Risiko Perang AS - Iran Dinilai Belum Hilang, Cek Prospek Saham MEDC
Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memang mengurangi kemungkinan terjadinya skenario terburuk di pasar energi. Namun, DBS Research menilai risiko geopolitik masih membayangi prospek harga minyak dan saham-saham energi.
Analis DBS Pei Hwa Ho menilai persoalan program nuklir Iran pada dasarnya belum terselesaikan, melainkan ditunda. Karena itu, premi risiko perang yang sempat mendorong harga minyak diperkirakan belum sepenuhnya hilang dalam beberapa bulan ke depan.
Dia memperkirakan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) masih memiliki peluang untuk bangkit setelah terpuruk sejak awal tahun.
"Kami tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk PTTEP, Medco dan CNOOC yang saat ini masih diperdagangkan di bawah level sebelum konflik," tulis Pei Hwa Ho dalam riset DBS yang dikutip Kamis (25/6).
Di Indonesia, China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) melalui anak usahanya Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) memiliki keterkaitan tidak langsung dengan emiten migas PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
DBS menilai Iran memiliki insentif untuk memperpanjang proses negosiasi sehingga ketidakpastian geopolitik masih akan berlangsung. Selain itu, Israel tidak termasuk pihak yang menandatangani nota kesepahaman (MoU) sehingga bentrokan dengan Hizbullah di Lebanon masih terjadi.
Menurut DBS, pasar saat ini berpotensi terlalu optimistis. Harga minyak Brent yang berada di bawah US$ 80 per barel dinilai telah mencerminkan skenario terbaik dari proses perdamaian. Padahal, persoalan Iran masih jauh dari selesai meski Presiden AS Donald Trump berupaya menghindari eskalasi konflik.
Saham MEDC Diramal Bisa Bangkit
Pei Hwa menilai koreksi yang terjadi pada saham-saham energi sejak April membuka peluang akumulasi bagi investor. Kinerja saham sektor energi memang tertinggal dibandingkan saham teknologi yang kembali menjadi favorit pasar berkat tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Pei Hwa, risiko penurunan saham migas saat ini relatif terbatas karena pasar telah memperhitungkan skenario terbaik dalam harga minyak. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik diperkirakan tetap bertahan selama negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran berlangsung.
"Sementara itu, kami percaya ketidakpastian geopolitik akan terus berlanjut selama negosiasi kesepakatan nuklir berlangsung. Bisa 60 hari, bisa juga jauh lebih lama," tulis Pei.
DBS memperkirakan harga minyak dan gas masih akan bertahan di atas level sebelum krisis. Dukungan juga datang dari pengisian kembali persediaan global yang berpotensi mengimbangi kekhawatiran terhadap perlambatan permintaan dari Cina.
Walaupun begitu, tren harga komoditas energi diperkirakan mulai melandai menuju 2027. Karena itu, investor akan lebih memperhatikan katalis lain dan karakter defensif emiten migas dibandingkan hanya mengandalkan kenaikan harga minyak.
DBS mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp 1.600 per saham. Pada perdagangan Kamis (25/6), saham MEDC berada di level Rp 1.065 per saham. Dalam sebulan terakhir harga sahamnya turun 20,5%, sedangkan dalam tiga bulan terakhir terkoreksi sekitar 40,8%.
Sementara itu, analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova memberikan rekomendasi trading buy untuk MEDC dengan target harga di kisaran Rp 1.140 hingga Rp 1.475 per saham.
DBS melihat MEDC memiliki dua mesin pertumbuhan utama pada 2026, yaitu bisnis minyak dan gas serta kontribusi dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Laba bersih MEDC diperkirakan melonjak 88% secara tahunan menjadi US$ 382 juta. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume produksi minyak dan gas setelah kepemilikan MEDC di Blok Corridor naik menjadi 70%.
Pada tahun buku 2025, laba bersih MEDC tercatat sebesar US$ 100,92 juta atau setara Rp 1,69 triliun. Torehan itu turun 72,5% dibandingkan laba bersih perseroan tahun buku 2024 sebesar US$ 367,35 juta.
Selain itu, kontribusi AMMN diperkirakan meningkat seiring kenaikan harga tembaga dan membaiknya tingkat utilisasi fasilitas smelter. DBS menilai kombinasi pertumbuhan dari bisnis migas dan kepemilikan di AMMN membuat MEDC menjadi alternatif investasi yang lebih murah.
Meski harga saham MEDC merosot dalam sejak awal tahun, DBS menilai hal tersebut lebih dipengaruhi sentimen makroekonomi Indonesia dan regulasi ekspor baru.
Menurut DBS, MEDC relatif tidak terdampak kebijakan ekspor yang mengatur komoditas seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan ferroalloy. Karena itu, perseroan dinilai masih berada dalam posisi yang baik untuk menikmati pemulihan laba pada periode mendatang.
