Tepung Ubi dan Komunikasi Sains
Tulisan Dr Azrin Rasuwin berjudul “Tepung Pemadam Cermin Masalah Mendasar Penanganan Karhutla” di Katadata (14/9) mengulas sisi menarik dari perdebatan tepung ubi untuk memadamkan api. Tulisan tersebut mengungkap masalah mendasar antisipasi kebakaran yang belum menjadi pusat kebijakan negara.
Azrin menyebut kesenjangan utama dalam pengelolaan karhutla adalah fragmentasi kewenangan. Di awal tulisannya, terdapat pertanyaan yang sangat relevan, mengapa pembicaraan inovasi tepung pemadam dan alternatif lainnya baru ramai ketika kebakaran mulai meluas.
Saya ingin mengulas sisi lain dari ramainya perbincangan tepung ubi ini, yakni dari aspek komunikasi sains. Penyampaian informasi terkait sains memang kompleks. Prosesnya membutuhkan kejernihan berpikir dan pemahaman konteks.
Tepung ubi awalnya muncul dalam rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Posko Utama Satgas Karhutla Sumatera Selatan, Senin (24/8). Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam api berbahan baku tepung ubi.
Ini bukan kali pertama ubi menjadi diskusi nasional. Sebelumnya, keripik ubi mendapat perhatian dan dicicipi langsung oleh Presiden. Ini dilakukan Presiden pada pameran hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan pertemuan Presiden dengan peneliti BRIN pada Kamis (6/8).
Riuh soal keripik ubi ini bahkan awet hingga beberapa hari di jagat maya. Sebagian masyarakat menganggap keripik ubi ini tidak mencerminkan hasil inovasi dari sebuah lembaga riset raksasa. Tepung ubi untuk pemadam api juga mendapat respons tidak jauh berbeda.
Meski adanya pandangan miring terhadap inovasi itu, saya tetap memaknai adanya keberpihakan presiden terhadap hasil riset. Juga keinginan presiden untuk mencoba sebuah terobosan baru dalam memecahkan masalah. Apalagi jika terobosan itu digagas oleh jajarannya di lapangan.
Citra Mewah
Ubi memang mujur karena mendapat panggung. Tapi, ia tetap saja tidak memiliki citra yang mewah seperti satelit, roket, robot, atau kecerdasan buatan. Bentuk akhirnya terlalu akrab dan umum dengan masyarakat, sehingga ubi mudah dianggap terlalu sederhana untuk disebut hasil inovasi.
Namun, menilai sebuah inovasi hanya dari bendanya saja bisa menyesatkan. Satelit memang terdengar lebih ilmiah daripada keripik. Roket tentu lebih mudah membuat sebuah lembaga riset terlihat canggih dibandingkan ubi. Tetapi, sains tidak memiliki kewajiban untuk selalu tampil futuristis.
Dalam pertanian dan pangan, justru benda-benda yang sangat biasa sering menyimpan persoalan ilmiah yang luar biasa rumit. Beras, telur, susu, pupuk, bahkan kotoran ternak bisa menjadi objek riset bertahun-tahun di kebun percobaan, di kandang, hingga di laboratorium.
Bagi masyarakat umum, sebagian benda itu hanyalah komoditas pangan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Riset saya sendiri, misalnya, mengkaji tentang integrasi tanaman dengan ternak. Orang awam melihat tanaman dan ternak sudah tampak terintegrasi. Ternak memakan tanaman sebagai pakan. Kotoran ternak menjadi pupuk organik. Sesederhana itu.
Namun, bagi ilmuwan dan pekerja sains, di dalam proses tersebut terdapat pertanyaan tentang genetika, nutrisi, mikrobiologi, lingkungan, hingga keberlanjutan. Kemudian, bagaimana membuat proses yang berjalan di baliknya bisa berlangsung secara efisien.
Dalam kajian sains dan teknologi, kondisi ini mengingatkan pada konsep black box yang dipopulerkan sosiolog sains Bruno Latour pada 1987. Ketika sebuah teknologi telah hadir sebagai produk akhir, kerumitan proses yang melahirkannya sering kali tidak lagi terlihat. Proses panjang di dalamnya tertutup seperti kotak hitam.
