Pendidikan Pangan: Pilar Utama Revolusi Gizi Indonesia

Boimin
Oleh Boimin
13 Juli 2026, 06:05
Boimin
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Revolusi gizi di Indonesia harus dilanjutkan. Penetapan mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tersangka korupsi menjadi momentum penting untuk mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Namun evaluasi tidak boleh berhenti pada tata kelola anggaran. Indonesia juga perlu mengevaluasi cara membangun budaya pangan generasi mudanya. Di sinilah pendidikan pangan seharusnya menjadi bagian dari solusi jangka panjang. 

Selama ini pendidikan pangan sering disamakan dengan pendidikan gizi. Padahal keduanya berbeda. Pendidikan gizi mengajarkan apa yang perlu dimakan agar tubuh sehat. Pendidikan pangan mengajarkan bagaimana pangan diproduksi, diolah, didistribusikan, hingga dikonsumsi secara bertanggung jawab. 

Dengan kata lain, pendidikan gizi mengajarkan aturan makan sehat (the rule), sedangkan pendidikan pangan mengajarkan keseluruhan sistem pangan (the system).

Pendidikan pangan tidak kalah penting dari MBG. MBG hanya mampu menyediakan sekitar 18% kesempatan makan seorang anak dalam setahun (sekitar 200 kali makan). Sisanya, 82% kesempatan makan lainnya (sekitar 895 kali makan), ditentukan oleh keluarga, lingkungan, dan literasi pangan anak. Di situlah pendidikan pangan menjadi penentu keberhasilan revolusi gizi Indonesia.

Pendidikan Pangan: Solusi Persoalan Gizi Jangka Panjang

Pendidikan pangan membentuk kemampuan anak memilih makanan bergizi, sehat, dan bertanggung jawab sepanjang hidup. Sementara MBG memberi makan anak hari ini. Tanpa pendidikan pangan, manfaat MBG berisiko berhenti ketika program berakhir (tidak berkelanjutan).

Program peningkatan gizi berkelanjutan dibutuhkan Indonesia, yang sedang menghadapi persoalan gizi yang serius. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 prevalensi stunting mencapai 19, %, gizi lebih (overweight) mencapai 3,4%, sementara anemia masih dialami oleh 37% remaja putri. 

Ini menunjukkan bahwa menyediakan makanan bergizi saja tidak cukup. Indonesia juga perlu membangun masyarakat yang memahami pangan sepanjang hidupnya.

Persoalan lainnya, konsumsi pangan ultra-proses yang meningkat di kalangan anak dan remaja. Minuman berpemanis, makanan ringan tinggi gula, garam, dan lemak, semakin mudah dijangkau dan digemari dibandingkan pangan segar. Tanpa literasi pangan generasi muda akan terus menghadapi lingkungan pangan yang mendorong pilihan pangan yang kurang sehat.

Sebagian besar keputusan pangan tidak dibuat ketika anak sedang di bangku sekolah, tapi dibuat di rumah, di lingkungan sekitar, maupun ketika anak-anak dewasa nanti. Sehingga, manfaat MBG akan terus berkelanjutan jika diikuti pendidikan pangan yang membentuk pengetahuan, sikap, dan perilaku pangan seumur hidup.

Di negara lain, pendidikan pangan kepada anak sekolah juga telah dilakukan. Jepang, misalnya, telah lama menjadikan pangan (shokuiku) sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional mereka. Finlandia mengintegrasikan makan siang sekolah dengan pembelajaran gizi dan keberlanjutan. Korea Selatan mengenalkan pangan lokal dan budaya makan sejak dini.

Indonesia dapat mengembangkan pendidikan pangan serupa. Namun, harus tetap mempertahankan karakteristiknya—sebagai negara kepulauan yang memiliki sumber daya dan budaya pangan beragam.

Pendidikan Pangan di Indonesia

Sebenarnya, Indonesia sudah memiliki beberapa pondasi kebijakan yang dapat mendukung pendidikan pangan.

Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), misalnya, sejak lama menghubungkan pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah yang sehat (Trias UKS). Ini sejalan dengan pedoman World Health Organization (WHO) tahun 2026, terkait kebijakan dan intervensi untuk mewujudkan lingkungan pangan yang sehat di sekolah.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga memiliki program Aksi Bergizi di sekolah menengah. Kurikulum Merdeka melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) juga memberikan ruang yang cukup besar bagi pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman langsung.

Pemerintah tidak perlu membangun program baru dari nol. Tantangannya adalah mengintegrasikan UKS, P5, Aksi Gizi, dan MBG ke dalam satu ekosistem pendidikan pangan nasional—yang koheren, berjenjang, dan terukur.

Di tingkat sekolah Dasar (SD), pendidikan pangan bertujuan membentuk kebiasaan melalui pengalaman langsung. Anak-anak belajar paling baik melalui praktik, pengulangan, dan observasi. Ini sejalan dengan “School Gardens Concept Note” oleh Food and Agriculture Organization (FAO), yang diperkenalkan sejak tahun 2004.

Pendidikan seperti ini terlihat sederhana, namun dampaknya sangat besar. Anak-anak mulai memahami bahwa pangan dihasilkan melalui proses panjang yang melibatkan petani, nelayan, peternak, pembudidaya, pengolah pangan, distribusi, dan lingkungan yang sehat.

Di tingkat pendidikan menengah (SMP dan SMA), pendidikan pangan perlu dikembangkan lebih mendalam. Pada usia ini, siswa sudah mampu berpikir kritis dan mulai membentuk preferensi konsumsi mereka sendiri.

Pendidikan pangan di sekolah menengah juga perlu mengajarkan keterampilan hidup praktis, seperti: menyusun menu, memahami keamanan pangan (food safety), dan memasak sederhana.

Kemampuan memasak bukan sekadar keterampilan domestik. Kemampuan memasak merupakan bagian dari literasi pangan dan kemandirian hidup.

Siswa SMP/SMA juga perlu belajar membaca label pangan, memahami iklan pangan, mengenali pangan ultra-proses, serta memahami hubungan antara pola makan dan kesehatan jangka panjang. Selain itu, siswa perlu memahami dampak lingkungan dari pilihan pangan mereka.

Mereka perlu menyadari bahwa ketahanan pangan bergantung pada budaya pangan lokal dan kesehatan lingkungan—yaitu: terjaganya air, tanah, hutan, laut, dan keanekaragaman hayatinya. 

Jadi, pendidikan pangan merupakan pilar utama revolusi gizi Indonesia—tidak hanya membangun kesadaran gizi, namun juga membangun kesadaran sosial budaya dan ekologis sejak dini.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Boimin
Boimin
Peneliti Bioteknologi Kelautan & Pangan di PKSPL-IPB

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...