Strategi Tiongkok Membangun Ekonomi Berbasis Inovasi
Pada akhir Juni lalu, di sela pertemuan konsultasi pendirian bank pembangunan multilateral yang baru di Shenzhen, Tiongkok, kami melakukan site visit ke sejumlah institusi. Kunjungan tersebut dibagi dalam tiga tema utama. Pertama, How Digital Technology is Reshaping Modern Banking, yang menyoroti transformasi digital sektor perbankan melalui kunjungan ke WeBank dan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Shenzhen Branch.
Kedua, End-to-End Services Driving Innovation, yang memperlihatkan pengembangan ekosistem inovasi secara terintegrasi melalui kunjungan ke Shenzhen InnoX, Shenzhen Capital Group, serta kawasan Qianhai. Ketiga, "AI Plus" Advanced Manufacturing, yang menampilkan implementasi kecerdasan buatan dan manufaktur canggih melalui kunjungan ke BYD dan Robot Demonstration Block.
Dengan tiga tema tersebut, Tiongkok seolah ingin mengatakan, perekonomian mereka sekarang tidak semata-mata disebabkan kemajuan teknologi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence), kendaraan listrik, maupun robotika. Melainkan, dari kemampuan negara mengorkestrasi seluruh siklus inovasi secara utuh.
Mulai dari penelitian dan pengembangan, inkubasi usaha, pembiayaan, komersialisasi, produksi massal, hingga pembentukan standar teknologi dan perluasan pengaruh di tingkat global. Lalu apa yang sebenarnya dilakukan Tiongkok untuk bisa sampai pada titik ini?
Tiongkok Membangun "Innovation Supply Chain"
Setiap institusi yang dikunjungi memiliki fungsi berbeda, tetapi dirancang sebagai bagian dari satu ekosistem inovasi nasional yang saling terhubung. Mulai dari perbankan, inkubator bisnis, venture capital, hingga industri seperti BYD berada dalam satu ekosistem yang sama.
Berbagai institusi tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan membentuk suatu rantai pasok inovasi nasional (national innovation supply chain) yang menghubungkan pengembangan talenta, riset, pembiayaan, industri, hingga ekspansi global. Di sinilah keunggulan utama Tiongkok yakni pada keberhasilannya mengintegrasikan seluruh mata rantai tersebut ke dalam satu sistem nasional yang berjalan secara simultan.
Sebaliknya, Indonesia pada dasarnya telah memiliki sebagian komponen ekosistem tersebut. Namun, keterhubungan antarlembaga, kesinambungan kebijakan, serta koordinasi lintas sektor masih perlu terus diperkuat agar mampu menghasilkan siklus inovasi yang lebih utuh.
Perbankan Menjadi Instrumen Kebijakan Industri
Salah satu temuan menarik adalah semakin kuatnya peran sektor perbankan sebagai instrumen untuk mendukung transformasi industri dan inovasi nasional. Berbagai institusi keuangan tidak lagi hanya menjalankan fungsi intermediasi konvensional. Perbankan menjadi bagian dari kebijakan industri melalui pengembangan model pembiayaan yang berorientasi pada inovasi dan pertumbuhan teknologi.
WeBank memperlihatkan bagaimana pemanfaatan artificial intelligence, blockchain, federated learning, dan distributed core banking memungkinkan perluasan akses pembiayaan digital secara efisien dan berskala besar. Sementara itu, ICBC Shenzhen Branch memanfaatkan big data, machine learning, privacy computing, serta large AI models untuk meningkatkan kualitas penilaian kredit terhadap perusahaan teknologi. Termasuk, perusahaan yang memiliki aset fisik relatif terbatas namun memiliki potensi inovasi yang tinggi.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam sistem pembiayaan di Tiongkok. Dari pendekatan yang bertumpu pada ketersediaan agunan (collateral-based lending) menuju pendekatan yang semakin mempertimbangkan kapasitas inovasi, prospek usaha, dan nilai aset intelektual (innovation-based lending). Pendekatan ini memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan berbasis teknologi untuk memperoleh akses pembiayaan sejak tahap awal pertumbuhannya.
Menguasai Siklus Hidup Perusahaan Teknologi
Dari kunjungan ke Shenzhen Capital Group (SCGC) diketahui sistem pembiayaan inovasi di Tiongkok dirancang untuk mendukung perusahaan teknologi secara berkelanjutan sepanjang siklus pertumbuhannya. Dukungan tersebut tidak berhenti pada tahap pendanaan awal (seed funding), tetapi berlanjut hingga pengembangan produk, komersialisasi, ekspansi usaha, pencatatan saham (initial Public Offering/IPO), hingga penetrasi ke pasar internasional.
Cara Tiongkok melakukannya seolah mengajarkan para delegasi bahwa pembiayaan harus diposisikan sebagai bagian dari strategi pembangunan industri nasional, bukan sekadar aktivitas investasi jangka pendek. Selain menyediakan modal, lembaga pembiayaan juga perlu berperan dalam memperkuat tata kelola perusahaan, memperluas jejaring bisnis, memfasilitasi akses terhadap pasar modal, serta mendukung internasionalisasi perusahaan teknologi.
