BI Waspadai 370 Juta Ancaman Siber, Siapkan Blueprint Keamanan Digital

Rahayu Subekti
31 Oktober 2025, 16:36
siber
ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta berjalan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/9/2025). Filianingsih Hendarta diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi penyaluran dana tanggung jawab perusahaan (corporate social responsibility/CSR) Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan saat ini terdapat lebih dari 370 juta ancaman kejahatan siber yang perlu diwaspadai. BI juga mencatat adanya anomali trafik siber di Indonesia meningkat 25% sepanjang 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan peningkatan tersebut menjadi peringatan bagi seluruh pihak, terutama di tengah akselerasi transformasi digital di Tanah Air.

“Kita juga harus waspada bahwa tantangan baru dari meningkatnya risiko siber, juga isu interoperabilitas antar sistem,” ujar Filianingsih dalam acara Opening Ceremony Day 2 FEKDI X IFSE 2025, Jumat (31/10).

Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik sebagai fondasi utama dalam ekosistem digital yang tangguh. “Kita tahu yang namanya kepercayaan itu, it takes a long time to build, but it takes only a second to break,” katanya.

BI Siapkan BSPI 2030

Untuk mengantisipasi tantangan digitalisasi dan risiko serangan siber, BI telah menyiapkan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Blueprint ini menjadi panduan strategis untuk memperkuat sinergi antar lembaga dan menjaga keamanan sistem pembayaran nasional.

“Melalui BSPI 2030, Bank Indonesia hadir mencoba untuk menjawab tantangan tersebut dengan mendorong sinergi, inovasi, kolaborasi, dan keamanan sistem pembayaran,” ujar Filianingsih.

Data BI menunjukkan, penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66%, atau sekitar 229 juta jiwa dari total populasi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, yaitu 68,7% dari sekitar 6,66 miliar penduduk dunia.

Filianingsih menegaskan, upaya memperkuat infrastruktur digital tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dan kerja sama dengan komunitas internasional untuk menghadapi ancaman siber global yang terus berkembang.

“Kami juga melakukan kerja sama internasional agar tidak tertinggal, dan tidak terlena hanya bermain di domestik saja,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...