Bertemu Investor, Danantara Buka Keran Investasi di Proyek Energi hingga DIgital
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia akan lebih fokus menaruh investasi di dalam negeri, khususnya di sektor energi terbarukan atau renewable energy. Danantara pun menyebut telah mengantongi ajakan investasi bersama dengan investor global pada tahun depan.
Ajakan itu diterima Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir ketika melakukan diskusi bersama para investor global serta lembaga pemeringkat seperti Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, J.P. Morgan serta MSCI.
Pandu mengatakan, sejumlah investasi yang tengah disiapkan dan diperkuat Danantara untuk tahun depan mencakup proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE), infrastruktur digital, serta investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah demutualisasi.
“Kita akan ada beberapa kerja sama dengan sektor swasta untuk urusan energi,” kata Pandu kepada Katadata, Selasa (13/10).
Rencana tersebut sejalan dengan upaya Danantara memperkuat sinergi dengan kementerian dan lembaga di sektor keuangan, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan. Sinergi ini salah satunya diwujudkan melalui forum diskusi bersama para penyedia indeks global di sela agenda Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand.
Pandu mengatajan forum tersebut menjadi momentum untuk membuka komunikasi antara pemerintah Indonesia dan investor global. Menurut dia, diskusi berlangsung positif karena keempat institusi negara dapat menyampaikan pandangan secara terpadu dan saling melengkapi.
“Poin utamanya, saya sangat senang bahwa empat institusi negara ini saling mengisi dan berbicara bahu-membahu. Investor bilang mereka sudah menunggu dua tahun untuk ini. Mereka menilai langkah ini sangat penting, bagus sekali dilakukan sekarang, dan bisa menjadi langkah maju untuk 2027,” ujar Pandu.
Menurut Pandu, investor menyambut positif langkah konkret yang disampaikan dalam forum tersebut. Namun, mereka juga menyoroti keberlanjutan reformasi dan tindak lanjut dari berbagai komitmen yang telah dibahas.
Danantara, kata dia, meminta investor memberikan waktu untuk membuktikan bahwa berbagai rencana tersebut dapat direalisasikan.
“Kalau mengenai waktu, give us time, give us a chance to prove,” katanya.
Dari sisi investasi, Pandu mengatakan Danantara masih menyiapkan sejumlah langkah untuk beberapa bulan ke depan. Namun, ia belum dapat mengungkapkan secara terperinci investasi yang akan direalisasikan.
Salah satu agenda yang telah diumumkan adalah investasi di BEI setelah demutualisasi. Menurut Pandu, langkah ini penting untuk menciptakan persaingan yang lebih setara antara pasar modal Indonesia dan negara-negara tetangga.
Ia mengatakan, Danantara berpotensi menyuntikkan pendanaan baru ke BEI. Penggunaannya akan disesuaikan dengan rencana bisnis manajemen, terutama untuk pengembangan teknologi dan peningkatan daya saing bursa.
Sementara itu, untuk kuartal pertama dan kedua 2027, Danantara membuka peluang investasi di sektor energi terbarukan dan infrastruktur digital. Danantara juga menjajaki kerja sama dengan pihak swasta di sektor energi serta peluang kolaborasi di sektor perbankan.
Danantara Indonesia menggelar roundtable bersama para pemangku kepentingan di sektor keuangan Indonesia. Selain itu hadir pula para perwakilan lembaga penyedia indeks global.
Forum bertajuk Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara yang juga menjadi rangkaian dari agenda Dana Moneter Internasional (IMF) Annual Meeting di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10).
Dalam pertemuan ini hadir Menteri Keuangan Indonesia Suahasil Nazara, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Deputi Gubernur di Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Iding Parsi, serta para perwakilan dari Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, International Finance Corporation (IFC), Standard Chartered Bank, J.P. Morgan, The TCW Group serta MSCI.
Pandu mengatakan, acara ini digelar untuk membahas reformasi sektor keuangan dan peran Danantara Indonesia, khususnya di pasar modal.
Pandu mengatakan, forum yang berlangsung tertutup itu memberikan ruang bagi investor untuk menyampaikan masukan secara lebih terbuka. Diskusi tidak hanya berlangsung dalam format tanya jawab, tetapi juga diwarnai berbagai pandangan dari lembaga pemeringkat, penyedia indeks dan pengelola dana global.
Salah satu respons utama investor, kata Pandu, adalah apresiasi terhadap koordinasi antarlembaga pemerintah dalam mendorong reformasi sektor keuangan. Mereka menilai keselarasan di antara empat institusi negara menjadi modal penting untuk memperkuat kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia.
Pandu mengatakan, hal yang menarik dari diskusi tersebut adalah fokus investor yang tidak lagi terbatas pada pertanyaan teknis mengenai kebijakan fiskal. Sebaliknya, mereka mulai membahas peluang investasi dan kerja sama yang dapat dijalankan bersama Indonesia pada tahun depan.
