Cerita Warga Gunung Batur Cilegon yang Kesulitan Memperoleh Air saat Kemarau (Foto: Katadata/Fauza Syahputra) Show
Katadata/Fauza Syahputra
Fauza Syahputra
5 Agustus 2026, 12:00

[Foto] Cerita Warga Gunung Batur Cilegon Dalam Memperoleh Air saat Musim Kemarau

Adzan maghrib berkumandang di kawasan Gunung Batur II, Kota Cilegon, Banten, menyertai Hadaroh (40) dan sejumlah warga setempat lainnya saat menunggu galon terisi air dari sumber mata air Sumur Bendung di kawasan Gunung Batur II, Kelurahan Mekarsari, Kota Cilegon, Banten.

"Sudah satu jam saya nunggu buat isi air," ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (31/7). Hadaroh menyebut musim kemarau yang telah berlangsung sekitar empat bulan memicu krisis air di wilayah tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih biasanya dia mengandalkan sumber mata air Sumur Bendung. Namun saat kemarau debit air menyusut sehingga ia harus memasuki kawasan hutan dengan jalan setapak dan medan yang curam untuk memperoleh air.

Diperlukan waktu sekitar satu jam hingga satu galon air terisi penuh karena air yang keluar dari celah pepohonan hanya mengalir melalui tetesan kecil. Air tersebut digunakan oleh warga untuk kebutuhan minum, mandi dan mencuci pakaian.

Krisis air ini tidak hanya dialami oleh warga di kawasan Gunung Batur 2 saja, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah di bawahnya yakni di Gunung Batur 1.

Warga pun harus bergantian saat mengisi air di dalam hutan yang dibagi menjadi dua bagian selama 12 jam, pada pagi hari mulai pukul 06.00-18.00 dan malam hari dari jam 18.00-06.00. 

Selain itu warga hanya mendapatkan kesempatan mengambil air satu kali per minggunya dengan jatah delapan galon. Hal ini dilakukan untuk menghemat air pada sumber mata air di kawasan tersebut.

Hadaroh menyebut warga mulai teringani dengan bantuan air bersih yang disalurkan oleh pemerintah kota. Bantuan ini mulai berikan sejak awal bulan Juli dengan mendatangkan dua truk air setiap harinya. Dari bantuan ini warga diberikan jatah sebanyak empat galon.

Hadaroh mengatakan krisis air telah dialami oleh warga setiap tahunnya ketika memasuki musim kemarau. Tetapi kondisi kali ini berbeda karena terasa lebih lama. "Basanya dua sampai tiga bulan saja, ini sudah lebih dari itu, kering airnya," katanya.

Kekeringan yang terjadi ini membuat Hadaroh lebih bijak dan berhemat dalam menggunakan air tersebut. "Karena air lagi sulit, satu hari satu galon buat minum dan masak," ujar wanita 40 tahun yang tinggal bersama suami dan satu orang anaknya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026.  

Kondisi ini diperparah dengan fenomena iklim El Nino yang menguat dan akan memangkas curah hujan secara signifikan sehingga musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Fauza Syahputra
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini