Modal Sosial di Pasar Modal

Fikri C Permana
Oleh Fikri C. Permana
29 Mei 2026, 08:20
Fikri C Permana
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pasar modal sering kali dipahami sebagai panggung angka. Orang melihatnya dari grafik naik-turunnya laba perusahaan, dividen, kupon obligasi, valuasi saham, hingga derasnya aliran modal yang bergerak setiap saat. Seolah-olah seluruh isi pasar hanyalah hitung-hitungan dingin yang berdetak di layar monitor. Padahal, pasar tidak pernah benar-benar digerakkan oleh angka semata. Ia bergerak oleh sesuatu yang lebih sunyi: kepercayaan dan harapan terhadap masa depan.

Douglass Cecil North, pelopor New Institutional Economics dan penerima Nobel Ekonomi 1993, dalam bukunya Institutions, Institutional Change and Economic Performance (1990) pernah mengingatkan bahwa sistem ekonomi tidak hanya ditopang modal finansial, tetapi juga modal sosial. Dalam pandangannya, modal sosial, khususnya Kepercayaan, berfungsi menurunkan ketidakpastian (uncertainty) dan biaya transaksi (transaction costs), sehingga aktivitas investasi dapat berjalan lebih efisien dan stabil. 

Dalam perspektif kelembagaan, stabilitas aturan dan kepastian kebijakan menjadi faktor penting yang membentuk ekspektasi pelaku ekonomi dan mengurangi ketidakpastian dalam aktivitas investasi. Ketika masyarakat dan investor percaya bahwa institusi negara mampu menjaga tata kelola ekonomi secara konsisten, maka biaya transaksi dan premi risiko cenderung menurun sehingga aliran modal dapat bergerak lebih efisien (Fukuyama, 1995). 

Di saat yang sama, pelaku usaha-pun dengan penuh kepercayaan diri akan membuka usaha, perusahaan berani berekspansi, dan investor merasa nyaman menaruh dananya untuk jangka panjang.

Pemikiran serupa juga muncul dari penelitian Robert D. Putnam pada 1993, dengan membandingkan kinerja pemerintahan daerah di Italia Utara dan Selatan. Ia menemukan bahwa daerah dengan budaya partisipasi publik yang kuat dan tingkat kepercayaan sosial yang tinggi cenderung memiliki pemerintahan lebih efektif dan pembangunan ekonomi yang lebih baik. 

Modal sosial membuat biaya ketidakpercayaan menjadi lebih murah. Risiko moral hazard menurun, disaat yang sama juga akan mendorong arus investasi menjadi lebih efisien, sehingga ekonomi tumbuh dengan fondasi yang lebih sehat.

Kondisi inilah yang memperkuat Putnam untuk memperkenalkan teori Social Capital (Modal Sosial). Di mana modal sosial berfungsi sebagai fondasi tidak terlihat (invisible asset) yang menopang keberlanjutan pertumbuhan pasar keuangan dan perekonomian secara berkelanjutan. Sebaliknya, ketika modal sosial berupa kepercayaan runtuh, kepanikan pun menyebar jauh lebih cepat dibanding data ekonomi itu sendiri.

Membangun Modal Sosial

Sejarah pasar modal memperlihatkan modal sosial dan kepercayaan, tidak pernah lahir secara instan. Ia lahir pelan-pelan, seperti orang menanam pohon: disiram oleh konsistensi kebijakan, dijaga oleh kredibilitas institusi, lalu dibesarkan oleh kepastian arah pembangunan. North (1990) pun menambahkan bahwa institusi yang stabil membuat pelaku ekonomi mampu membaca masa depan dengan lebih tenang. 

Ketika aturan terasa jelas dan pemerintah dianggap konsisten, ketidakpastian mengecil, biaya transaksi turun, dan modal berupa uang pun bergerak dengan lebih percaya diri. Francis Fukuyama (1995) bahkan menyebut kepercayaan sebagai “modal sosial” yang menentukan seberapa efisien sebuah ekonomi dapat bekerja.

Sejarah turut mengajarkan bahwa pasar modal sesungguhnya bukan hanya soal angka, melainkan juga soal keyakinan kolektif. Pada abad ke-17, Belanda pernah mengalami Tulip Mania—sebuah masa ketika bunga tulip diperlakukan layaknya aset yang sangat berharga seperti emas. Harga tulip melonjak bukan karena nilainya berubah, tetapi karena masyarakat percaya harga itu akan terus naik. Orang membeli karena orang lain membeli. Harapan berkembang menjadi euforia. 

Namun ketika pembeli mulai hilang dari pasar lelang di Haarlem pada 1637, kepercayaan runtuh secepat ia dibangun. Harga jatuh drastis, kontrak menjadi tidak bernilai, dan kepanikan menyebar ke seluruh pasar (Kindleberger & Aliber, 2011). Dari sana dunia belajar: pasar bisa naik karena optimisme, tetapi juga bisa runtuh hanya karena hilangnya rasa percaya.

