Dari Ruang Jual Menjadi Ruang Tumbuh UMKM
Banyak pelaku UMKM merasa perjuangan telah selesai ketika produknya berhasil masuk ke jaringan ritel modern. Produknya kini berada di rak yang sama dengan berbagai jenama besar. Namun, beberapa bulan kemudian, muncul kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Produk kurang terlihat, penjualan bergerak lambat, dan pesanan ulang tidak kunjung datang.
Ketika produk akhirnya dikeluarkan dari rak, pelaku UMKM sering hanya mengetahui satu hal: produknya tidak cukup laku. Mereka tidak benar-benar memahami penyebabnya. Apakah harganya terlalu tinggi, kemasannya kurang menarik, posisinya tidak terlihat, ceritanya tidak tersampaikan, atau produknya memang belum relevan dengan pelanggan toko tersebut?
Persoalannya bukan sekadar akses terhadap ruang jual, melainkan keterbatasan akses terhadap pengetahuan pasar. Di sinilah pergeseran dari retail as a service menuju retail as a media dapat membuka jalan baru bagi pertumbuhan UMKM.
Ketika Toko Menjadi Media
Selama ini, peritel menciptakan nilai dengan menyediakan pilihan produk, lokasi, pembayaran, logistik, dan pelayanan. Dalam model retail as a service, toko berperan sebagai penghubung yang memastikan produk sampai kepada pelanggan secara efisien.
Digitalisasi kemudian mengubah fungsi tersebut. Aplikasi, program loyalitas, mesin pencarian, layar digital, rak pintar, dan transaksi pembayaran membuat peritel memiliki data mengenai apa yang dicari, dipertimbangkan, dan dibeli pelanggan.
Peritel pun mulai memiliki kemampuan yang selama ini menjadi kekuatan perusahaan media: mengenali audiens dan mengelola perhatian. Bedanya, peritel berada jauh lebih dekat dengan keputusan pembelian.
Media konvensional dapat mengetahui siapa yang melihat iklan, tetapi belum tentu mengetahui apakah orang tersebut membeli. Peritel dapat menghubungkan pesan, promosi, isi keranjang, transaksi, hingga pembelian ulang. Jarak antara komunikasi dan penjualan menjadi semakin pendek.
Karena itu, retail media berkembang cepat. Dentsu memperkirakan retail media menjadi kanal digital dengan pertumbuhan tercepat secara global pada 2025, sekitar 21,9%. Pada 2026, kanal ini masih diproyeksikan tumbuh 14,1%, melampaui video daring dan media sosial. McKinsey juga menemukan bahwa lebih dari separuh pembeli media berencana meningkatkan anggaran pada commerce media.
Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menangkap peluang tersebut. Minimarket menjangkau lingkungan permukiman, pusat perbelanjaan mengelola arus pengunjung besar, sedangkan platform perdagangan digital memiliki data pencarian dan transaksi. Semua titik itu dapat menjadi media yang mempertemukan produk dengan pelanggan yang tepat.
Jangan Hanya Menjual Perhatian
Masalah muncul ketika retail media hanya dipahami sebagai cara baru menjual ruang iklan. Rak, layar kasir, hasil pencarian, aplikasi, dan notifikasi diubah menjadi persediaan media yang diberikan kepada jenama dengan anggaran terbesar.
Jika logika ini yang berkembang, retail media justru menciptakan kesenjangan baru. Jenama besar akan semakin terlihat, sedangkan UMKM kembali tersisih. Kali ini, mereka bukan kekurangan ruang fisik, melainkan tidak mampu membeli visibilitas algoritmik.
Retail media seharusnya tidak hanya menjual perhatian pelanggan, tetapi meningkatkan relevansi. Konten perlu membantu pelanggan memahami pilihan, menemukan produk yang sesuai, dan mengenali nilai di balik produk tersebut.
Bagi UMKM, kemampuan bercerita sangat penting. Kopi lokal tidak hanya menjual rasa, tetapi juga membawa kisah daerah asal, petani, dan proses pengolahannya. Makanan olahan tidak berhenti pada kemasan, tetapi dapat membawa tradisi, resep, dan komunitas yang memproduksinya. Ketika cerita hadir pada momen pelanggan memilih, produk kecil tidak harus selalu bertarung melalui harga.
