Ekonomi Cina Ngebut Awal 2026 Meski Ada Perang, Tumbuh di Atas Ekspektasi

Image title
16 April 2026, 14:31
ekonomi cina, pertumbuhan ekonomi cina, cina
ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/wsj.
Presiden China Xi Jinping (bawah).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ekonomi Cina menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari perkiraan, di tengah ketidakpastian global akibat perang di Iran. Pertumbuhannya mencapai 5% pada kuartal I 2026, di atas proyeksi ekonom sebesar 4,8%. 

Angka pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini juga jauh lebih baik dibandingkan kuartal terakhir tahun lalu yang hanya mencapai 4,5%. Kinerja ini mengindikasikan bahwa dampak perang Iran terhadap ekonomi Cina masih terbatas, dan memberi ruang bagi pemerintah untuk tidak tergesa-gesa menambah stimulus ekonomi.

Dari sisi sektoral, produksi industri tumbuh 5,7% secara tahunan pada Maret, tetapi sedikit melambat dibandingkan awal tahun. Sementara itu, konsumsi domestik masih tertahan, tercermin dari penjualan ritel yang hanya naik 1,7%, lebih rendah dari periode Januari-Februari sebesar 2,8%.

Ekonom Guotai Junan International Hao Zhou menjelaskan, sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Cina dalam jangka pendek. 

“Sektor manufaktur masih tangguh dan menjadi jangkar utama pertumbuhan. Ke depan, fokus kebijakan akan pada reflasi dan penguatan permintaan domestik,” ujarnya. 

Perang yang kini memasuki minggu ketujuh belum mengganggu momentum pertumbuhan yang terbentuk sejak awal 2026, antara lain berkat langkah Cina dalam beberapa tahun terakhir untuk memperkuat ketahanan energi dan melindungi ekonominya dari gejolak global. 

Tekanan deflasi yang berlangsung lama juga meredam dampak langsung kenaikan harga minyak terhadap harga konsumen. 

Meski permintaan domestik belum sepenuhnya pulih, pemerintah Cina menilai belum perlu menggelontorkan stimulus tambahan dalam waktu dekat. Hal ini juga sejalan dengan penyesuaian target pertumbuhan ekonomi menjadi 4,5% hingga 5% untuk tahun ini terendah sejak 1991. 

“Secara keseluruhan, indikator makro utama pulih pada kuartal pertama, dan penggerak baru tumbuh cepat. Namun, situasi eksternal semakin kompleks dan bergejolak, serta ketidakseimbangan antara pasokan domestik yang kuat dan permintaan yang lemah masih terlihat jelas,” kata Biro Statistik Nasional. 

Tanda-Tanda Tekanan Muncul

Sejumlah indikator menunjukkan tekanan mulai terlihat. Tingkat pengangguran perkotaan naik menjadi 5,4% pada Maret, tertinggi dalam setahun. Investasi aset tetap hanya tumbuh 1,7%, sedangkan sektor properti masih tertekan dengan kontraksi hingga 11,2%.

Pertumbuhan ekonomi juga dinilai tidak merata, dengan ekspor dan manufaktur berteknologi tinggi menjadi motor utama, sementara konsumsi domestik tertinggal.

Meski dampak langsung perang Iran belum signifikan, para ekonom mengingatkan potensi risiko ke depan, terutama dari sisi energi dan inflasi.

Kenaikan harga minyak global berpotensi mendorong ekspektasi inflasi dan memengaruhi kebijakan moneter. Sejumlah analis mulai memperkirakan bank sentral Cina tidak akan memangkas suku bunga tahun ini. 

Ekonom Australia & New Zealand Banking Group, Raymond Yeung menilai lemahnya permintaan tenaga kerja turut menahan konsumsi.

“Momentum pertumbuhan masih didorong manufaktur. Dengan konflik Timur Tengah dan potensi gangguan energi, risiko penurunan pertumbuhan tetap ada,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...