Gerai Money Changer Ramai Saat Rupiah Melemah, Transaksi Dolar AS Naik 10%
Sejumlah gerai penukaran uang atau money changer di kawasan Blok M, Jakarta Selatan terpantau ramai pengunjung, seiring dengan pelemahan rupiah yang nyaris menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan pantauan Katadata, di Tritunggal Money Changer yang berada di Blok M Plaza, antrean mengular hingga keluar gerai. Di kios berukuran 3x3 meter itu, empat petugas sibuk melayani transaksi. Arka (21), salah satu pengunjung mengatakan ia hendak menukarkan rupiah ke won Korea Selatan untuk keperluan studi.
“Saya mau ke Korea Selatan, jadi butuh backup cash. Memang kelihatannya rupiah lagi anjlok, tapi saya enggak terlalu mengikuti perkembangannya,” ujar Arka kepada Katadata.
Sementara itu, pengunjung lainnya Nanik (43) mengatakan beberapa hari ini ia membaca berita soal melemahnya Rupiah. Meski sempat khawatir terkait pelemahan, ini ia dan keponakannya justru melakukan penukaran rupiah ke SDG.
“Iya kemarin sempet liat itu [berita rupiah melemah]. Tapi ya ke kita alhamdulillah gak gimana-gimana ya, ini aja saya mau tuker ke SDG,” kata Nanik.
Di tempat terpisah Defi Alwi (23), petugas money changer Al Jazeera di Blok M Square, mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir tergolong signifikan.
“Nilai tukar kita ke USD itu hampir mendekati yang paling lemah sepanjang sejarah. Dari Rp16.300, Rp16.400, sekarang hampir ke Rp17.000. Jujur, agak serem,” ujarnya.
Menurut Defi, kondisi tersebut mendorong peningkatan transaksi dolar AS. “Banyak orang yang memegang USD memilih menukarkannya sekarang karena harganya lagi tinggi. Untuk transaksi USD, di kita volumenya naik sekitar 5–10%,” kata dia.
Defi menyebutkan di gerai tempat ia bekerja, nilai beli dolar AS berada di kisaran Rp16.750, sementara harga jual sekitar Rp16.890.
“Memang belum tembus Rp17.000. Tapi kalau kurs internasional, itu sudah sangat mendekati,” katanya.
Dari sisi pelaku usaha, pelemahan rupiah juga membawa risiko tersendiri. Dia menjelaskan lantaran mengambil di harga tertinggi, pihaknya harus segera memutar uang kembali lantaran tak tahu kapan kurs bisa turun.
“Jadi harus secepat mungkin kita puter lagi sih uang itu. Karena kita nggak tau kapan turun lagi kan banknya. Jadi kita secepatnya itu setelah kita ngambil dari pelanggan itu kita putar lagi uangnya,” kata dia.
Sebagai informasi Sebelumnya, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026. Keputusan ini diambil di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang tengah melemah mendekati 17.000 per dolar AS.
Sedangkan Suku bunga deposit facility diputuskan tetap sebesar 3,75% dan lending facility tetap sebesar 5,50%.
"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yakni pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global dan mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (21/1).
Perry mengatakan, nilai tukar rupiah pada Selasa (20/1) bertengger di level 16.945 per dolar AS, melemah 1,53% sepanjang tahun ini. Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global dan kenaikan permintaan valas.
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (22/1) sore, rupiah ditutup di level Rp16.895 per dolar AS, menguat 40 poin atau 0,24% dibandingkan penutupan sebelumnya.
"Guna menjaga stabilitas ini, BI akan meningkat intensitas langkah-langkah stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar," kata dia.
