Kredit Nganggur di Perbankan Capai Rp 2.372 Triliun, Paling Banyak Modal Kerja

Agustiyanti
2 Oktober 2025, 15:32
Suasana gedung bertingkat di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (23/8/2024).
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Suasana gedung bertingkat di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (23/8/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia mencatat kredit yang masih menganggur atau undisburshed loan di perbankan hingga Agustus 2025 mencapai Rp 2.372,11 triliun. Penyaluran kredit tercatat hanya tumbuh 7,65% secara tahunan. 

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, penyaluran kredit ini belum terlalu kuat meski meningkat dibandingkan Juli yang hanya mencapai 7,03% secara tahunan. Namun, pertumbuhan kredit ini jauh lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang mencapai 11,4% secara tahunan. 

Menurut BI, belum kuatnya perkembangan kredit dipengaruhi oleh sikap menunggu pelaku usaha (wait and see), suku bunga kredit yang masih tinggi, dan lebih besarnya pemanfaatan dana internal untuk pembiayaan usahanya.

Perkembangan inilah yang juga mengakibatkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan atau undisbursed loan pada Agustus 2025 mencapai Rp 2.372 triliun atau 22,71% dari plafon kredit yang tersedia.

Rasio undisbursed loan terbesar terutama berasal dari sektor Industri, Pertambangan, Jasa Dunia Usaha, dan Perdagangan, dengan jenis kredit modal kerja.

Di sisi lain, BI mencatat kondisi likuiditas perbankan cukup longgar, yang tercermindari tingginya Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,25% pada Agustus 2025 sejalan dengan ekspansi likuiditas moneter dan KLM Bank Indonesia. Minat penyaluran kredit perbankan sebenarnya juga membaik sebagaimana tecermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement).

Namun, tingginya suku bunga kredit masih menjadi salah satu faktor penahan peningkatan kredit/pembiayaan lebih lanjut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Berdasarkan data BI, rata-rata tertimbang bunga kredit perbankan mencapai 9.12%. Bunga kredit ini hanya turun 8 bps sejak Januari hingga Agustus 2025 meski BI rate turun sebesar 1% untuk periode yang sama.

Kepala Ekonom BCA David Sumual  menjelaskan, ada tiga faktor yang menyebabkan tingginya angka undirsbursed loan. Pertama, karena penyaluran kredit disesuaikan dengan progres proyek. "Kalau proyeknya baru 10%, ya kredit yang dicairkan juga 10%,” ujar David kepada media.

Faktor kedua, menurutnya, adalah sikap sebagian debitur yang menunda pencairan kredit sambil menunggu tren suku bunga yang lebih rendah. Namun, David menilai kelompok ini tidak dominan.

“Ketiga, ini bisa juga faktor musiman. Seperti menjelang Lebaran atau akhir tahun, biasanya kebutuhan modal kerja meningkat dan kredit baru digunakan pada saat itu,” kata dia.

Menurut dia, salah satu penyebab lambatnya penyaluran kredit saat ini karena tak banyak proyek baru. Hal ini membuat penyaluran kredit masih berputar pada debitur dan proyek yang sama.

Karena itu, ia menyoroti pentingnya kehadiran proyek baru, termasuk dari sektor korporasi dan pemerintah, untuk mendorong permintaan kredit. Beberapa program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau proyek perumahan dan operasi kesehatan dinilai dapat membantu, meski dampaknya mungkin belum signifikan dalam jangka pendek.

Ia juga mencatat bahwa pada semester I-2025, banyak korporasi masih mengandalkan laba ditahan (retained earnings) untuk ekspansi seperti perluasan pabrik. Namun, ia berharap kapasitas ini semakin menipis sehingga mendorong mereka untuk mulai mengakses kredit perbankan pada paruh kedua tahun ini. 

Ekonom Senior Prasasti Piter Abdullah Redjalam dalam opininya di Katadata.co.id menjelaskan, permintaan kredit perbankan yang rendah disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya, adalah aktivitas ekonomi yang belum pulih sepenuhnya serta ketidakpastian ekonomi.

Menurut dia, tidak semua sektor ekonomi sudah pulih ke level sebelum covid. Ia mencontohkan, banyak mall yang tetap sepi dan merebaknya fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya). 

Ketidakpastian ekonomi lebih dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, seperti perang Ukraina yang belum juga usai, konflik Israel - Palestina, dan perang dagang yang dipicu oleh kebijakan politik Amerika Serikat. 

Faktor lain yang juga menahan rendahnya permintaan kredit adalah biaya bunga perbankan yang tinggi.  Tinggi dan rigid-nya suku bunga perbankan sebenarnya sudah menjadi permasalahan klasik yang belum juga mendapatkan solusi yang tepat. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...