Menjaga Asa Warisan Garam Palungan Desa Les di Pesisir Utara Pulau Dewata
Suara ombak langsung menyambut ketika Katadata tiba di Pantai Les, Buleleng, Bali, sekitar pukul 11.00 Wita. Matahari sedang terik-teriknya kala itu. Angin laut berembus pelan dan membawa aroma asin.
Di sepanjang pesisir, hamparan ladang garam tampak membentang. Beberapa bagian berisi air yang berkilau diterpa sinar mentari. Sementara beberapa bagian lainnya sudah mulai memperlihatkan kristal-kristal garam berwarna putih.
Tak banyak pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh. Siang itu, panas terasa menyengat bahkan hanya untuk berjalan beberapa menit di atas pasir. Namun bagi warga Desa Les, kondisi seperti itu justru menjadi kabar baik. Cuaca cerah menjadi salah satu anugerah agar garam bisa dipanen sebelum sang surya terbenam.
Pembuatan garam tradisional di Desa Les bukan sekadar menunggu air laut menguap di bawah matahari. Ada tahapan panjang yang masih dikerjakan secara manual oleh para petani garam.
Penggerak Desa Sejahtera Astra Desa Les, Nyoman Nadiana mengatakan, proses pertama disebut ngewayahang. Pada tahap ini, petak-petak tanah di pesisir disiram air laut selama beberapa hari agar tanah menyerap kandungan garam. Proses tersebut biasanya memakan waktu sekitar empat hari. Jika hujan turun deras, para perajin harus mengulang dari awal karena kandungan garam yang sudah terserap akan bercampur dengan air hujan.
“Kenapa garam tradisional Les itu terkenal? Karena ada kandungan mineral baik tanah, dan mineral dari air laut. Jadi ini perpaduannya antara lagi-lagi ada unsur pertiwi di sini,” kata Nyoman ketika ditemui di ladang garam Desa Les, Bali, Jumat (5/6).
Setelah tanah cukup kering dan kaya akan kandungan garam, tahap berikutnya menekang tanah. Tanah dari petak-petak garam diangkat ke wadah berbentuk kerucut yang disebut tinjung. Di dalamnya terdapat lapisan daun lontar, daun kelapa, kerikil, dan pasir yang berfungsi sebagai penyaring alami. Melalui proses ini dihasilkan air pekat yang dikenal sebagai air biang garam atau nyah.
Tanah yang sudah diproses kemudian dikembalikan lagi ke petak kosong melalui tahapan yang disebut nuwunang tanah. Setelah itu, petak tersebut kembali diisi air laut.
Setiap pagi, air biang garam yang terkumpul akan dituangkan ke dalam palungan, yaitu wadah jemur. Ketika cuaca sedang bersahabat, para perajin bisa memasuki tahap terakhir yang disebut ngerik atau panen garam. Dalam satu minggu, panen biasanya bisa mencapai dua kali.
Nyoman menjelaskan, ladang garam di Desa Les adalah potensi budaya yang telah diwariskan hingga tiga generasi. Ia menyebut garam bukan sekadar komoditas, tetapi juga memiliki nilai adat karena selalu digunakan dalam berbagai ritual di desa tersebut. Sebagai contoh, garam dicampurkan ke air atau dipakai sebelum upacara sebagai bagian dari proses pembersihan.
“Jadi garam ini atau ladang garam ini harus ketika musim kering. Musim hujan tidak ada, karena prinsipnya akan pakai cahaya matahari langsung seperti ini,” ucap Nyoman.
Ia menjelaskan produksi garam tidak dapat dilakukan saat hujan, sehingga petani hanya bekerja sekitar lima bulan dalam setahun, bahkan bisa turun menjadi sekitar empat setengah bulan jika cuaca tidak menentu.
Lahan garam yang berasal dari tanah warisan leluhur itu kini masih diolah oleh keluarga dan kerabatnya. Ia juga menyebutkan, dulu hampir seluruh kawasan merupakan ladang garam. Namun kini tersisa sekitar 15 petak saja akibat abrasi, minimnya regenerasi petani, dan peralihan fungsi lahan ke sektor pariwisata seperti pembangunan vila dan kolam. Kendati demikian, ia menilai desa wisata membuka peluang untuk menjadikan ladang garam sebagai sarana edukasi yang menarik.
“Dengan desa wisata, ada banyak sekali alat yang bisa kita coba. Untuk edukasi. Karena ini menjadi edukasi yang sangat menarik,” tutur Nyoman.
