Rupiah Tutup Pekan Melemah ke 14.020/US$ Meski Modal Asing Deras
Nilai tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (8/1), ke posisi Rp 14.020 per dolar AS. Rupiah sempat menguat dan berada di level Rp 13 ribu per dolar AS pada pekan ini seiring masuknya modal asing ke instrumen portofolio.
Kepala Departemen Komunikasi Direktur Eksekutif Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan dana asing dalam bentuk portofolio yang masuk mencapai Rp 6,06 triliun pada pekan ini. "Terdiri dari ke pasar Surat Berharga Negara Rp 5,03 triliun dan saham Rp 1,03 triliun," tulis Erwin dalam keterangan resminya, Jakarta, Jumat (8/1).
Dengan perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik mencatatkan nett inflow Rp 10,41 triliun selama tahun 2021. Premi risiko investasi Indonesia lima tahun menurun dari 66,06 basis poin pada 31 Desember 2020 menjadi 65,45 bps per 7 Januari 2021.
Selain itu, imbal hasil alias yield SBN 10 tahun tercatat naik dari level 5,98% ke 6,1% pada tahun ini. Angka tersebut cukup jauh dari yield UST Note 10 tahun yang berada di level 1,08%.
Analis HFX Berjangka Adhy Phangestu mengatakan penguatan kurs Garuda pada pekan ini terjadi karena adanya optimisme investor terhadap fundamental ekonomi RI. Dengan demikian, aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Inflasi sepanjang 2020 mencapai 1,68% secara tahunan. Inflasi pada Desember 2020 mencapai 0,45% secara bulanan disumbang oleh kenaikan harga cabai merah, telur ayam ras, hingga tarif angkutan udara.
Meski terendah sepanjang sejarah, angka inflasi tersebut cukup membaik jika dibandingkan deflasi yang sempat terjadi beberapa sebelumnya selama tiga bulan berturut. Deflasi beruntun jarang terjadi di Indonesia, RI terakhir kali mengalami deflasi berturut pada tahun 1999.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia dilaporkan meningkat US$ 2,3 miliar dari US$ 133,6 miliar pada November 2020 menjadi US$ 135,9 miliar dolar pada akhir Desember 2020. Peningkatan terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak.
Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,2 bulan impor atau 9,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Meski begitu, rupiah kini kembali melemah ke level Rp 14.020 per dolar AS pada pasar spot akhir pekan ini. "Sebagian orang melikuidasi posisi menjelang berita Nonfarm Payroll," ujar Adhy kepada Katadata.co.id, Jumat (8/1).
Hari ini akan ada rilis laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Desember 2020. Konsensus untuk 70 ribu pekerjaan ditambahkan dan untuk tingkat pengangguran meningkat menjadi 6,8%.
Adhy menilai sebagian besar mata uang utama terlalu kuat dikarenakan pelemahan dolar AS. "Itu tidak baik bagi iklim investasi sehingga investor cenderung menghindari ketidakpastian menjelang rilis data tersebut," kata dia.
Ia memperkirakan rupiah pekan depan bertahan di level Rp 14.000-14.150 per dolar AS. Pergerakan tersebut akan dipengaruhi berbagai sentimen. Salah satunya mulai berlakunya pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar di wilayah Jawa-Bali.
