Privasi, Kepercayaan, dan Masa Depan Teknologi ‘Proof of Human’ di Indonesia

Adrian Ludwig
Oleh Adrian Ludwig
23 Mei 2025, 07:05
Adrian Ludwig
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Selama beberapa pekan terakhir, masyarakat Indonesia ramai memperbincangkan World ID, sebuah sistem verifikasi untuk memastikan seseorang adalah manusia asli dan unik di ranah digital. Hal ini mencerminkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan data pribadi dan akuntabilitas. 

Baru-baru ini, sebuah survei nasional juga menunjukkan bahwa 99,5% masyarakat Indonesia menyebut perlindungan data pribadi sebagai isu yang sangat penting. Ini selaras dengan perhatian masyarakat dunia terhadap pengelolaan informasi di tengah perkembangan pesat sistem teknologi berbasis akal imitasi (AI).

Perhatian masyarakat ini tentu bersifat valid, bahkan sangat penting. Skeptisisme memegang peran penting dalam membantu masyarakat merespons teknologi baru, terutama ketika teknologi tersebut bersinggungan dengan hak-hak fundamental. 

Dalam situasi seperti ini, pemahaman yang jelas tentang bagaimana teknologi yang mengutamakan privasi bekerja, dan bagaimana teknologi tersebut dapat mendukung tujuan nasional merupakan kunci dalam membangun kepercayaan jangka panjang. Hal ini seiring langkah Indonesia yang terus memimpin inovasi digital.

Privasi dan Kendali sebagai Prinsip Utama

World ID bukanlah sistem identitas tradisional. Sistem ini tidak memberikan kredensial, tidak menyimpan data pribadi, dan tidak terhubung dengan basis data milik pemerintah. Sebaliknya, teknologi World ID mengedepankan privasi untuk membantu seseorang membuktikan bahwa mereka adalah manusia yang nyata dan unik di dunia digital, tanpa mengungkapkan identitas pribadi mereka. 

Sistem ini menggunakan kriptografi canggih untuk mengonfirmasi keunikan seseorang, tanpa mengaitkan verifikasi tersebut dengan nama, nomor telepon, atau nomor identitas nasional. Data biometrik, seperti gambar iris mata, diproses secara langsung dan segera dihapus, tidak disimpan. Sehingga, sistem ini mampu mengafirmasi bahwa seseorang adalah individu asli dan unik, tanpa mengungkapkan identitas orang tersebut. 

Hal penting lainnya, World ID tidak membuat profil para pengguna atau mengumpulkan data yang bisa diperjualbelikan. Kode iris terenkripsi yang dihasilkan saat proses verifikasi tidak terhubung dengan akun pribadi maupun riwayat perilaku pengguna apa pun. 

Dengan demikian, data ini tidak memiliki nilai komersial. Pengguna tetap memegang kendali penuh, termasuk pilihan untuk menonaktifkan verifikasi mereka kapan saja. Pendekatan ini selaras dengan Undang Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) Indonesia tahun 2022, dan mencerminkan visi untuk beralih ke teknologi yang dapat membangun kepercayaan digital tanpa mengorbankan privasi pengguna.

Audit pada tahun 2024 yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber terkemuka, Trail of Bits, memastikan bahwa sistem World ID telah memenuhi standar ketat terkait privasi dan keamanan. Perangkat Orb terbukti tidak menyimpan, mengirim, maupun mengambil data identitas apa pun dari pengguna selain yang diperlukan untuk proses verifikasi secara real-time.

Inklusi, Bukan Eksploitasi

Perhatian publik juga tertuju pada insentif yang diberikan pada tahap awal pendaftaran World ID. Pada fase peluncuran awal, pengguna berkesempatan menerima sejumlah aset digital berupa token Worldcoin (WLD) untuk mendorong adopsi. 

Insentif ini bukan merupakan bentuk pembayaran atas data—karena tidak ada data yang dikumpulkan maupun disimpan. Insentif ini bertujuan untuk mengurangi hambatan akses dan mendorong partisipasi yang lebih luas, terutama di komunitas yang selama ini belum benar-benar menikmati manfaat teknologi digital.

Dengan lebih dari 180 juta pengguna ponsel pintar dan penetrasi internet mendekati 80%, Indonesia memiliki landasan yang kuat untuk pertumbuhan digital. Meski demikian, akses terhadap inovasi masih belum merata. Inisiatif pemerintah seperti Identitas Kependudukan Digital (IKD), yang kini telah digunakan oleh lebih dari 18 juta orang, menunjukkan komitmen Indonesia dalam menghadirkan layanan digital yang inklusif.

Meskipun World ID bukan identitas resmi dari pemerintah, sistem ini menawarkan solusi pelengkap yang menjaga privasi dan memberikan cara yang adil bagi setiap individu untuk membuktikan bahwa mereka adalah manusia asli di dunia digital. Sekaligus mendukung upaya yang lebih luas dalam membangun kepercayaan di ruang digital tanpa menggantikan atau menduplikasi identitas resmi.

Insentif yang diberikan hanya bersifat sementara dan tidak berhubungan dengan data pengguna. Seiring waktu, nilai dari jaringan seperti World ID tidak bergantung pada pengambilan data, melainkan oleh partisipasi aktif dari penggunanya dan berbagai manfaat yang bisa dihadirkan dari akses internet yang lebih inklusif.

Membangun Kepercayaan di Ranah Digital Mendatang

Indonesia berada di jalur yang jelas untuk menjadi kekuatan ekonomi digital pada tahun 2045. Memastikan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan teknologi di era AI dengan penuh kepercayaan, martabat, dan keamanan menjadi bagian penting dari visi ini. 

Kemampuan untuk memastikan bahwa seseorang adalah manusia nyata di ruang digital—tanpa mengungkap identitas pribadinya—bukanlah sekadar isu privasi, melainkan landasan penting untuk membangun kepercayaan dalam ruang digital.

Fenomena seperti deepfake, bot, dan penipuan daring sudah mengikis rasa aman dan percaya di dunia digital. Sistem seperti World ID, yang memungkinkan verifikasi manusia nyata tanpa mengorbankan anonimitas, dapat membantu memperkuat integritas dari setiap interaksi digital. 

Meski demikian, kepercayaan tidak sekadar dibentuk oleh kode-kode digital. Perlu keterbukaan, akuntabilitas, dan keterlibatan aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, komunitas teknologi, hingga pengguna sehari-hari.

Di tengah upaya Indonesia merancang masa depan digitalnya, kehadiran teknologi seperti World ID—yang menjunjung privasi, berfokus pada inklusi, dan selaras dengan nilai-nilai lokal—dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan ruang digital yang aman, inovatif, dan penuh kepercayaan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Adrian Ludwig
Adrian Ludwig
Chief Information Security Officer, Tools for Humanity

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...