Wall Street Menghijau, Saham Semikonduktor Pimpin Reli

Karunia Putri
10 Juli 2026, 06:16
Bursa efek New York atau Wall Street.
NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa saham di Amerika Serikat, Wall Street ditutup naik pada perdagangan Kamis (9/7), didorong kenaikan saham sektor semikonduktor. Pelemahan harga minyak juga mengerek indeks ke zona hijau.

Indeks Nasdaq Composite memimpin kenaikan sebesar 1,30% ke level 26.206,89. Sementara itu, S&P 500 naik 0,81% menjadi 7.543,64 dan Dow Jones Industrial Average bertambah 139,02 poin atau 0,27% ke level 52.487,41.

Kinerja sektor teknologi menjadi penopang utama pasar. ETF VanEck Semiconductor (SMH) melonjak 2,5% setelah saham Micron Technology naik 4,5% dan Sandisk melesat 7,6%.

Sentimen pasar masih dibayangi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Untuk hari kedua berturut-turut, militer AS melancarkan serangan ke Iran sebagai respons atas serangan Teheran terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz yang mengganggu arus pelayaran di jalur perdagangan strategis tersebut.

Kendati demikian, harga minyak mentah justru turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran menghubungi Washington untuk membuka peluang kesepakatan. 

Perkembangan itu terjadi sehari setelah Trump mengatakan dirinya kemungkinan tak lagi berminat melanjutkan negosiasi dengan Iran. Sebelumnya, dia juga menyatakan gencatan senjata antara Washington dan Teheran telah berakhir

Chief Investment Officer Verdence Megan Horneman mengatakan, konflik tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian yang dapat memicu inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar.

"Konflik ini bisa saja berakhir besok, atau justru berkembang menjadi peristiwa yang lebih besar. Kita tidak tahu. Karena itu, investor perlu memiliki portofolio saham yang terdiversifikasi secara global," kata Horneman dikutip dari CNBC, Jumat (10/7).

Menurut dia, pasar berpotensi tetap bergejolak karena investor mulai terbiasa dengan dinamika konflik yang terus memanas dan mereda. Ia juga menilai valuasi saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga setidaknya sekali pada paruh kedua 2026.

Selain itu, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari harga minyak. Meski investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) berpotensi menekan inflasi dalam jangka panjang, dalam jangka pendek belanja investasi yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, serta konsumsi masyarakat yang tetap solid justru dapat memperkuat tekanan inflasi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...