Ikuti AS dan Jepang, Australia Kerek Bunga ke Level Tertinggi dalam 15 Tahun
Bank sentral Australia kembali menaikkan suku bunga pada Selasa (29/9). Langkah ini seringnya kuatnya permintaan dan lonjakan biaya energi yang berisiko memperparah tekanan inflasi.
Dewan Reserve Bank menaikkan suku bunga acuan dari sebelumnya 4,35% menjadi 4,6%, sesuai dengan perkiraan luas pasar. Kenaikan ini mendorong biaya pinjaman ke tingkat tertinggi dalam sekitar 15 tahun terakhir.
Komite kebijakan yang beranggotakan sembilan orang secara bulat sepakat untuk melakukan kenaikan keempat tahun ini, sembari memperingatkan dalam pernyataanya bahwa perusahaan-perusahaan sedang menghadapi tekanan biaya dan telah atau berencana menaikkan harga jual mereka.
Namun, dalam konferensi pers setelahnya, Gubernur Michele Bullock menyatakan harapan bahwa pengetatan yang telah dilakukan sepanjang tahun ini sudah cukup untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target, serta mengungkapkan bahwa dewan sempat mempertimbangkan untuk memperpanjang masa jeda kenaikan suku bunga.
Menanggapi hal ini, imbal hasil obligasi tenor tiga tahun yang sensitif terhadap kebijakan turun 8 basis poin, sedangkan nilai tukar dolar Australia melemah hingga di bawah 70 sen AS untuk pertama kalinya sejak Agustus. Pasar uang mengurangi spekulasi mengenai langkah pengetatan lebih lanjut karena para pelaku pasar menilai komentar Bullock tidak se-"hawkish" pernyataan resmi bank sentral tersebut.
"Meskipun kerangka umum keputusan hari ini terdengar hawkish, Gubernur RBA berulang kali menyatakan dalam konferensi persnya bahwa strategi menurunkan inflasi dengan tetap mempertahankan pencapaian di pasar tenaga kerja masih tetap dijalankan," ujar Sally Auld, kepala ekonom di National Australia Bank Ltd.
Strategi ini, menurut dia, mengisyaratkan keinginan untuk mengambil pendekatan yang lebih bertahap dalam penyesuaian kebijakan.
RBA mengikuti langkah bank sentral di Eropa, AS, dan Jepang yang menaikkan suku bunga bulan ini guna mengatasi tekanan harga yang meningkat akibat konflik AS-Iran. Dengan kecilnya peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat serta melonjaknya harga energi di seluruh ekonomi global, bank-bank sentral terpaksa harus mengambil tindakan.
"Sejak pertemuan sebelumnya, beberapa risiko kenaikan inflasi mulai menjadi kenyataan," demikian pernyataan dewan kebijakan tersebut.
Dewan Reserve Bank pun memastikan akan terus melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target secara berkelanjutan, termasuk menaikkan kembali target suku bunga acuan jika diperlukan.
Para pejabat RBA telah memberikan sinyal yang semakin hawkish dalam beberapa minggu terakhir dan mengindikasikan kesiapan untuk menaikkan suku bunga jika diperlukan, demi memastikan inflasi kembali ke kisaran target 2-3%. Bank sentral tersebut telah menaikkan biaya pinjaman dalam tiga pertemuan pertamanya tahun ini, karena khawatir akan tekanan harga yang meningkat bahkan sebelum terjadinya lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah.
"Harga bahan bakar yang lebih tinggi sebagian telah berdampak pada harga barang dan jasa lainnya. Dorongan inflasi ini menambah dampak dari tekanan kapasitas dalam perekonomian," demikian bunyi pernyataan tersebut.
RBA mempertahankan suku bunga di angka 4,35% dalam dua pertemuan sebelumnya, sembari berupaya mengukur dampak dari langkah-langkah pengetatan yang dilakukan secara beruntun terhadap perekonomian. Kenaikan bunga pada hari ini menjadikan total pengetatan kumulatif tahun ini mencapai 1 poin persentase.
Risiko kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan November juga telah banyak dibahas oleh para ekonom, mengingat adanya kekhawatiran bahwa tekanan harga akan mengakar kuat.
Dalam konferensi persnya, Bullock mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga berikutnya bukanlah suatu kepastian.
"Harapannya adalah langkah ini, empat kali kenaikan suku bunga tersebut, cukup restriktif untuk menurunkan laju inflasi. Namun, apakah itu akan cukup? Saya tidak tahu. Saya tidak akan memberikan panduan kebijakan ke depan,'" ujar Bullock.
Ekspektasi pasar mengenai langkah lanjutan pada November menurun, dengan probabilitas sekitar 45%, turun dari sekitar 61% sebelum Gubernur memberikan keterangan. Meskipun para pelaku pasar masih memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sekali lagi dalam siklus ini, suku bunga Australia kini diprediksi akan mencapai puncaknya di bawah 5%.
