Mengapa Indonesia Gagal Mengendalikan Tingkat Kematian Covid-19

Irwandy
Oleh Irwandy
7 Desember 2020, 09:58
Irwandy
Ilustrator: Joshua Siringoringo | Katadata
Petugas pemakaman memakamkan jenazah Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh di TPU Jalan Muntok, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (4/10/2020). Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh meninggal pada usia 58 tahun di Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT). Ibnu Saleh sempat dirawat secara intensif karena terkonfirmasi positif COVID-19.

Padahal, perilaku memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M), menurut studi di 190 negara pada 23 Januari-13 April 2020, dapat menekan angka penularan di masyarakat dan efektivitasnya meningkat jika dilakukan seluruhnya bersamaan.

Panjangnya durasi pandemi ini juga telah membuat sebagian masyarakat mulai lelah dan kendor dalam menerapkan protokol kesehatan. Riset menunjukkan kelelahan akan kepatuhan ini telah meningkatkan kasus sebesar 61 % hingga Oktober 2020. Penelitian ini memproyeksikan dengan intervensi sederhana seperti memakai masker dan menjaga jarak, dapat menekan kasus hingga 18 % hingga Maret 2021.

Rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat juga meningkatkan risiko kematian. Jumlah angka perokok aktif di Indonesia masih sangat besar yakni 33,8 % pada 2018. Cukup banyak bukti yang menunjukkan merokok dapat menyebabkan penyakit tidak menular yang dapat menjadi faktor pemberat orang yang terinfeksi virus corona. Sebuah penelitian menemukan bahwa risiko kematian Covid-19 tinggi pada populasi yang merokok.

Lingkungan

Lingkungan juga berpengaruh pada tingginya angka kematian. Lingkungan dalam konteks ini tidak hanya lingkungan fisik namun juga lingkungan sosial hingga kebijakan.

Pada lingkungan fisik, studi di Italia menemukan bahwa konsentrasi polutan udara, kelembapan dan temperatur pada berbagai daerah di Italia telah mempengaruhi tingginya angka kematian akibat Covid-19.

Lingkungan sosial seperti kepadatan, struktur umur penduduk, dan perilaku mobilitas yang tinggi juga berkontribusi terhadap peningkatan kematian.

Ketepatan dan kecepatan pengambilan kebijakan juga berpengaruh terhadap angka kematian. Studi pada 121 negara memperlihatkan bahwa keterlambatan pengambilan keputusan pembatasan di sebuah negara meningkatkan risiko kematian (10 % keterlambatan meningkatkan 3,7 % angka kematian). Respons Indonesia pada awal-awal pandemi begitu lambat.

Genetik (Umur dan Penyakit Penyerta)

Hingga 1 Desember, kematian di Indonesia tertinggi ditemukan pada populasi umur di atas 60 tahun (37,2 %).

Adanya penyakit penyerta menyebabkan risiko kematian semakin besar. Di Indonesia hingga 1 Desember ditemukan bahwa lima besar penyakit penyerta tertinggi pada kasus kematian adalah hipertensi (11,7 %), diabetes melitus (10,3 %), penyakit jantung (6,8 %), penyakit ginjal (3 %) dan penyakit paru kronis (2,3 %).

Artikel di Nature juga menemukan negara-negara yang memiliki angka kasus penyakit seperti kardiovaskuler, kanker, dan penyakit pernafasan kronik yang tinggi, akan memiliki angka kematian lebih tinggi.

Perlu Pendekatan Holistik

Di tengah rencana vaksinasi massal yang belum jelas benar waktunya, satunya-satunya jalan kini yang tersedia untuk menekan kematian akibat Covid-19 di Indonesia adalah pemerintah harus segera merespons masalah ini dengan pendekatan yang lebih holistik.

Apalagi potensi penyebaran virus corona akan terjadi besar-besaran pada bulan ini karena akan ada kerumuman massal dalam pemilihan kepala daerah 9 Desember di ratusan daerah dan liburan panjang akhir tahun dan tahun baru.

Pemerintah harus memperkuat sistem layanan kesehatan, mendorong perilaku hidup bersih dan sehat, serta penggunaan masker, cuci tangan, dan menjaga jarak. Pemerintah harus memperbaiki kualitas lingkungan, dan melindungi populasi berisiko.

Pemerintah daerah juga harus meningkatkan kemampuan pelacakan dan pengetesan, serta mengambil keputusan yang cepat dan tepat disertai komitmen yang kuat untuk mengendalikan virus.

Jika para pemerintah dan masyarakat di suatu daerah belum siap melaksanakan berbagai strategi tersebut secara holistik, mungkin saatnya rem darurat kembali ditarik, seperti di beberapa negara yang kembali menarik rem daruratnya dengan lockdown akibat jumlah kasus dan kematian yang mulai meningkat.

The Conversation

Halaman:
Irwandy
Irwandy
Ketua Departemen Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin
Artikel ini terbit pertama kali di:

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...