SBY: Rasio Utang Indonesia Lebih Baik Dibanding Negara Maju

Image title
Oleh - Tim Redaksi Katadata
15 Agustus 2014, 14:50
Katadata
KATADATA
foto: abror/presidenri.go.id

KATADATA ? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan dalam 10 tahun masa kemimpinannya, telah mampu membuat rasio utang Indonesia lebih baik dibandingkan negara-negara maju. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia terus menurun, dan saat ini sudah berada dalam situasi aman.

Menurutnya, di antara negara-negara G-20, kelompok negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia, rasio utang Indonesia merupakan yang paling rendah. Hal ini merupakan capaian yang baik di tengah rasio utang negara-negara maju terus meningkat, seperti Jepang yang mencapai 227,2 persen, Amerika Serikat 101,5 persen, atau Jerman 78,4 persen.

"Dengan susah payah, akhirnya kami berhasil menurunkan rasio utang terhadap PDB menjadi sekitar 23 persen. Sekali lagi, ini bukanlah capaian yang boleh diabaikan," ujar SBY dalam pidato kenegaraannya di hadapan sidang bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (15/8).

SBY menjelaskan saat krisis moneter pada 1998, rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 85 persen. Artinya hampir sama dengan total penghasilan rakyat Indonesia. Sepanjang masa pemerintahannya, SBY berhasil menurunkan rasio utang terhadap PDB dari 56,6 persen pada 2004, menjadi 23 persen pada 2013.

Pemerintahan SBY juga telah melunasi utang pada Lembaga Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) empat tahun lebih awal dari jadwal. Hal ini membuat Indonesia sudah tidak lagi didikte oleh IMF. Bahkan, kata SBY, saat menerima Managing Director IMF Christine Lagarde pada 2012, justru Indonesialah yang balik memberikan saran bagaimana cara mereformasi IMF.

?Indonesia (sudah) tidak lagi menjadi pasien IMF, dimana semua kebijakan dan perencanaan ekonominya harus didikte IMF," ujarnya.

SBY juga mengatakan bahwa Indonesia sudah mencapai kemandirian ekonomi. Hal ini terbukti dengan hibah dari internasional yang bukan lagi faktor penentu dalam pembangunan bangsa, mengingat porsinya saat ini yang hanya 0,7 persen total anggaran nasional. Meski demikian, Indonesia tetap menerima hibah dari negara sahabat sepanjang diberikan dengan itikad baik. 

Petrus Lelyemin

Katadata

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rikawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...