Ekspor Tembaga Melonjak 165,97%, Foil Tembaga Naik Ribuan Persen

Ade Rosman
2 November 2026, 17:31
tembaga, ekspor
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor tembaga pada September 2026 melonjak 165,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Komoditas ini menjadi salah satu penyumbang kenaikan ekspor. 

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, lonjakan ekspor komoditas ini berasal dari tiga kelompok produk, yaitu tembaga dimurnikan dan paduan tembaga tidak ditempa dengan kode HS 7403 yang tumbuh 246,59%.

Peningkatan sebesar 58,83% juga terjadi pada ekspor kawat tembaga dengan kode HS 7408, dan foil tembaga dengan kode HS 7410 yang melonjak hingga 1.163,23%.

“Untuk yang ekspor tembaga dan barang daripadanya itu kami mencatat dari HS 74 mengalami peningkatan 165,97% secara year-on-year, ini terutama kenaikan cukup signifikannya ini pada beberapa komoditasnya,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11).

Ateng menjelaskan, lonjakan tertinggi terjadi pada ekspor foil tembaga seiring rendahnya nilai ekspor pada periode pembandingnya.  "Artinya naik tinggi karena akibat dari kecil, ya, dia kalau kecil langsung naik yang tinggi sekali. Artinya ini satu potensi ke depannya, ya, dengan catatan bisa untuk terus dipertahankan, ya," katanya.

BPS mencatat kinerja ekspor secara keseluruhan pada September 2026 naik 11,87% secara tahunan menjadi US$ 27,59 miliar pada September 2026. Kinerja ini antara lain ditopang oleh lonjakan pada ekspor minyak hewan nabati atau CPO.

Ateng mengatakan, kenaikan terutama terjadi ekspor nonmigas yang mencapai  12,39% menjadi US$ 26,64 miliar. Sedangkan ekspor migas turun 0,99% menjadi US$ 0,95 miliar.

“Kenaikan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh beberapa beberapa komoditas, yaitu lemak dan minyak hewani nabati atau HS 15 sebesar 89,04% secara year-on-year. Andil lemak dan minyak hewani nabati mencapai 8,47% terhadap kenaikan total ekspor,” kata Ateng.

Jika dilihat berdasarkan sektornya, menurut Ateng, ekspor industri pengolahan masih mendominasi mencapai US$ 23,27 miliar, disusul sektor pertambangan dan lainnya US$ 2,86 miliar, dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sebesar US$ 0,51 miliar.  

“Peningkatan nilai ekspor nonmigas terutama didorong oleh industri pengolahan yang naik secara year-on-year-nya sebesar 16,78% dengan memberikan andil terhadap kenaikan terhadap total ekspor 13,56%,” ujarnya. 

Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya beberapa nilai ekspor, yaitu minyak kelapa sawit, tembaga, nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, serta juga dari aluminium. 

Sementara itu, ekspor sektor pertambangan dan lainnya mengalami penurunan sebesar 9,37% secara year-on-year-nya. Hal serupa juga terjadi di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menurun secara year-on-year-nya sebesar 18,14%. 

Adapun BPS mencatat, nilai ekspor secara kumulatif sepanjang Januari-Septeber 2026 mencapai US$ 221,23 miliar. Angka ini naik 5,58% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...