Profil Indroyono Soesilo, Eks Menteri Jokowi yang Kini Jadi Dubes RI untuk AS
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik delapan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) pada Senin (25/8). Salah satunya adalah Indroyono Soesilo, yang kini mengisi posisi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS).
Dengan pelantikan ini, Indonesia kembali memiliki perwakilan resmi di Washington setelah kursi dubes kosong selama dua tahun sejak Roeslan Roeslani mengakhiri masa jabatannya pada Juli 2023.
Dipilih Karena Diplomasi dan Kapasitas Internasional
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Hasan Nasbi menjelaskan penunjukan Indroyono didasari pertimbangan kapasitasnya dalam diplomasi dan kerja sama internasional.
Menurut Hasan, penugasan Indroyono bukan sekadar untuk isu spesifik, melainkan memperkuat hubungan bilateral Indonesia–AS secara menyeluruh, terutama di bidang ekonomi dan investasi.
“Tentu kepentingannya adalah untuk jangka panjang. Hubungan baik, diplomasi, kerja sama, hingga hubungan ekonomi kita dengan Amerika Serikat dalam jangka panjang,” ujar Hasan, Selasa (8/7).
Ia menambahkan, penunjukan duta besar merupakan hak prerogatif Prabowo yang juga mempertimbangkan dinamika global. Dari total 24 dubes yang akan dilantik, 18 di antaranya berasal dari diplomat karier Kementerian Luar Negeri.
Perjalanan Karier
Indroyono Soesilo lahir pada 27 Maret 1955 di Jawa Barat. Ia dikenal sebagai seorang insinyur geologi, politikus, sekaligus diplomat. Kariernya dimulai di dunia akademik sebagai Asisten Laboratorium Petrografi dan Asisten Kampus Lapangan Geologi Karang Sambung ITB pada 1976 hingga 1978.
Ia kemudian berkiprah di pemerintahan, dengan jejak panjang di bidang kelautan. Indroyono pernah menjabat Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di kancah internasional, ia dipercaya menjadi Direktur Sumber Daya Perikanan dan Akuakultur FAO PBB.
Puncak karier birokratisnya datang pada Oktober 2014, saat Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, meski masa jabatannya berakhir pada Agustus 2015.
Latar Belakang Pendidikan
Sebagai akademisi, Indroyono menempuh pendidikan di berbagai institusi ternama. Ia menyelesaikan Sarjana Teknik Geologi di ITB pada 1979. Tak lama kemudian, ia melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan meraih gelar Master di bidang Remote Sensing dari Universitas Michigan pada 1981.
Perjalanan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktoral di Universitas Iowa, di mana ia meraih gelar Ph.D. di bidang Geologic Remote Sensing pada 1987.
Selain itu, ia juga mengikuti program khusus Remote Sensing Satellite Ground Station Management Training di Kanada pada 1992, memperkaya keahliannya di bidang teknologi penginderaan jauh.
Tantangan Awal: Negosiasi Tarif dengan AS
Tugas besar menanti Indroyono di Washington. Saat ini, Amerika Serikat sudah menetapkan tarif perdagangan untuk produk Indonesia sebesar 19%, hasil negosiasi sementara ketika kursi dubes masih kosong.
Meski begitu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan proses negosiasi akan terus berlanjut, tanpa batas waktu. Itu berarti, Indroyono akan berperan dalam negosiasi tersebut.
Menurut Airlangga, pemerintah ingin berjuang agar sejumlah komoditas mendapat tarif resiprokal lebih rendah hingga mendekati 0%.
"Produk tersebut meliputi kelapa sawit, kopi, kakao, produk agro, produk mineral, komponen pesawat terbang, dan produk industri dari kawasan tertentu," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Kamis (24/7).
