Aksi Jual Mengguncang Obligasi Global, Yield Tembus Level Tertinggi Sejak 2007
Imbal hasil atau yield rata-rata obligasi pemerintah global melonjak mendekati 4%, tingkat tertinggi sejak 2007. Kenaikan ini terjadi seiring aksi jual investor.
Berdasarkan indeks Bloomberg Global Aggregate Treasuries, rerata yield obligasi pemerintah secara global naik 18 points menjadi 3,99% pada Rabu (23/9). Kenaikan yield ini terutama didorong oleh penurunan harga obligasi pemerintah AS.
Data ekonomi AS yang kuat, diiringi inflasi yang membandel dan kekhawatiran fiskal yang meningkat mendorong ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Hal ini menyebabkan harga obligasi AS turun sehingga yield-nya meningkat.
Aksi jual investor dinilai berisiko meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah, dunia usaha, dan rumah tangga. Hal ini juga membuat saham menjadi kurang menarik karena imbal hasil yang lebih tinggi menggerus nilai pendapatan perusahaan di masa depan.
Lelang obligasi AS tenor lima tahun pekan ini tercatat menjadi yang terburuk kedua—berdasarkan salah satu tolok ukur data sejak 2018. Kondisi ini dinilai mencerminkan tekanan terhadap pemerintah AS dalam menghadapi kenaikan biaya pembayaran bunga atas utang yang mencapai sekitar US$ 40 triliun.
"Inflasi masih tinggi dan sulit turun di banyak tempat, pasar tenaga kerja mengalami pengetatan karena berbagai alasan, dan meskipun harga bahan bakar serta harga-harga lainnya meningkat, perekonomian tetap tumbuh dengan baik," ujar Amy Xie Patrick, manajer investasi di Pendal Group.
Menurut indeks Bloomberg, obligasi pemerintah global telah mencatat penurunan nilai sekitar 2,4% tahun ini, kontras dengan kenaikan 6,8% pada tahun lalu. Pada Rabu (23/9), indeks tersebut mencatat penurunan harian terbesar sejak bulan Mei pada hari Rabu.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun—yang sensitif terhadap kebijakan moneter bahkan melonjak 13 basis poin menjadi 5,07%, level tertinggi sejak Mei 2011. Imbal hasil obligasi Selandia Baru tenor dua tahun naik hingga 17 basis poin menjadi sedikit di bawah 4%.
Kenaikan juga terjadi pada imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 1996.
"Masih minimnya permintaan—bahkan dari investor domestik, mulai dari dana pensiun, bank, hingga perusahaan asuransi jiwa—untuk menopang pasar JGB (obligasi pemerintah Jepang)," ujar Carol Lye, manajer portofolio di Brandywine Global Investment Management, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV.
Para ahli strategi di JPMorgan Chase & Co. dan KKR & Co. melihat adanya potensi kenaikan lebih lanjut pada imbal hasil obligasi AS, seiring dengan terus menguatnya faktor-faktor pendorong seperti inflasi akibat harga energi, besarnya utang pemerintah, dan risiko pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh bank sentral.
Imbal hasil obligasi AS tenor lima tahun menembus angka 5% pada Rabu (23/9) untuk pertama kalinya sejak 2007, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun mencatat lonjakan terbesar sejak guncangan tarif pada April 2025. Data ekonomi yang kuat dan lonjakan harga minyak mendorong para pedagang untuk meningkatkan spekulasi mengenai pengetatan kebijakan lanjutan oleh Federal Reserve.
Pasar swap kini sepenuhnya memperhitungkan tiga kali kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin dalam setahun ke depan, disertai dengan aktivitas lindung nilai yang signifikan untuk kemungkinan kenaikan keempat. Lelang obligasi Treasury tenor lima tahun senilai US$ 70 miliar pada Rabu menghasilkan tingkat imbal hasil tertinggi sejak 2006.
Meningkatnya volatilitas menambah sentimen negatif, membuat investor lebih ragu untuk masuk ke pasar meskipun imbal hasil yang lebih tinggi menjadikan obligasi lebih menarik. Indeks ICE BofA MOVE, yang mengukur fluktuasi pasar obligasi AS, naik pada Rabu (23/9) ke level tertinggi sejak Maret.
"Sebagian besar pelaku pasar fixed income menyukai imbal hasil yang lebih tinggi, namun mereka menginginkan tingkat imbal hasil tersebut stabil—karena khawatir akan risiko membeli aset yang harganya sedang jatuh tajam," ujar ahli strategi di TD Securities Hans Mikkelsen.
