Bank Sentral Eropa Tak Lagi Agresif Kerek Suku Bunga, Cuma Naik 25 Bps
Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin untuk mengatasi inflasi yang masih tinggi. Suku bunga acuan ECB yang akan berlaku pada 10 Mei sebesar 3,25% merupakan yang tertinggi sejak November 2008.
Meski masih menaikkan suku bunga, kenaikan 25 bps menunjukkan bahwa Bank Sentral Eropa mulai menurunkan laju kenaikan bunga. Keputusan tersebut diambil setelah angka inflasi yang dirilis awal pekan ini menunjukkan kenaikan tingkat inflasi umum menjadi 7% untuk April. Pada saat yang sama, inflasi inti, yang tidak termasuk harga pangan dan energi, sedikit menurun menjadi 5,6%.
Bank sentral memulai kenaikan suku bunga yang beraku saat ini sejak Juli 2022, dengan menaikkan bunga acuannya dari -0,5% menjadi nol. Namun, meskipun kenaikan suku bunga yang konsisten sejak itu, inflasi tetap jauh di atas target ECB sebesar 2%. Perkiraan yang diterbitkan minggu lalu oleh Dana Moneter Internasional menunjukkan bahwa inflasi Eropa tidak akan mencapai target ECB hingga tahun 2025.
Data terbaru juga menunjukkan bahwa ekonomi zona euro tumbuh di bawah perkiraan pada kuartal pertama tahun ini. Ekonomi Eropa diperkirakan hanya akn0,1%. Namun, angka pengangguran menunjukkan sedikit perbaikan di bulan Maret dari bulan sebelumnya sebesar 6,5%.
Selain itu, survei ECB baru-baru ini menunjukkan bahwa bank telah memperketat akses kredit secara signifikan. Ini dapat menunjukkan bahwa suku bunga yang lebih tinggi mulai berdampak pada ekonomi riil.
The Federal Reserve pada hari Rabu mengatakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, membawa kisaran target dana menjadi 5-5,25%, level tertinggi sejak Agustus 2007. Bank sentral juga memberikan sinyal untuk menghentikan kenaikan suku bunga dalam pertemuan yang akan datang.
Dua keputusan bank sentral tersebut terjadi pada saat tekanan pada sektor perbankan, khususnya di Amerika Serikat. Awal pekan ini, JPMorgan mengumumkan akuisisi aset First Republic.