Ubi bombing dan keripik ubi menghadapi persoalan serupa. Yang sampai ke mata publik adalah produknya. Sedangkan, varietas, eksperimen, kegagalan, dan pengetahuan yang mendahuluinya berada di dalam kotak yang tidak kelihatan.
Ironisnya, semakin akrab bentuk produk akhirnya, semakin mudah pula kotak itu dilupakan. Sebuah satelit membuat orang spontan membayangkan insinyur, laboratorium, dan teknologi tinggi. Sebungkus keripik ubi tidak memperoleh privilege imajinasi yang sama.
Donald Stokes, ilmuwan politik dari Princeton University, pernah menggugat pemisahan yang terlalu kaku antara riset dasar dan riset terapan. Dalam Pasteur's Quadrant, Stokes menunjukkan bahwa pencarian pengetahuan mendasar dapat bersamaan dengan upaya menyelesaikan persoalan nyata atau use-inspired basic research.
Dengan cara pandang itu, kemajuan sains memang tidak perlu selalu berwujud benda yang tampak canggih. Pertanyaan yang lebih penting bukan apakah objek risetnya, melainkan apakah riset tersebut menghasilkan pengetahuan baru dan apakah pengetahuan itu membantu menjawab persoalan yang relevan.
Sains, meminjam gagasan Stokes, dihargai bukan hanya karena apa yang kita ketahui, tetapi juga untuk apa pengetahuan tersebut digunakan. Karena itu, barangkali ubi tidak perlu minder berada satu ruang dengan satelit. Dalam dunia sains, gengsi objek riset tidak menentukan kedalaman pertanyaan ilmiahnya.
Bahasa Sains
Sains memiliki bahasa sendiri. Ilmuwan terbiasa berbicara tentang metode, perlakuan, kontrol, signifikansi, mekanisme, dan ketidakpastian. Sebaliknya, publik pertama-tama ingin mengetahui hal yang lebih sederhana, yakni apa masalahnya, apa yang ditemukan, dan mengapa ini penting.
Jarak antara dua bahasa inilah yang harus dijembatani. Sebab, pekerjaan menghasilkan ilmu pengetahuan tidak berhenti ketika eksperimen selesai dan artikel ilmiah terbit. Terlebih jika riset dibiayai dengan uang publik, masyarakat juga perlu memahami mengapa riset itu layak dilakukan dan pengetahuan baru apa yang dihasilkannya.
Komunikasi sains karena itu bukan sekadar pekerjaan tambahan untuk memoles hasil riset agar terlihat menarik. Ia merupakan bagian dari proses membawa pengetahuan dari ruang riset ke ruang publik. Tanpa komunikasi yang memadai, perjalanan panjang riset dapat tereduksi menjadi satu benda saja.
Komunikasi sains juga tidak sesederhana menerjemahkan istilah teknis menjadi bahasa populer. Dalam kajian komunikasi sains dikenal knowledge deficit model, yakni pendekatan yang memandang kesenjangan antara sains dan masyarakat terutama sebagai akibat kekurangan pengetahuan ilmiah pada publik (Grant, 2023).
Model ini berangkat dari anggapan bahwa persoalan utama ada pada kurangnya pengetahuan publik, sehingga tugas ilmuwan cukup mengisi kekosongan itu dengan informasi ilmiah. Cara pandang ini kemudian banyak dikritik karena masyarakat bukanlah “gelas kosong”. Mereka membawa pengalaman, pengetahuan, kepentingan, dan konteksnya sendiri ketika berhadapan dengan sains.
Karena itu, ketika publik melihat keripik ubi dan bertanya mengapa lembaga riset membuat keripik, respons pertama ilmuwan semestinya bukan menyimpulkan bahwa masyarakat tidak memahami sains. Pertanyaan yang sama pentingnya justru perlu diarahkan kepada ilmuwan itu sendiri, bagian mana dari sains yang belum berhasil diceritakan?
Jika itu belum terjawab, maka ubi sebenarnya tidak benar-benar mujur. Sebab, jika yang sampai kepada publik hanya ubi, sedangkan sainsnya tetap berada di dalam black box, barangkali yang mujur memang baru ubi. Komunikasinya belum.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
