Kendalikan Jumlah Perokok, Pemerintah Diminta Naikkan Lagi Cukai Rokok

Image title
19 Mei 2020, 19:01
cukai rokok, pandemi corona, virus corona
ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Seorang konsumen membeli rokok di sebuah supermarket. YLKI menilai pemerintah perlu menaikkan kembali cukai rokok untuk mengurangi jumlah perokok sehingga menurunkan risiko terpapar virus corona sekaligus menambah pendapatan negara untuk menangani pandemi.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI meminta pemerintah untuk kembali menaikkan cukai rokok demi mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia. Ini dilakukan untuk menurunkan risiko terpapar virus corona akibat aktivitas merokok.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan kenaikan cukai rokok merupakan salah satu instrumen untuk mengendalikan jumlah perokok sekaligus menambah pendapatan bagi pemerintah untuk menangani wabah corona.

"Momen seperti ini merupakan momen yang paling fair untuk menggarap cukai yang lebih tinggi pada produk rokok karena sebagai instrumen pengendali dan kemudian bisa mengurangi risiko terinfeksi virus corona akibat aktivitas merokok," kata dia dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (19/5).

Menurut dia, di tengah pandemi yang belum diketahui kapan berakhir, pemerintah perlu mengedukasi masyarakat agar terbiasa menjalani pola hidup sehat, termasuk berhenti merokok. Sebab, risiko kematian bagi para perokok aktif dan perokok pasif yang terpapar corona sangat besar.

(Baca: Konsumsi Rokok Masyarakat Dinilai Masih Tinggi Meski Ada Pandemi)

Belum lagi proses produksinya yang harus mengumpulkan banyak orang dapat menjadi media penularan virus. Oleh karena itu, YLKI mendesak pemerintah untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar berhenti merokok guna mengurangi risiko terpapar virus.

"Ironisnya pemerintah secara keseluruhan maupun Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 belum menyentuh sama sekali soal keterhubungan antara dampak Covid-19 terhadap perokok. Mestinya ini menjadi salah satu yang disampaikan ke publik yaitu perokok punya kontribusi terpapar virus yang sangat besar," kata dia.

Sebelumnya, YLKI menyebutkan sebanyak 12,4% pendapatan masyarakat menengah ke bawah digunakan untuk konsumsi rokok. Bahkan, jumlah uang yang digunakan untuk membeli rokok tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan pengeluaran untuk membeli kebutuhan lauk pauk. Ironisnya ini terjadi di tengah ancaman krisis ekonomi akibat pandemi corona.

Hal ini menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan diri masih sangat rendah. Sebab, dengan kondisi seperti ini seharusnya masyarakat lebih mengutamakan pemenuhan gizi dibandingkan rokok.

(Baca: WHO Peringatkan Perokok Berisiko Lebih Tinggi jika Terjangkit Covid-19)

Adapun berdasarkan laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) yang dirilis pada 2019, bertajuk 'The Tobacco Control Atlas, Asean Region', Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 34% dari total penduduk Indonesia pada 2016.

Sekitar 79,8% dari perokok membeli rokok di kios, warung, atau minimarket, dan 17,6% membeli rokok di supermarket. Di Indonesia terdapat 2,5 juta gerai yang menjadi pengecer rokok. Angka ini belum memperhitungkan kios penjual rokok di pinggir-pinggir jalan.

Filipina adalah negara Asean dengan jumlah perokok terbanyak kedua, yakni 16,5 juta orang atau 15,97% dari jumlah penduduk. Vietnam di posisi ketiga dengan jumlah perokok 15,6 juta orang atau 16,5% dari jumlah penduduk.

Di Filipina, 96,4% perokok membeli rokok di supermarket. Adapun di Vietnam 68,4% perokok membeli rokoknya di kios, warung atau minimarket dan 28,8% membelinya di pedagang kaki lima.

(Baca: Pandemi Corona, Pabrik Rokok Boleh Tunda Bayar Cukai Hingga 3 Bulan)

Adapun pada awal tahun ini pemerintah telah menaikkan cukai rokok sebesar 23% dan harga jual eceran rokok sebesar 35%. Kenaikan ini bertujuan mengendalikan dampak negatif dari konsumsi rokok, terutama dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Selama 2014-2020, cukai rokok telah naik sebanyak lima kali dengan kenaikan tertinggi pada tahun ini.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...