BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Deposit Facility Naik Jadi 5%

Ade Rosman
21 Oktober 2026, 14:38
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti (ketiga kiri) bersama Deputi Gubernur Senior Aida S. Budiman (ketiga kanan) Deputi Gubernur Ricky P. Gozali (kedua kanan), Deputi Gubernur Solikin M. Juhro (kanan), Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta (kedua kiri
Katadata/Fauza Syahputra
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti (ketiga kiri) bersama Deputi Gubernur Senior Aida S. Budiman (ketiga kanan) Deputi Gubernur Ricky P. Gozali (kedua kanan), Deputi Gubernur Solikin M. Juhro (kanan), Deputi Gubernur Filianingsih Hendarta (kedua kiri) dan Deputi Gubernur Thomas A.M Djiwandono (kiri) bersiap menyampaikan paparan pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Oktober 2026. Namun, BI menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5% dari level sebelumnya.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan tekanan eksternal yang meningkat, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan tetap ketat dalam waktu lebih lama.

BI juga mempertahankan suku bunga lending facility sebesar 6,5%.

“Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen domestik non-deliverable forward atau DNDF lindung nilai kepada Bank Indonesia guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” Kata Destry dalam konferensi pers hasil RDG, di kantor BI, jakarta, Rabu (21/10).

Destry menjelaskan perekonomian global saat ini masih dibayangi ketidakpastian keuangan yang tinggi yang dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong harga minyak dan berbagai komoditas dunia tetap tinggi.

Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 3%, sementara tekanan inflasi diproyeksikan mencapai 4,6%.

Di sisi lain, kebijakan moneter global diperkirakan tetap ketat atau higher for longer. BI juga menyoroti besarnya peluang kenaikan kembali suku bunga kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang berpotensi menjaga imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury tetap tinggi.

Destry menuturkan hal ini membatasi minat investor terhadap aset portofolio di negara berkembang dan turut menopang penguatan dolar AS.

Menghadapi tekanan tersebut, Destry menuturkan BI terus berupaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

Ia menyebut, rupiah pada 20 Oktober 2026 berada di level Rp17.985 per dolar AS atau melemah 0,61% secara point-to-point dibandingkan posisi akhir September 2026.

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI mengoptimalkan berbagai instrumen moneter dan memperkuat insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing.

Ia menjelaskan berdasarkan data BI, sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan insentif biaya lindung nilai atau hedging cost tersebut telah menarik aliran modal asing sebesar US$ 9,9 miliar hingga 20 Oktober 2026.

Destry menuturkan, ke depan BI memperkirakan rupiah bergerak stabil, ditopang oleh komitmen stabilitas bank sentral, imbal hasil aset rupiah yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek ekonomi domestik yang tetap baik.

Destry menuturkan, selain menjaga stabilitas, BI tetap mengarahkan kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan ke sektor riil.

Pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat sebesar 13,26% secara tahunan atau year-on-year. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh 23,2%, kredit modal kerja 11,89%, dan kredit konsumsi 4,86%.

Meski demikian, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat lebih rendah, yakni 8,22% secara tahunan.

BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada dalam kisaran 8%-12%. Destry menyebut, untuk mendukung penyaluran pembiayaan, BI akan terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 4,9%–5,7%.

Di sisi harga, inflasi indeks harga konsumen pada September 2026 tercatat 3,28% secara tahunan. Sementara itu, inflasi pangan atau volatile food mencapai 5,03%, terutama dipengaruhi penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca.

Destry memastikan BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...