Danantara Kucurkan Dana Jumbo ke 5 Proyek, Begini Progresnya

Karunia Putri
26 Oktober 2026, 18:54
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan pemaparan dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Hotel Fairmont Jakarta, Senin (26/10/2026).
Katadata/Karunia Putri
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyampaikan pemaparan dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Hotel Fairmont Jakarta, Senin (26/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengalirkan investasi ke sejumlah proyek strategis antara lain waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi, proyek protein, hingga Kampung Haji di Makkah. Proyek-proyek tersebut masih berjalan dan mengantongi dana investasi jumbo dari Danantara. 

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir menjelaskan, pihaknya memiliki sejumlah proyek investasi yang melibatkan mitra internasional dan Tanah Air. Proyek tersebut mencakup WtE; investasi protein bersama JBS Group; investasi di perusahaan energi Amerika Serikat (AS), HighPeak Energy; pengembangan hotel di Makkah guna menyokong proyek Kampung Haji, serta; bisnis penyewaan pesawat (aviation leasing).

Pandu menyampaikan hal tersebut dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Hotel Fairmont Jakarta, Senin (26/10). Menurut dia, salah satu proyek yang menjadi perhatian Danantara adalah pengolahan WtE dalam skala nasional. Berdasarkan paparan Danantara, proyek tersebut ditargetkan menjangkau 33 kota, dengan kapasitas terpasang mencapai 660 megawatt (MW).

Proyek itu dirancang untuk membantu mengatasi persoalan sampah di Indonesia. Danantara mencatat, volume sampah nasional mencapai 35 juta ton per tahun, dengan sekitar 60% di antaranya belum dikelola. Melalui program itu, Danantara menargetkan pengelolaan 18 juta ton sampah per tahun.

Total kebutuhan investasi program tersebut diperkirakan mencapai US$ 5 miliar atau setara Rp 90 triliun dengan investasi sekitar US$ 120 juta hingga US$ 150 juta per lokasi. “Melalui proyek ini, kami berupaya mengatasi persoalan sampah di Indonesia sekaligus mengubahnya menjadi peluang ekonomi,” kata Pandu dalam paparannya di acara DTIIF, Senin (26/10).

Dia mengeklaim proyek WtE itu menjadi salah satu proyek terbesar di dunia. Tambahan lagi, dalam proyek itu terdapat lebih dari 34 bank yang terlibat dalam pembiayaannya, dengan mayoritas berasal dari bank asing.

Selain pengolahan sampah, Danantara berinvestasi untuk membangun ekosistem protein regional bersama JBS Group. Untuk diketahui, JBS Group adalah perusahaan pengolahan protein asal Brasil yang beroperasi secara global.

Berdasarkan paparan Danantara, investasi ekuitas yang direncanakan di sektor protein itu mencapai US$ 2,5 miliar, dengan alokasi dana untuk mengakuisisi fasilitas dan mengembangkan investasi di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru. JBS juga menjadi mitra dalam pengembangan ekosistem tersebut.

Dengan skema investasi bersama, Pandu menyebut nilai investasi yang ingin dihimpun dari Danantara dan JBS dapat mencapai US$ 5 miliar. Investasi itu diharapkan membuka akses terhadap kemampuan operasional, pengalaman manajemen, dan jaringan distribusi JBS di pasar yang telah berkembang.

Di sektor energi, Danantara telah mengumumkan investasi sebesar US$ 250 juta pada HighPeak Energy, perusahaan energi yang tercatat di bursa Nasdaq, AS, dengan kode saham HPK. Investasi itu dilakukan melalui instrumen convertible preferred stock atau saham preferen yang dapat dikonversi menjadi saham biasa, dengan sejumlah persyaratan penyelesaian transaksi.

Berdasarkan paparan Danantara, investasi itu ditujukan untuk memberikan eksposur terhadap industri minyak di Permian Basin, AS, sekaligus mempelajari teknologi gas serpih (shale gas) dan pengelolaan lapangan migas darat yang telah matang. Pandu mengatakan investasi itu juga menjadi sarana untuk mempelajari teknologi yang dapat dikembangkan di Indonesia. Ia menyebut harga saham HighPeak Energy telah meningkat sekitar 20% sejak investasi dilakukan.

