Iklan Cerdas Berbasis AI: Alternatif Efisiensi UMKM

Djoko Budiyanto Setyohadi
Oleh Djoko Budiyanto Setyohadi
27 Januari 2026, 07:05
Djoko Budiyanto Setyohadi
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tengah mengalami kontraksi. Tekanan efisiensi semakin terasa, terutama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tidak memiliki cadangan dana. Maka ketika ekonomi melambat, budget marketing biasanya menjadi pilihan pertama untuk dikurangi. 

Masalahnya sederhana: biaya marketing sering tidak berdampak langsung. Berbeda dengan biaya produksi atau operasional yang luarannya terlihat jelas. Iklan selalu mengandung unsur spekulatif, sehingga dianggap sebagai pengeluaran yang belum jelas impaknya. 

Ketika kondisi sulit, banyak pemilik usaha memilih memangkas anggaran promosi. Riset McKinsey mencatat, dalam beberapa krisis ekonomi, marketing budget dipotong hingga 10%-20%. Survei global The CMO Survey bahkan menunjukkan porsi marketing turun drastis dari 10,1% pada awal 2024 menjadi 7,7% pada akhir 2024. 

Bagi UMKM, situasi ini sungguh menyulitkan. Setiap rupiah untuk iklan harus benar-benar menghasilkan. Saat ekonomi menekan, UMKM dihadapkan pada pilihan sulit: terus beriklan dengan risiko rugi, atau berhenti promosi dengan risiko kehilangan pembeli. Terlebih UMKM yang cadangannya menipis.

Dalam situasi ini, permasalahan utama dalam pemasaran sebenarnya bukan terletak pada minimnya biaya, tetapi bagaimana cara menggunakan anggaran supaya lebih efisien. Banyak iklan menjadi sia-sia karena muncul di hadapan orang yang tidak membutuhkan produk tersebut atau sedang tidak tertarik untuk membeli. 

Meskipun teknologi digital saat ini bisa mengatur target berdasarkan usia dan lokasi, hal itu tetap belum cukup karena keputusan manusia sangat dipengaruhi oleh emosi dan situasi tertentu. Seringkali iklan muncul dalam situasi emosi calon pembeli yang tidak pas, justru akan mengganggu dan bahkan memilih untuk mengabaikannya.

Oleh karena itu, fokus pemasaran harus bergeser dari sekadar menentukan siapa yang melihat iklan menjadi kapan saat yang paling tepat untuk muncul. Kita tidak bisa hanya mengandalkan logika data statis, karena audiens lebih merespons pesan yang relevan dengan apa yang sedang mereka rasakan atau alami saat itu. 

Di sinilah konsep fastvertising menjadi solusi yang relevan, karena ia memungkinkan sebuah merek untuk masuk ke dalam percakapan yang sedang hangat dan hadir tepat di momen yang paling krusial bagi calon pembeli.

Fastvertising: Beriklan di Waktu yang Tepat 

Fastvertising adalah strategi iklan yang bergerak cepat mengikuti momen, tren, dan suasana publik. Jadi iklan adalah timing dan kesesuaian konten. Timing ditentukan berdasar momentum situasi sosial yang sedang ramai, konten didesain berdasar situasi sosial tersebut. 

Contoh paling terkenal adalah iklan Oreo saat Super Bowl 2013. Ketika stadion tiba-tiba mati lampu, dalam hitungan menit Oreo mengeluarkan iklan sederhana: “You can still dunk in the dark.” Pesan itu langsung viral karena tepat waktu, lucu, dan relevan dengan emosi publik yang sedang kaget dan geli. Tapi tentu saja, momen seperti Super Bowl tidak terjadi setiap hari. Bagaimana UMKM bisa menerapkan prinsip ini dalam keseharian mereka?

Di era AI ini problema deteksi momentum beriklan menjadi mudah. Teknologi AI sekarang tidak hanya menghitung berapa kali kata kunci disebut, tapi bisa memetakan percakapan publik di media sosial dan membaca emosi yang menyertainya. Emosi publik mudah diidentifikasi, apakah orang sedang senang, kecewa, penasaran, atau marah. Inilah peran AI yakni mesin untuk “social listening”. 