Pemberdayaan Astra Jangkau Petani Garam di Pesisir Bali
Potensi alam, budaya, dan ekonomi lokal yang dimiliki Desa Les menarik minat raksasa otomotif Astra menjadikan perkampungan di pesisir Buleleng itu sebagai bagian dari Program Desa Sejahtera Astra. Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo mengatakan, masyarakat Desa Les juga memiliki peran aktif dalam menjaga kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Melalui program pemberdayaan berkelanjutan, Astra melihat potensi tersebut dapat terus berkembang sekaligus menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan lingkungan. Selain memiliki wisata alam dan budaya yang khas, Desa Les juga dikenal melalui produksi garam palungan tradisional dan pengembangan wisata yang melibatkan warga setempat.
“Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Astra dalam mendukung pengembangan desa yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan,” kata Windy.
Sejak 2024, Astra mulai melakukan pendampingan di Desa Les melalui Program Desa Sejahtera Astra dengan fokus pada penguatan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, pengembangan lingkungan, hingga pengembangan desa wisata berbasis komunitas.
Pendampingan dilakukan melalui empat pilar kontribusi sosial berkelanjutan, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Di bidang kesehatan, Astra bersama kader kesehatan desa mendukung layanan Posyandu, edukasi kehamilan, hingga pemberian makanan tambahan bagi anak stunting dan gizi buruk.
Sementara di bidang pendidikan, Astra menggelar kelas Bahasa Inggris dan pelatihan pariwisata untuk mempersiapkan generasi muda menjadi pemandu wisata lokal. Adapun di bidang lingkungan, masyarakat didampingi dalam menjalankan pengelolaan sampah berbasis warga melalui program Les Grow, pengolahan pupuk kompos, serta konservasi dan transplantasi terumbu karang untuk menjaga ekosistem pesisir.
“Sementara pada bidang kewirausahaan, Astra mendukung pengembangan potensi ekonomi lokal melalui penguatan produksi garam tradisional, pengembangan UMKM desa, hingga kolaborasi pemasaran bersama BUMDes dan Pemerintah Provinsi Bali,” ujar Windy.
Dia menuturkan, ada satu hal potensi besar di daerah pesirir Bali Utara itu, yakni garam palungan tradisional menjadi salah satu identitas Desa Les. Dengan metode produksi yang masih mengandalkan cara-cara tradisional, para petani dapat menghasilkan sekitar dua hingga tiga ton garam setiap panen pada musim kemarau. Produk garam dari desa ini pun telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Namun potensi Desa Les tak berhenti pada garam. Desa di pesisir utara Bali ini juga memiliki wisata alam dan budaya, mulai dari air terjun, pesisir pantai, aktivitas nelayan tradisional, hingga homestay berbasis masyarakat yang menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.
Sejak bergabung dalam Program Desa Sejahtera Astra pada 2024, lebih dari 800 warga telah merasakan manfaat program tersebut. Astra mencatat pendapatan masyarakat meningkat sekitar 25%, puluhan lapangan kerja baru tercipta, dan produk lokal berhasil terserap pasar secara optimal.
Dampaknya terlihat di berbagai sektor. Di bidang kesehatan, warga semakin aktif mengikuti Posyandu dan program kesehatan ibu dan anak. Di bidang pendidikan, generasi muda mendapatkan pelatihan Bahasa Inggris dan pariwisata untuk mendukung pengembangan desa wisata. Sementara di bidang lingkungan, masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari rumah, mengolah kompos, hingga terlibat dalam konservasi terumbu karang.
Pada saat yang sama, produksi garam tradisional terus dipertahankan. Pemasaran produk juga diperkuat melalui kerja sama dengan BUMDes Giri Segara dan Pemerintah Provinsi Bali. Permintaan garam saat ini mencapai sekitar satu ton per bulan atau senilai kurang lebih Rp 25 juta.
Bagi Desa Les, generasi muda menjadi kunci keberlanjutan desa. Melalui berbagai pelatihan yang difasilitasi Astra, mereka didorong untuk terlibat dalam pengelolaan wisata, promosi digital, hingga pengembangan usaha berbasis komunitas. Harapannya, Desa Les dapat terus tumbuh sebagai desa wisata yang mampu menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan warisan budaya yang telah lama hidup di pesisir utara Bali.
“Hingga pengembangan potensi ekonomi lokal melalui produksi garam tradisional dan UMKM desa,” ucap Windy.
