Kerja sama sektor pertanian antara Indoonesia dan Vietnam dinilai semakin penting dan berpeluang meningkat di tengah tantangan global terhadap sistem pangan.
Purbaya mengklaim kondisi defisit APBN Indonesia lebih sehat dibandingkan dua negara di kawasan, yakni Vietnam dan Malaysia, meski kalah dari sisi pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu.
Industri kaca lembaran nasional menghadapi tekanan baru menyusul rencana pemerintah Vietnam menerapkan bea masuk anti-dumping (BMAD) pada produk kaca impor dari Indonesia dan Malaysia.
Vietnam akan mengenakan pungutan untuk produk kaca lembaran dari Malaysia dan Indonesia. Besaran pungutan yang diberlakukan berkisar antara 15,17% hingga 63,39%.
27 pabrik tekstil dari Vietnam dan Cina berencana pindah ke Jawa Tengah, berpotensi serap 120 ribu pekerja, seiring tarif Amerika yang mempengaruhi kebijakan investasi.
Indonesia menghentikan ekspor benih bening lobster ke Vietnam setelah kerjasama pengembangan industri gagal, mengakibatkan prevalensi penyelundupan yang tinggi meskipun ada MoU.
Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi kuartalan tertinggi sejak 2011 dengan PDB naik 8,23% pada Kuartal III 2025, melawan dampak tarif perdagangan 20% yang diterapkan oleh AS.
Total nilai perdagangan Vietnam, yang mencakup impor dan ekspor, melampaui US$ 680 miliar atau Rp 11.261 triliun (kurs Rp 16.560/US$) dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
VinFast, produsen mobil listrik dari Vietnam, berencana membuka pabrik pertamanya di Subang, Jawa Barat, pada 2025, dengan target awal serap 1000 pekerja.
Vietnam mempercepat proses IPO dan membuka peluang kepemilikan asing hingga 100% di berbagai sektor, langkah ini diharapkan meningkatkan investasi dan menarik investor global.