Stanley, Jonathan F. Garner, mengatakan Morgan Stanley masih berhati-hati terhadap kemungkinan pemulihan dalam waktu dekat dan cenderung memilih eksposur investasi di negara-negara ASEAN lainnya. “Faktor geopolitik juga berkontribusi dalam menurunnya risiko investasi di Cina,” tulis Garner dalam risetnya, dikutip Kamis (27/2).
Di tengah turunnya rating saham Indonesia tersebut, investor berharap adanya sinyal positif dari peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (24/2). Setelah diluncurkan badan investasi tersebut akan mengelola sekitar US$ 900 miliar atau sekitar Rp 14.616 triliun aset dalam pengelolaan (AUM).
Sayangnya, kehadiran Danantara tak cukup kuat menarik kepercayaan investor di pasar saham Indonesia. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai terdapat pesimisme dari pelaku pasar terhadap masa depan lembaga baru yang akan menjadi super holding Badan Usaha Milik Negara itu. “Ada kekhawatiran dan skeptisme investor terhadap prospek Danantara,” ujar Budi Frensidy kepada Katadata.co.id, Kamis (27/2).
Menurut Budi, figur-figur yang saat ini telah ditunjuk Prabowo untuk menakhodai Danantara tidak cukup kuat di mata investor. Budi menilai figur-figur yang masuk Danantara seharusnya adalah para profesional yang kompeten atau sudah punya pengalaman mengelola Sovereign Wealth Fund atau (SWF).
Selain itu ia juga menyoroti persoalan tata kelola Danantara yang masih belum banyak terungkap ke publik. Menurut Budi, sebagai sebuah lembaga raksasa, Danantara harus transparan dan memiliki manajemen risiko dan kepatuhan yang teruji.
"Tapi hampir semuanya (figur di Danantara) politisi dan petinggi negara dan lingkungannya dan banyak yang bingung ini lembaga politik atau pengelola dana," ujar Budi.
Dalam struktur baru Danantara, Rosan Perkasa Roeslani ditunjuk sebagai Kepala Danantara menggantikan Muliaman Hadad. Rosan merangkap jabatan sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM. Sementara Wakil Menteri BUMN Dony Oskaria ditunjuk sebagai Chief Operating Officer (COO), dan Pandu Sjahrir menjadi Chief Investment Officer (CIO).