Dengan social listening, AI bisa mendeteksi kapan momen tertentu sedang “panas”. Misalnya, ketika tim sepak bola favorit menang, dalam lima menit algoritma bisa menangkap lonjakan percakapan positif: kata-kata tentang kemenangan, kebanggaan, bahkan meme lucu. Pada saat yang sama, AI membaca bahwa mayoritas emosi publik sedang euforia.

Targeting iklan jadi lebih spesifik: bukan hanya berdasarkan demografi, tapi berdasarkan emosi. Audiens dipecah menjadi kelompok-kelompok berdasarkan perasaan dan minat mereka di momen itu. Format dan nada iklan pun bisa disesuaikan untuk setiap kelompok. Tujuannya: meningkatkan kemungkinan pesan diterima, bukan di-skip. Logikanya sederhana: semakin pesan kita cocok dengan emosi dan konteks orang, semakin besar peluang iklan itu diterima. Iklan tidak lagi “menembak membabi-buta”, tapi menyasar orang yang tepat pada saat yang tepat.

Pada level usaha kecil, dampaknya sangat praktis. Return on Ad Spend (ROAS) bisa meningkat—misalnya dari yang tadinya Rp1 iklan menghasilkan Rp2, bisa naik jadi Rp5 atau bahkan Rp10. Cost per Acquisition (biaya untuk dapat satu pembeli) bisa turun signifikan. Margin keuntungan jadi lebih sehat karena budget tidak terbuang di jam-jam sepi respons. Tapi efeknya tidak berhenti di UMKM saja. 

Kalau jutaan UMKM di Indonesia makin efisien dalam beriklan, uang akan berputar lebih cepat. Permintaan meningkat, produksi naik, lapangan kerja bertambah. Ini yang disebut multiplier effect—efek berganda. Apalagi UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia: menyerap sekitar 97% tenaga kerja dan menyumbang sekitar 60% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jika UMKM tumbuh, ekonomi nasional ikut tumbuh. Karena itu, fastvertising berbasis AI seharusnya tidak dipandang hanya sebagai “alat iklan”, bahkan mungkin mampu menjadi pendorong efisiensi ekonomi nasional.

Pengelolaan Dampak 

Mengingat event ini menyangkut emosi publik, maka penting untuk dipertimbangkan agar dampaknya benar-benar positif bagi semua pihak. Untuk itu beberapa hal yang perlu dikaji bersama. Pertama, pemerintah bisa membantu lewat subsidi atau insentif untuk adopsi teknologi AI, serta menyediakan pelatihan literasi digital bagi pelaku UMKM. 

Kedua, industri teknologi perlu menyediakan platform AI yang terjangkau dan mudah digunakan untuk UMKM, bukan hanya untuk korporasi besar. Ketiga, UMKM sendiri perlu mulai terbiasa mengelola data sederhana: produk apa yang laris, jam berapa ramai pembeli, siapa profil pelanggan utama. Data ini akan membuat AI bekerja lebih efektif. Hal yang tak kalah penting: etika harus tetap dijaga. 

AI memang bisa mengoptimalkan klik dan impresi, tapi AI belum bisa menilai apakah sebuah lelucon melewati batas kesopanan atau merusak martabat merek. Maka fastvertising modern harus jadi kolaborasi: AI memberi rekomendasi, tapi manusia tetap kurator akhir. Penentu aspek etis, relevan, dan layak dirilis ke publik.

Di tengah ekonomi yang lesu, minimnya dana UMKM membuat secercah harapan tentang bagaimana beriklan yang murah tapi efektif. Fastvertising berbasis AI menawarkan alternatif iklan yang tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga setiap rupiah yang dikeluarkan akan terasa impaknya. 

Kalau model ini berhasil diterapkan secara luas,  rasanya bukan hanya soal iklan yang lebih hemat tetapi juga tentang ekonomi nasional yang lebih efisien, lebih cepat berputar, dan lebih tangguh menghadapi tantangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Djoko Budiyanto Setyohadi
Djoko Budiyanto Setyohadi
Profesor di bidang Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...