Danantara juga ingin mengembangkan skala produksi perusahaan tersebut. Menurut Pandu, target peningkatan produksi dari sekitar 50.000 barel menjadi 100.000 barel, meski satuan produksi yang dimaksud belum dijelaskannya secara terperinci.

Target Pembangunan 11 Menara di Kampung Haji Makkah

Di sektor properti, Danantara menyiapkan investasi pada aset Hotel Novotel di Makkah, Arab Saudi, yang berkaitan dengan kebutuhan akomodasi jemaah umrah dan haji asal Indonesia. Pandu menyebut nilai investasi hotel tersebut mencapai US$ 500 juta. 

Dalam paparannya, Danantara menyebut Indonesia sebagai negara penyumbang jemaah haji dan umrah terbesar di dunia, dengan sekitar 1,5 juta hingga 2 juta jemaah per tahun. Sementara itu, pasokan kamar berkualitas dinilai masih belum sebanding dengan pertumbuhan permintaan.

Danantara mencatat jumlah kamar hotel di Makkah mencapai sekitar 310.869 unit pada kuartal ketiga 2025. Namun, hanya sekitar 21% atau 65.304 kamar yang masuk kategori berkualitas atau bermerek. Pasokan kamar berkualitas diperkirakan tumbuh 6,1% per tahun hingga 2031, dengan tambahan sekitar 27.660 kamar, tetapi masih berpotensi tertinggal dari permintaan jemaah.

Danantara juga menargetkan pembangunan 11 menara tambahan dalam dua tahun ke depan. Dia mengungkapkan, investasi tersebut berpeluang memperkuat kehadiran Indonesia di pasar properti dan akomodasi di Arab Saudi.

Di sektor penerbangan, Danantara menyiapkan investasi melalui pembentukan dana penyewaan pesawat bersama SMBC Aviation Capital. Berdasarkan paparan, nilai awal portofolio dana tersebut mencapai US$ 800 juta, dengan Danantara Investment Management (DIM) sebagai investor utama melalui jalur investasi tidak langsung.

SMBC Aviation Capital akan berperan sebagai pengelola operasional dan penyewa aset. Sementara Danareksa Investment Management Singapore ditunjuk sebagai mitra pengelola bersama.

Pandu mengatakan, bisnis penyewaan pesawat memiliki karakteristik khusus dan membutuhkan keahlian pembiayaan yang tidak banyak dikuasai pelaku industri. Melalui kerja sama tersebut, Danantara ingin memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan aset penerbangan sekaligus mengembangkan kemampuan pembiayaan pesawat secara komersial.

Selain itu, Danantara juga tengah mengevaluasi kerja sama untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) domestik bersama emiten Group Bakri PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR). Inisiatif tersebut masih berada pada tahap evaluasi dan telah mencapai pembahasan term sheet yang tidak mengikat. Kerja sama yang direncanakan mencakup pengembangan kendaraan listrik komersial dengan model Mobility-as-a-Service (MaaS), termasuk dukungan pembiayaan, peralihan armada dan penguatan rantai nilai baterai.

Pandu mengatakan, pengembangan kendaraan listrik, termasuk bus listrik produksi dalam negeri, dapat mendukung agenda hilirisasi energi sekaligus memperkuat industri lokal. “Jika melihat ketiga inisiatif tersebut, tujuan kami adalah mendorong keterlibatan sektor swasta, termasuk Anda semua,” ujarnya.

Ia menyatakan, Danantara ingin menggandeng investor dan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis di Indonesia sekaligus membawa keahlian dan pengetahuan dari mitra global ke dalam negeri. “Bagaimana kita dapat bekerja sama untuk mengembangkan bisnis Indonesia sekaligus membawa keahlian dan pengetahuan ke dalam negeri? Itulah tujuan utama Danantara,” tuturnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...