• Sejumlah pengamat memprediksi badai PHK karyawan startup saat ini belum mencapai puncaknya dan bisa memburuk di 2023.
  • Kombinasi antara keterbatasan aliran modal, strategi bakar uang, dan krisis global akan membuat efisiensi menjadi jalan yang dipilih startup.
  • Startup harus mulai mencari cara untuk mencari laba ketimbang jor-joran dengan strategi bakar uang.

Akhir pekan yang biasanya berisi sukacita tidak dirasakan Jevon (bukan nama sebenarnya) pertengahan November lalu. Pagi itu, manajernya datang, mengajaknya berbicara empat mata, dan memberi kabar buruk: ia di-PHK. Jevon adalah satu dari ratusan pegawai Ruangguru yang terdampak PHK pada Jumat, 18 November lalu.

Dari penuturan Jevon, Ruangguru merekrut terlalu banyak orang di masa pandemi sehingga sekarang harus memangkas jumlah karyawannya. Sebagai startup yang bergerak di bidang edutech, Ruangguru mendapat pasar yang besar kala pandemi karena murid harus belajar dari rumah dan membutuhkan pelajaran tambahan. 

Advertisement

Jevon pun begitu, ia bergabung dengan Ruangguru pada tahun lalu di divisi desain, lantaran banyaknya proyek yang diterima Ruangguru. Dalam catatan Katadata, Ruangguru mulai merekrut banyak pegawai pada 2020. Bahkan bila dibanding pada akhir 2019, jumlah karyawannya melonjak 25% menjadi 5.000 orang karyawan. 

“Tapi sekarang pandemi mereda, project-nya juga mungkin sudah berkurang, nggak sebanyak pandemi lah. Jadi orang yang direkrut itu udah nggak terlalu effort kerjaannya dan di-cut,” kata Jevon pada Katadata, Selasa (13/12).

Selama ia bekerja di Ruangguru, ia melihat perusahaan tersebut cukup stabil dan masih menghasilkan untung. Hal ini juga sesuai dengan laporan Tech in Asia yang menyatakan Ruangguru memperoleh laba operasional sekitar US$ 1,8 juta atau setara Rp 25,6 miliar pada 2020. Valuasi startup ini pun ditaksir mendekati taraf unicorn di angka lebih dari US$ 1 miliar.   

Sebulan pasca berhenti bekerja di Ruangguru, Jevon fokus untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Meski sebelumnya memiliki pengalaman terdampak PHK startup, Jevon mengaku dirinya masih tetap tertarik bekerja di perusahaan rintisan. 

“Nggak (kapok) kok. Nggak harus melihat jenis perusahaannya, yang penting aku tetap cari pekerjaan di bidang design,” tukas Jevon.

Infografik_Badai PHK Startup Belum Berlalu
Infografik_Badai PHK Startup Belum Berlalu (Katadata/ Nurfathi)
 

Era Baru Pendanaan Startup 

Tidak hanya Ruangguru, efisiensi berupa PHK pun terpaksa dilakukan berbagai startup kecil hingga unicorn. Hingga Desember 2022 tercatat sudah ada 21 startup yang melakukan PHK pada karyawannya. 

Kendati badai PHK sudah banyak terjadi di berbagai startup, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai puncaknya masih belum terjadi, “Karena kami belum tahu apa yang akan terjadi pada 2023,” ujarnya pada Katadata (25/11). 

Menurutnya, bila prediksi ekonom yang menyatakan resesi global benar-benar terjadi tahun depan, otomatis startup akan meneruskan proses efisiensi. Salah satunya adalah mengurangi pegawai dalam jumlah yang besar. Adapun Heru menjabarkan lima faktor yang menyebabkan startup terpaksa melakukan PHK.

Pertama, kesulitan memperoleh investasi. Laporan Google, Temasek, dan Bain menyebut modal tersedia alias dry powder investor modal ventura Asia Tenggara memang menurun. Hanya sekitar US$ 15 miliar pada tahun ini. Padahal tahun lalu nilainya mencapai US$ 16 miliar. Lebih lanjut laporan ini memperkirakan perusahaan modal ventura akan berinvestasi di startup yang sudah pernah didanai, daripada menjelajahi startup baru. 

Faktor kedua menurut Heru, startup saat ini masih mengandalkan strategi bakar uang mengakuisisi pelanggan melalui beragam promo. Ketiga, pengeluaran tinggi untuk gaji pegawai dan fasilitas penunjang. Keempat, konflik Rusia dan Ukraina yang berdampak terhadap inflasi, dan terakhir ncaman resesi ekonomi global.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro menjelaskan PHK adalah jalan efisiensi terakhir sebuah startup. Dari sisi investor pun sudah ada perubahan kebijakan dalam pemberian dana. Ia pun menuturkan kini Indonesia sedang memasuki masa pencarian keseimbangan baru, antara kualitas dan kuantitas startup.

“Pemberian dana enggak segampang dulu,” kata Eddi kepada Katadata. 

Eddi menuturkan sebelumnya pertimbangan modal ventura hanya berdasarkan pendapatan. Namun, saat ini pemodal mulai fokus ke laba. “Ini proses pendewasaan, enggak mungkin juga semua startup bertahan, kan?,” Eddi menambahkan.

Ia pun melihat bahwa startup yang bergerak dengan model business to business alias B2B akan lebih kuat daripada yang berbasis konsumen. Pasalnya, startup B2C sangat mengandalkan promosi terkait harga yang sudah sulit dilakukan dengan kebijakan pendanaan masa kini. Meski begitu, ada beberapa sektor startup yang menurutnya masih akan dilirik oleh investor.

Halaman:
Reporter: Amelia Yesidora
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Advertisement