Pola yang sama terus berulang. Black Friday 1869 di Amerika Serikat, krisis Asia 1998, gelembung dotcom, hingga krisis finansial global 2008 menunjukkan satu benang merah. Bahwa krisis sering kali bukan dimulai ketika angka ekonomi memburuk, melainkan ketika kepercayaan mulai retak. 

Ketika publik meragukan integritas pasar atau kemampuan otoritas menjaga stabilitas, kepanikan menjadi menular. Investor menjual bukan hanya karena fundamental berubah, tetapi karena takut orang lain akan menjual lebih dulu.

Bagaimanapun, pasar bekerja layaknya perilaku sang manusianya. Dalam teori Bandwagon Effect, individu cenderung mengikuti mayoritas karena percaya mayoritas memiliki informasi yang lebih benar. Karena itu, arus modal sering bergerak layaknya bagaimana emosi menyebar dan diterima secara bersama. 

Kita sering melihat, ketika investor asing ramai masuk ke pasar surat utang suatu negara, optimisme ikut menyebar. Sebaliknya, saat terjadi penjualan suatu aset secara besar-besaran, kepanikan sering muncul bahkan sebelum data ekonomi benar-benar memburuk.

Robert Shiller, peraih nobel ekonomi 2013, juga memperkuat pemikiran ini. Menurutnya, harga suatu aset, baik saham, obligasi, dan properti tidak selalu bergerak rasional mengikuti fundamental ekonomi. Pasar lebih sering digerakkan oleh narasi, apakah itu cerita tentang harapan, ketakutan, optimisme, bahkan rumor yang terus diulang. 

Dalam banyak kasus, manusia membeli aset bukan karena valuasinya yang menaik, melainkan karena takut tertinggal dari euforia atau kadang dikarenakan perilaku ikut-ikutan (herding behavior). Karena itu, di pasar keuangan, kepercayaan bisa menjadi fondasi stabilitas, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi sumber gelembung dan krisis. Pemikirannya bertentangan dengan teori pasar efisien yang lebih klasik, yang beranggapan harga aset selalu mencerminkan seluruh informasi yang tersedia.

Di Antara Kredibilitas dan Stabilitas 

Dalam psikologi sosial, dikenal Consistency Theory yang menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung menyukai keadaan yang stabil dan dapat diprediksi dari waktu (Festinger, 1957; dan Heider, 1958). Dari situlah rasa aman terbentuk. Dalam ekonomi modern, rasa aman itu menjelma menjadi ekspektasi, dan ekspektasi inilah yang sering kali lebih menentukan dibanding kondisi aktual yang terjadi.

Pemikiran itu kemudian diperkuat oleh Robert Lucas Jr. melalui teori Rational Expectations. Lucas menjelaskan bahwa pelaku ekonomi selalu membangun keputusan berdasarkan perkiraan masa depan. 

Ketika arah kebijakan dianggap kredibel dan konsisten, masyarakat akan lebih yakin menjaga konsumsi, perusahaan lebih nyaman melakukan investasi jangka panjang, dan investor lebih berani menempatkan modalnya. Karena itu, pasar keuangan pada dasarnya adalah mesin pembaca masa depan. Harga saham, obligasi, maupun nilai tukar tidak semata mencerminkan kondisi hari ini, melainkan keyakinan terhadap proyeksi masa depan (Fama, 1970).

Penelitian terbaru dari IMF dan OECD pada periode 2022–2025 pun menunjukkan hal yang sama,  bahwa kualitas institusi dan kredibilitas kebijakan menjadi faktor utama dalam menjaga ketahanan ekonomi pasca pandemi dan di tengah gejolak geopolitik global. Negara yang mampu menjaga konsistensi komunikasi kebijakan relatif lebih cepat memulihkan investasi dan aliran modal dibanding negara dengan ketidakpastian politik tinggi.

Karenanya, masalah terbesar ekonomi sering kali bukan rendahnya potensi pertumbuhan, melainkan hilangnya kepercayaan. Pasar dapat menerima inflasi yang sementara lebih tinggi, suku bunga yang ketat, bahkan pelemahan nilai tukar, selama arah kebijakan masih dapat dibaca. Yang paling ditakuti investor bukan perlambatan ekonomi itu sendiri, melainkan ketidakjelasan arah.

Penelitian Steven J. Davis, Nicholas Bloom dan Scott R. Baker (2016) dengan judul “Measuring Economic Policy Uncertainty” juga memperlihatkan bagaimana ketidakpastian kebijakan berkorelasi kuat dengan penurunan investasi, perlambatan perekrutan tenaga kerja, dan meningkatnya volatilitas pasar saham. 

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun dari besarnya pertumbuhan atau kuatnya cadangan devisa. Ia juga lahir dari sesuatu yang lebih mendasar: kepercayaan bahwa negara memiliki arah, institusi memiliki kredibilitas, dan kebijakan tidak berjalan dalam gelap. Sebab di pasar keuangan, seperti juga dalam kehidupan, rasa percaya sering kali lebih berharga daripada sekadar angka pertumbuhan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Fikri C Permana
Fikri C. Permana
Senior Economist PT KB Valbury Sekuritas

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...