Dari Masuk Toko Menuju Siap Bertumbuh
Retail media dapat mengubah cara UMKM berkembang setidaknya melalui empat pergeseran.
Pertama, dari mengejar jangkauan menuju membangun relevansi. UMKM tidak harus berbicara kepada semua orang. Mereka perlu menemukan kelompok pelanggan yang paling membutuhkan produknya dan memahami alasan kelompok tersebut membeli.
Kedua, dari intuisi menuju test and learn. Produk dapat diuji di beberapa toko atau wilayah sebelum didistribusikan lebih luas. Data penjualan membantu UMKM menilai apakah persoalannya terletak pada produk, harga, kemasan, komunikasi, atau pilihan lokasi.
Ketiga, dari sekadar menjual produk menuju membangun makna jenama. Retail media memberikan ruang untuk menjelaskan keunikan yang sulit terlihat hanya melalui kemasan. Cerita yang relevan mengubah produk dari sekadar barang menjadi pilihan yang memiliki alasan untuk dipercaya.
Keempat, dari sekadar masuk toko menuju membangun retail readiness. Visibilitas tidak akan menghasilkan pertumbuhan jika kualitas tidak konsisten, stok sering kosong, kemasan sulit dikenali, atau margin tidak sehat. Retail media hanya memperbesar apa yang sudah dimiliki produk. Jika fondasinya rapuh, kekecewaan pelanggan juga menyebar lebih cepat.
Pelaku UMKM juga tidak boleh sepenuhnya menyerahkan hubungan pelanggan kepada peritel. Mereka tetap perlu membangun komunitas, kanal digital, dan layanan purnajual. Ketergantungan penuh kepada satu jaringan dapat membuat UMKM memiliki transaksi, tetapi tidak benar-benar mengenal pelanggannya.
Toko sebagai Ruang Belajar Bersama
Peran strategis peritel karena itu perlu melangkah lebih jauh. Retail media tidak hanya menjadi mesin pendapatan baru, tetapi dapat menjadi infrastruktur pembelajaran bagi UMKM lokal.
Selama ini, hubungan peritel dan UMKM cenderung transaksional: UMKM memasok produk, sedangkan peritel menyediakan rak. Hubungan tersebut perlu diubah menjadi kemitraan berbasis pembelajaran. Toko dapat menjadi laboratorium pasar tempat keduanya menguji produk, harga, kemasan, pesan, dan respons pelanggan.
Data transaksi tidak hanya dimonetisasi sebagai iklan, tetapi dikembalikan sebagai pengetahuan yang dapat digunakan UMKM untuk memperbaiki diri. Peritel dapat menyediakan paket media terjangkau, ruang kurasi produk lokal, fasilitas uji pasar, pendampingan konten, serta informasi sederhana mengenai penjualan dan pembelian ulang.
Peritel tidak harus melakukannya sendirian. Perguruan tinggi dapat mendampingi pengembangan produk dan jenama. Lembaga keuangan mendukung pembiayaan ketika permintaan tumbuh. Pemerintah daerah membantu sertifikasi serta menghubungkan produk dengan potensi ekonomi lokal. Peritel menjadi penghubung yang mengorkestrasi seluruh dukungan tersebut di sekitar kebutuhan pasar yang nyata.
Ukuran keberhasilannya tidak lagi sekadar berapa banyak produk UMKM masuk ke toko. Ukuran yang lebih bermakna adalah berapa banyak UMKM yang semakin memahami pelanggan, memperbaiki kualitas, memperoleh pembelian ulang, meningkatkan kapasitas, dan berkembang menjadi jenama yang sehat.
Pada akhirnya, UMKM tidak hanya membutuhkan tambahan rak. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar dan membangun kapabilitas. Ketika toko menjalankan fungsi tersebut, peritel tidak lagi hanya menjadi saluran distribusi atau pemilik media, tetapi mitra pertumbuhan ekonomi lokal.
Inilah bentuk retail media yang paling relevan bagi Indonesia: bukan sekadar memonetisasi perhatian pelanggan, melainkan mengubah perhatian itu menjadi pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan untuk tumbuh bersama.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Produk UMKM Unggulan 