Rupiah Bertahan di Level 17.700/US$ saat Prabowo Pidato, Ini Target Tahun Depan
Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,02% di level 17.703 per dolar AS di tengah pidato Presiden Prabowo Subianto pagi ini. Prabowo menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 di Sidang Paripurna DPR.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 33 poin di level 17.739 per dolar AS. Kurs rupiah sempat menguat ke level 17.695 per dolar AS pada pukul 09.26 WIB tetapi tak bertahan lama dan kembali ke level 17.700 per dolar AS.
Lantas bagaimana asumsi rupiah tahun depan?
Prabowo menargetkan nilai tukar rupiah berada pada level 16.800 - 17.500 per dolar AS pada 2027. Ia menegaskan, strategi yang diambil pemerintah haruslah yang mampu untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil terhadap mata uang dunia.
“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” kata Prabowo dalam pidatonya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5).
Rupiah menembus level terlemahnya beberapa hari terakhir. Bank Indonesia sebelumnya menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat dan memadai meski untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah intervensi BI untuk menjaga rupiah yang melemah sejak awal tahun ini telah menggerus posisi cadangan devisa.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 mencapai US$ 146,2 miliar. Level tersebut dinilai masih sangat memadai untuk mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114% dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional yang ditetapkan IMF dan mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia,” ujar Ramdan dalam pernyataan resmi, Selasa (19/5).
Ia menegaskan, BI terus mengelola cadangan devisa secara terukur untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat dengan DPR Komisi XI sebelumnya mengungkapkan cadangan devisa memang mengalami penurunan seiring meningkatnya intensitas intervensi BI di pasar valuta asing.
“Memang turun. Dulu pernah 121, sekarang 114. Tapi masih di atas 100. Masih lebih dari cukup,” kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.
Perry menjelaskan ukuran kecukupan cadangan devisa mengacu pada indikator Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang ditetapkan International Monetary Fund atau IMF.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan merasa yakin nilai tukar rupiah akan kembali menguat. Saat ini rupiah berada di level terendah, di mana pada penutupan Selasa (19/5) mata uang nasional itu dihargai Rp 17.706 per dolar AS.
Purbaya mengatakan, saat ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengupayakan penguatan rupiah melalui pembelian obligasi di pasar sekunder. Ia menilai cara ini efektif mengundang para investor asing untuk masuk ke pasar keuangan.
“Rupiah tidak akan bertahan di level yang (rendah) ini untuk terlalu lama. Kan tadi kita sudah melihat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi kan? Dana mulai masuk ke sini, dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (19/5) malam.
Di sisi lain, Purbaya menyatakan tidak akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Begitu pun dengan asumsi terhadap harga minyak dunia yang tidak akan bergeser dari US$ 100 per barel.
“Saya tidak harus mengubah apa-apa lagi, kita sudah melakukan penghematan yang sudah kita pikir cukup untuk keadaan sekarang, termasuk rupiahnya sudah bergeser waktu melakukan simulasi itu,” kata dia.
Mantan ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu juga mengatakan, saat ini investor asing mulai masuk ke pasar obligasi.
“Rp 1,3 triliun masuk ya. Tapi, akibatnya yield bond turun, asing ikut masuk. Hari ini di pasar sekunder masuk Rp 500 miliar, di pasar primer masuk Rp 1,68 triliun. Jadi, tindakan kita menjaga stabilitas bond market itu sudah bisa mengembalikan kepercayaan investor asing,” kata Purbaya.
