Sillicon Valley Bank Bangkrut, Biden Pastikan Sistem Perbankan AS Aman
Saham bank di seluruh dunia jatuh pada Senin (13/3) meski Presiden Joe Biden berjanji mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk memastikan keamanan sistem perbankan AS setelah kebangkrutan tiba-tiba Silicon Valley Bank dan Signature Bank. Pernyataan Biden muncul untuk meyakinkan pasar setelah tindakan darurat AS tak berhasil menghilangkan kekhawatiran investor.
AS telah mengumumkan tindakan darurat dengan memberi mereka akses ke pendanaan. Namun, investor tetap khawatir terkait potensi penularan kejatuhan Silicon Valley Bank dan Signature Bank ke pemberi pinjaman lain di seluruh dunia. Kapitalisasi pasar bank-bank besar pada Senin (13/3) hilang US$ 90 miliar atau setara Rp 1.383 triliun mengacu kurs Bloomberg kemarin Rp 15.376 per dolar AS.
Bank-bank besar AS bahkan telah kehilangan nilainya mencapai US$ 190 miliar selama tiga sesei perdagangan. Kejatuhan harga saham, antara lain terjadi pada saham First Republic Bank (FRC.N), Western Alliance Bancorp (WAL.N), dan PacWest Bancorp (PACW.O),
Gedung Putih memastikan bahwa Departemen Keuangan sedang bekerja dengan regulator untuk langkah selanjutnya.
First Republic telah mampu memenuhi permintaan penarikan pada Senin dengan bantuan dana tambahan dari JPMorgan Chase (JPM.N). CEO First Republic mengatakan, tidak melihat arus keluar deposit besar-besaran.
Sementara itu, gelombang kejut meluas ke Eropa, indeks perbankan STOXX (.SX7P) ditutup 5,7% lebih rendah. Commerzbank Jerman (CBKG.DE) turun 12,7%, sementara Credit Suisse (CSGN.S) turun 9,6% ke rekor terendah baru.
Regulator keuangan Swiss FINMA mengatakan, pihaknya sedang memantau bank dan asuransi secara ketat. Sementara pengawas senior Bank Sentral Eropa mengatakan dewan yang mengawasi bank-bank terbesar di zona euro tidak melihat adanya kebutuhan untuk pertemuan darurat.
Biden meyakinkan bahwa seluruh tindakan yang diambil pemerintah dapat meyakinkan orang Amerika bahwa sistem perbankan aman. Di sisi lain, ia uga menjanjikan peraturan yang lebih ketat setelah kegagalan bank AS terbesar sejak krisis keuangan 2008.
"Simpanan Anda akan ada saat Anda membutuhkannya," katanya.
Namun demikian, saham bank-bank besar AS, termasuk JPMorgan Chase & Co, Citigroup (C.N), dan Wells Fargo (WFC.N) semuanya melemah pada Senin (13/3).
Seorang pejabat pemerintah mengatakan Biden tidak membuat jadwal dengan Kongres untuk menyelesaikan masalah ini karena para bawahannya saat ini masih bekerja. Meski demikian, indikator risiko kredit di AS dan sistem perbankan zona euro naik tipis.
"Ketika sebuah langkah sebesar dan secepat ini diambil, pikiran pertama adalah mengindari krisis. Lalu pikiran kedua adalah, seberapa besar krisis itu, seberapa besar risiko yang harus diambil oleh langkah ini?" kata Rick Meckler, partner di Cherry Lane Investments.
Regulator A.S. turun tangan pada hari Minggu (12/11) setelah runtuhnya SVB, yang berjalan setelah portofolio obligasi besar terpukul. Nasabah SVB akan memiliki akses ke semua simpanan mereka mulai hari Senin dan regulator menyiapkan fasilitas baru untuk memberi bank akses ke dana darurat dan Fed mempermudah bank untuk meminjam darinya dalam keadaan darurat.
Regulator juga bergerak cepat untuk menutup Siganture Bank, yang mendapat tekanan dalam beberapa hari terakhir.
"Penyelidikan serius perlu dilakukan tentang mengapa regulator melewatkan tanda bahaya dan apa yang perlu dirombak," kata Mark Sobel, mantan pejabat senior Departemen Keuangan dan ketua think tank OMFIF AS.