RI–Vietnam Berpeluang Besar Kerja Sama di Sektor Perikanan dan Kelautan
Pemerintah menilai, terdapat peluang besar bagi Indonesia dan Vietnam untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor ekonomi, khususnya perikanan dan kelautan. Potensi kolaborasi tersebut muncul karena kedua negara memiliki keunggulan yang saling melengkapi di sektor perikanan.
“Indonesia memiliki salah satu wilayah perikanan laut terbesar di dunia, tetapi armada dan peralatan penangkapan ikan kami masih perlu diperkuat. Di sisi lain, Vietnam memiliki kemampuan industri perikanan yang kuat, tetapi wilayah tangkapnya terbatas,” ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy dalam Indonesia Vietnam Friendship Asosiation, Selasa (10/3).
Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan, dengan menggabungkan luasnya sumber daya kelautan Indonesia dengan keahlian industri perikanan yang dimiliki Vietnam.
Rachmat mengungkapkan, potensi kerja sama tersebut telah beberapa kali dibahas antara Menteri Perikanan Indonesia serta Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Ta Van Thong.
Indonesia dan Vietnam saat ini telah melaksanakan kerja sama di bidang ini, seperti budidaya lobster, tuna, rumput laut, investasi keramba jaring apung (KJA), serta pemberantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.
Berdasarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ekspor perikanan Indonesia ke Vietnam meliputi 672 jenis produk perikanan.
Adapun 10 besar produk yang diekspor, yakni frozen squid, frozen whole round squid, frozen cuttle fish, frozen yellowfin tuna, frozen yellowfin tuna loin, dried gracilaria seaweed, frozen yellowfin tuna gill gutted, frozen squid whole round, frozen soft cuttle fish dan sea frozen cuttle fish.
Selain sektor kelautan, Rachmat menilai kedua negara juga memiliki peluang kerja sama dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan perkotaan.
Indonesia maupun Vietnam saat ini menghadapi tantangan yang sama berupa urbanisasi yang pesat dan meningkatnya kebutuhan akan perumahan modern serta pengembangan kota terpadu.
“Ini membuka peluang bagi kedua negara untuk saling belajar dan bekerja sama dalam pengembangan kota yang lebih terintegrasi,” katanya.
