Ekspor September 2026 Melonjak 11,87%, Ditopang CPO dan Tembaga

Mela Syaharani
2 November 2026, 12:35
Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat panen di Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (2/6/2026). Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi (HR) minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) periode 1?3
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom.
Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat panen di Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (2/6/2026). Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi (HR) minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) periode 1?30 Juni 2026 sebesar 1.029,51 dolar AS per metrik ton (MT), turun 20,07 dolar AS dibandingkan periode sebelumnya sebesar 1.049,58 dolar AS per MT akibat menurunnya permintaan dari importir utama seperti India.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor pada September 2026 naik 11,87% secara tahunan menjadi US$ 27,59 miliar pada September 2026. Kinerja ini antara lain ditopang oleh lonjakan pada ekspor minyak hewan nabati atau CPO.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kenaikan terutama terjadi ekspor nonmigas yang mencapai  12,39% menjadi US$ 26,64 miliar. Sedangkan ekspor migas turun 0,99% menjadi US$ 0,95 miliar .

“Kenaikan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh beberapa beberapa komoditas, yaitu lemak dan minyak hewani nabati atau HS 15 sebesar 89,04% secara year-on-year. Andil lemak dan minyak hewani nabati mencapai 8,47% terhadap kenaikan total ekspor,” kata Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11).

Ateng menyebut  kenaikan ekspor juga disumbang dari beberapa komoditas lain. Ia mencatat ekspor komoditas tembaga dan barang daripadanya naik sebesar 165,97% secara year-on-year-nya dengan andilnya terhadap total ekspor sebesar 1,61%. Kemudian ekspor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, naik sebesar 24,37% dengan andil sebesar 1,61%.

Jika dilihat berdasarkan sektornya, menurut Ateng, ekspor industri pengolahan masih mendominasi mencapai US$ 23,27 miliar, disusul sektor pertambangan dan lainnya US$ 2,86 miliar, dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sebesar US$ 0,51 miliar. 

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh industri pengolahan yang naik secara year-on-year-nya sebesar 16,78% dengan memberikan andil terhadap kenaikan terhadap total ekspor 13,56%,” ujarnya.

Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya beberapa nilai ekspor, yaitu minyak kelapa sawit, tembaga, nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, serta juga dari aluminium.

Sementara itu, ekspor sektor pertambangan dan lainnya mengalami penurunan sebesar 9,37% secara year-on-year-nya. Hal serupa juga terjadi di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menurun secara year-on-year-nya sebesar 18,14%.

Adapun BPS mencatat, nilai ekspor secara kumulatif sepanjang Januari-Septeber 2026 mencapai US$ 221,23 miliar. Angka ini naik 5,58% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...