Pola tersebut mencerminkan keberadaan suatu sistem pembentukan modal nasional yang dirancang untuk memastikan keberlangsungan pembiayaan sepanjang siklus hidup perusahaan inovatif. Sistem seperti ini memungkinkan Tiongkok mempercepat lahirnya perusahaan teknologi berskala global sekaligus memperkuat daya saing industrinya secara berkelanjutan.
Laboratorium Kebijakan Nasional
Hasil kunjungan ke kawasan Qianhai menunjukkan bahwa keberhasilan Shenzhen tidak hanya didukung oleh investasi infrastruktur dan aktivitas industri. Namun, juga oleh penerapan berbagai inovasi kelembagaan yang secara konsisten diuji sebelum diadopsi secara lebih luas di tingkat nasional.
Dalam konteks tersebut, Shenzhen berfungsi sebagai policy laboratory yang memungkinkan pemerintah mengembangkan, menguji, dan menyempurnakan berbagai kebijakan ekonomi, investasi, perdagangan, serta jasa keuangan dalam lingkungan yang relatif fleksibel.
Pendekatan tersebut tercermin melalui pengembangan Qianhai Shenzhen–Hong Kong Modern Service Industry Cooperation Zone, yang mengintegrasikan reformasi regulasi, inovasi kelembagaan, pembukaan akses investasi, pengembangan jasa keuangan lintas batas, serta peningkatan konektivitas dengan Hong Kong dan pasar global.
Pengembangan kawasan tidak semata diarahkan untuk menarik investasi, tetapi juga sebagai instrumen untuk menguji model tata kelola ekonomi yang kemudian dapat direplikasi di wilayah lain.
Pendekatan tersebut, secara ekonomi menunjukkan Tiongkok memandang kawasan ekonomi khusus bukan sekadar sebagai lokasi kegiatan industri. Kawasan ekonomi merupakan instrumen strategis untuk mempercepat reformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing nasional melalui inovasi kebijakan yang dilakukan secara bertahap, terukur, dan berbasis pengalaman lapangan.
AI Menjadi Infrastruktur Ekonomi Baru
Hampir seluruh institusi yang dikunjungi memperlihatkan bahwa artificial intelligence (AI) telah menjadi teknologi dasar (general-purpose technology) yang terintegrasi ke dalam berbagai sektor ekonomi. AI tidak lagi diposisikan sebagai inovasi yang berdiri sendiri, tetapi telah menjadi bagian dari sistem produksi, layanan keuangan, pengembangan kawasan, manufaktur, hingga pelayanan publik.
Pemanfaatan AI terlihat pada berbagai aspek, mulai dari analisis kredit di sektor perbankan, pengembangan perusahaan rintisan, optimalisasi proses manufaktur, hingga implementasi robotika dan layanan publik cerdas di Robot Demonstration Block. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok mendorong penerapan AI secara luas melalui pendekatan berbasis skenario (scenario-driven development). Dengan demikian, teknologi dapat segera diadopsi, diuji, dan disempurnakan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia usaha.
Dari sini, dapat dilihat bahwa keunggulan Tiongkok tidak semata terletak pada kemampuan menghasilkan teknologi AI, tetapi juga pada keberhasilannya membangun ekosistem yang mempercepat difusi teknologi tersebut ke berbagai sektor ekonomi. Pendekatan tersebut mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Terakhir, yang perlu diantisipasi adalah pertanyaan, “akan seperti apa Tiongkok 50 atau 100 tahun ke depan?”
Tiongkok Membangun Kepemimpinan Teknologi Global
Fakta yang saya lihat dari rangkaian kunjungan yang dilakukan menunjukkan bahwa orientasi pembangunan Tiongkok telah melampaui penguasaan pasar domestik dan semakin diarahkan untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pusat inovasi dan teknologi global. Berbagai institusi yang dikunjungi secara konsisten menempatkan internasionalisasi sebagai bagian dari strategi pengembangan. Baik melalui ekspansi perusahaan, pengembangan standar teknologi, kerja sama internasional, maupun penguatan jaringan pembiayaan lintas negara.
Pendekatan tersebut terlihat dari keterlibatan WeBank dalam pengembangan teknologi open-source dan penyusunan standar industri keuangan digital, dukungan Shenzhen Capital Group terhadap ekspansi global perusahaan portofolio, serta pengembangan kawasan Qianhai sebagai simpul kerja sama ekonomi internasional.
Sementara itu, BYD menunjukkan bagaimana penguasaan teknologi domestik dapat diterjemahkan menjadi daya saing global melalui ekspansi pasar dan inovasi produk yang berkelanjutan. Di saat sebagian besar negara hanya memiliki pabrik kendaraan listrik. BYD memiliki baterai, cip, AI, Internet of Things (IoT), motor listrik, software, energi, rail transit, dan charging ecosystem. Di sisi lain, Indonesia sudah bertransformasi menjadi pasar yang cantik bagi produk-produk BYD di atas.
