Defisit Tetap Tinggi Meski Harga Minyak Dunia Turun
KATADATA ? Tekanan terhadap defisit fiskal tidak berkurang meskipun harga minyak mentah dunia cenderung turun dalam beberapa bulan terakhir. Penyebabnya kurs rupiah justru mengalami pelemahan.
?Tidak signifikan karena subsidinya kan juga tidak turun,? tutur Kepala badan kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Andin Hadiyanto di Jakarta, Senin (6/10).
Dalam APBN-P 2014, defisit dipatok sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) senilai Rp 241,5 triliun. Angka ini meningkat dari pagu dalam APBN 2014 sebesar Rp 175,4 triliun atau 1,69 persen terhadap PDB.
Naiknya defisit disebabkan meningkatnya alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik dari Rp 282,1 triliun menjadi Rp 350,3 triliun. Kenaikan tersebut akibat pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan kurang bayar tahun sebelumnya.
Tren harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) mengalami penurunan sejak Agustus 2014. Pada September, ICP tercatat sebesar US$ 94,97 per barel atau turun US$ 4,54 dibandingkan bulan sebelumnya. (Baca: Harga Minyak Mentah Indonesia Kembali Turun)
Peneliti ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai, penurunan harga minyak mentah dunia akibat kelebihan stok di banyak negara. Meskipun tidak akan berlangsung lama, penurunan tersebut sudah menunjukan struktur fundamental harga minyak dunia.
Berbagai konflik dan ketegangan politik di beberapa negara penghasil minyak, bahkan tidak mampu memengaruhi harga minyak dunia.
Agung berpendapat kondisi tersebut akan memberikan pengaruh positif terhadap posisi defisit fiskal. Namun, minyak tetap harus terjaga dalam rentang harga terbawah yakni US$ 90-US$ 95 per barel.
Direktur Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Sasmito Hadi Wibowo sebelumnya mengatakan, meningkatnya kebutuhan BBM pada di akhir tahun akan kembali menaikkan harga minyak dunia.
