Dony Oskaria Ungkap Skenario Danantara Selamatkan BUMN Bangkrut dan Hampir Tutup
Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sekaligus Kepala Badan pengaturan Badan Usaha Milik Negara, Dony Oskaria mengungkapkan, alasan di balik kondisi banyak perusahaan BUMN yang sempat terpuruk, bahkan nyaris tutup. Salah satunya adalah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang kini dalam skenario penyelamatan Danantara lewat injeksi dana.
Menurut Dony, akar masalahnya terletak pada struktur BUMN di masa lalu yang berjalan tanpa keterkaitan satu sama lain dan interkorelasi. Akibatnya, lanjut Dony, perusahaan yang merugi tidak bisa mendapat dukungan dari BUMN lain yang untung.
“Semakin lama, perusahaan kita bukan makin baik, tapi justru banyak yang tertutup dan tidak bisa survive,” kata Dony dalam paparan New Economic Order di Jakarta, Kamis (9/10).
Dony mencontohkan beberapa BUMN yang kini mengalami krisis hingga hampir tutup antara lain PT DJakarta Lloyd dan PT INTI. Bahkan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang dulu dikenal kuat kini berada di ujung tanduk akibat kerugian yang ditorehkan perusahaan.
Untuk mengatasi hal tersebut, seluruh BUMN kini dikonsolidasikan di bawah Danantara Asset Management yang berperan sebagai super holding BUMN. Tujuannya agar antar satu perusahaan dengan yang lain akan saling membantu.
"Seluruh keuntungan ini dikonsolidasikan disini, bisa membantu satu sama lain selama perusahaan itu memiliki prospek yang baik," ujarnya
Langkah lain yang bakal dilakukan Danantara untuk mengatasi BUMN yang sedang ringkih adalah dengan memanggil para CEO BUMN untuk mempresentasikan rencana bisnis (business plan) ke depan. Dari hasil evaluasi itu, Danantara akan menilai kelayakan investasi dan memberikan dukungan dana untuk perbaikan.
“Ini bagian dari 22 program kerja kami sampai akhir tahun, termasuk pembenahan Krakatau Steel, Garuda Indonesia dan lainnya,” kata Dony.
Dony menambahkan, Danantara kini bisa lebih mudah menjalankan aksi korporasi. Salah satu langkah konkretnya adalah mengonsolidasikan 18 perusahaan kecil di sektor logistik menjadi satu entitas besar dan efisien.
“Kita desain ulang, sehingga nanti dari 1.063 perusahaan BUMN, itu akan menjadi sekitar 200an perusahaan yang solid dan punya skala yang besar,” ungkapnya.
Langkah tersebut, menurut Dony, akan menjadikan BUMN lebih efisien, berdaya saing, dan berfungsi sebagai mesin pertumbuhan (engine of growth) bagi perekonomian Indonesia.
