Ekonomi Cina Melambat ke 4,8% Akibat Perang Dagang AS dan Properti Anjlok

Ferrika Lukmana Sari
21 Oktober 2025, 04:38
ekonomi
Katadata
Bendera Cina
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertumbuhan ekonomi Cina melambat pada kuartal ketiga 2025 seiring berlanjutnya tekanan di sektor properti dan meningkatnya ketegangan dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Badan Statistik Nasional Cina melaporkan ekonomi negara tersebut tumbuh 4,8% pada periode Juli–September 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini merupakan laju pertumbuhan paling lambat dalam satu tahun terakhir, turun dari 5,2% pada kuartal sebelumnya.

Data tersebut dirilis hanya beberapa hari sebelum pertemuan para pemimpin puncak Cina yang akan membahas arah kebijakan ekonomi dalam lima tahun mendatang.

Badan Statistik Nasional menyatakan ekonomi Cina menunjukkan ketahanan dan vitalitas yang kuat di tengah tekanan global. Lembaga itu menyebut sektor teknologi dan jasa bisnis sebagai pendorong utama pertumbuhan.

Pemerintah Beijing menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% tahun ini. Dukungan kebijakan fiskal dan moneter sejauh ini berhasil menghindarkan perlambatan tajam, meskipun ketegangan dagang kembali meningkat setelah Beijing memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah ajarang atau mineral penting bagi industri elektronik global.

Langkah itu memicu reaksi cepat dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan memberlakukan tarif tambahan hingga 100% terhadap impor dari Cina.

Menkeu AS akan Bertemu Pejabat Cina

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut akan bertemu pejabat Cina di Malaysia pekan ini untuk menurunkan ketegangan dan mempersiapkan pertemuan antara Trump dan Presiden Xi Jinping.

Sebelum ketegangan terbaru, pelaku usaha Cina sempat memanfaatkan masa gencatan dagang untuk meningkatkan ekspor ke AS. Ekspor Cina tercatat naik 8,4% pada September, sementara nilai impor juga meningkat.

Produksi industri tumbuh 6,5% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh kinerja kuat sektor 3D printing, robotika, dan kendaraan listrik. Sektor jasa yang mencakup teknologi informasi, konsultasi bisnis, serta transportasi dan logistik juga mencatatkan pertumbuhan.

Ekonom senior Oxford Economics Sheana Yue mengatakan ekspor membantu menutupi lemahnya permintaan domestik di Cina. Menurutnya, tren ini menunjukkan daya beli masyarakat masih belum pulih sepenuhnya.

Yue menilai kecil kemungkinan pertumbuhan ekonomi Cina tahun ini melampaui 4,8% tanpa tambahan dukungan dari pemerintah. "Kebijakan baru kemungkinan akan dimasukkan dalam Rencana Lima Tahun yang saat ini tengah disusun," kata Yue dikutip dari BBC, Senin (21/10).

Sementara itu, sektor properti masih menjadi beban besar. Investasi real estat turun 13,9% sepanjang tahun hingga September 2025, di tengah penurunan harga rumah, menyusutnya penjualan, dan proyek-proyek yang terbengkalai.

Dosen ekonomi Laura Wu dari Nanyang Technological University menilai sektor perumahan masih menjadi penarik utama perlambatan ekonomi Cina. Dalam jangka panjang, perumahan tetap menjadi hambatan terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Cina.

"Bahkan ketika negara ini menghadapi ketidakpastian akibat tarif dan hambatan dagang dari Washington,” kata Wu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ferrika Lukmana Sari

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...