Secara strategis, berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan global ke depan diperkirakan tidak lagi hanya berfokus pada kapasitas produksi. Akan tetapi, semakin ditentukan oleh kemampuan suatu negara membangun standar teknologi, menguasai rantai nilai global, serta memperluas pengaruh melalui ekosistem inovasi yang dimilikinya.
Indonesia Perlu Belajar dari Shenzhen
Kunjungan dua hari ke berbagai institusi di Shenzhen menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya memperkuat kapasitas industrinya. Negara itu juga secara sistematis membangun keunggulan kompetitif melalui penguasaan teknologi strategis, sistem pembiayaan inovasi, serta integrasi antara kebijakan industri dan sektor keuangan. Perkembangan tersebut berpotensi memperbesar kesenjangan daya saing apabila Indonesia tidak mampu mempercepat transformasi ekonomi berbasis inovasi.
Penguatan posisi Tiongkok dalam berbagai sektor teknologi juga berpotensi meningkatkan ketergantungan negara lain terhadap teknologi, digital platform, standar industri, maupun rantai pasok yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok. Kondisi ini perlu dicermati secara hati-hati, terutama dalam konteks pembangunan kapasitas industri nasional dan penguatan kemandirian teknologi Indonesia.
Selain itu, kecepatan Tiongkok dalam menghubungkan riset, pembiayaan, manufaktur, dan komersialisasi menunjukkan pentingnya koordinasi kebijakan lintas sektor. Tanpa penguatan sinergi kelembagaan, Indonesia berisiko menghadapi proses inovasi yang berjalan secara parsial sehingga sulit menghasilkan perusahaan teknologi yang mampu bersaing di tingkat global.
Namun dari hal-hal yang perlu diwaspadai di atas, terdapat beberapa hal yang juga dapat dipelajari Indonesia. Pengalaman Shenzhen memberikan pembelajaran bahwa pembangunan ekonomi berbasis inovasi memerlukan kebijakan yang konsisten dalam jangka panjang. Di samping itu, perlu ada koordinasi yang erat antara pemerintah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga riset.
Penguatan ekosistem tersebut menjadi prasyarat penting untuk mempercepat hilirisasi inovasi dan meningkatkan produktivitas nasional. Indonesia juga dapat mempertimbangkan penguatan skema pembiayaan inovasi yang mampu mendukung perusahaan teknologi pada setiap tahapan pertumbuhannya. Termasuk, melalui pengembangan modal ventura, instrumen pembiayaan jangka panjang, serta model penilaian kredit yang semakin memperhatikan potensi inovasi dan aset intelektual.
Di samping itu, pengalaman pengembangan kawasan seperti Qianhai menunjukkan pentingnya menjadikan kawasan ekonomi sebagai ruang inovasi kebijakan (policy experimentation). Alhasil, memungkinkan penyempurnaan regulasi, pengembangan model bisnis baru, serta peningkatan daya tarik investasi sebelum diterapkan secara lebih luas di tingkat nasional.
Pengembangan AI dan teknologi digital juga perlu diarahkan pada pendekatan berbasis kebutuhan nyata (use-case driven). Dengan demikian, inovasi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diimplementasikan secara luas untuk meningkatkan efisiensi sektor publik, produktivitas industri, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Tiongkok tidak sedang mengejar revolusi industri global. Sebaliknya, Tiongkok sedang berupaya memimpin revolusi industrinya sendiri yang ditopang oleh integrasi AI, data, keuangan digital, manufaktur cerdas, dan kebijakan industri berbasis negara. Namun, dampaknya diperkirakan akan mempengaruhi dunia global beberapa puluh tahun ke depan.
Keunggulan utama Tiongkok bukan terletak pada besarnya investasi semata, tetapi pada kemampuan mengorkestrasi berbagai institusi—bank, modal ventura, lembaga riset, kawasan industri, pemerintah daerah, perusahaan teknologi, dan lembaga perencanaan—ke dalam satu strategi nasional yang konsisten. Seluruh institusi yang dikunjungi memperlihatkan fungsi yang saling menguatkan dalam arsitektur tersebut.
Dari sudut pandang Indonesia, tantangan terbesar bukanlah menghadapi satu perusahaan seperti BYD, Tencent, atau WeBank. Melainkan, menghadapi ekosistem negara (state-enabled innovation ecosystem) yang secara simultan menghasilkan teknologi, talenta, pembiayaan, standar, dan perusahaan global.
Oleh karena itu, respons Indonesia sebaiknya tidak bersifat sektoral, tetapi berupa pembangunan ekosistem inovasi nasional yang terintegrasi. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pasar atau lokasi produksi, melainkan juga menjadi pusat penciptaan teknologi dan nilai tambah di kawasan.
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mencerminkan opini atau pendapat institusi dimana penulis bekerja.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
