Robot humanoid kini benar-benar hadir dalam kehidupan manusia. Di Cina, robot berlari dalam lomba maraton, menjadi pemandu hotel, membantu pekerjaan industri, hingga menjaga kawasan perbatasan.
Katadata menyaksikan bagaimana dua robot humanoid bernama Vita Boy dan Flash berjalan ke atas panggung, berdialog dan membuka perhelatan dalam ajang Mobile World Congress (MWC) di Shanghai, akhir Juni lalu. Empat bulan sebelumnya, robot yang jago gerakan Kungfu dipamerkan di hadapan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Presiden Cina Xi Jinping pada awal tahun secara khusus menyebut robot humanoid berkemampuan tendangan kungfu sebagai salah satu pencapaian inovasi lompatan besar teknologi negaranya. Dia menempatkan kemajuan robotika ini sejajar dengan proyek strategis nasional lainnya, seperti kecerdasan buatan (AI), cip domestik, hingga misi antariksa.
Dua robot humanoid bernama Vita Boy dan Flash membuka acara Mobile World Congress (MWC) Shanghai, Rabu (24/6/2026) (Katadata/Yuliawati)
Robot buatan Cina maju pesat berkat AI yang dipadukan dengan jaringan 5G-Advanced. Kombinasi ini membuat lompatan: jika sebelumnya seluruh kemampuan komputasi harus ditanamkan di dalam robot, kini sebagian besar proses berpikir dijalankan di cloud.
Robot berfungsi sebagai 'tubuh' yang mengumpulkan data melalui kamera, mikrofon dan sensor, kemudian AI di cloud memprosesnya secara real-time lewat jaringan 5G Advanced.
"Kita memasuki era ketika AI benar-benar berjalan berdampingan dengan kita melalui robot humanoid," kata Pablo Iacopino, Head of Research and Commercial Content, GSMA Intelligence di pembukaan MWC Shanghai.
Era Baru Dunia Telekomunikasi
Pablo menggambarkan sekarang adalah fase baru industri telekomunikasi yang disebut sebagai IQ Era. Berbeda dengan era sebelumnya yang berfokus menghubungkan manusia dan perangkat, IQ Era menempatkan jaringan telekomunikasi sebagai penyedia kecerdasan. Jaringan tidak lagi hanya mengirimkan data, tetapi menjadi penghubung antara dunia fisik — robot, kendaraan, drone, dan mesin industri — bersama AI yang bekerja di cloud.
Dia mengatakan IQ Era memiliki tiga fondasi utama yang akan menentukan masa depan AI yakni konektivitas, keandalan, dan kolaborasi. "Infrastruktur telekomunikasi merupakan fondasi bagi AI. Tanpa jaringan yang memadai, manusia tidak akan pernah mampu mewujudkan potensi AI secara maksimal," kata dia.
Tiongkok berada di garis depan perubahan tersebut, dan industri telekomunikasi memainkan peran penting dalam mewujudkannya. Saat ini lebih dari 40 persen koneksi 5G dunia berada di Tiongkok dengan lebih dari 80 persen berupa jaringan 5G Standalone (5G SA). Selain itu, 5G-Advanced telah beroperasi di 330 kota di Tiongkok.
Salah satu perusahaan yang mendorong pengembangan teknologi tersebut adalah Huawei. Menurut David Wang, Deputy Chairman of the Board & Rotating Chairman Huawei, memasuki era AI menuntut perubahan mendasar pada arsitektur jaringan. Jaringan tidak lagi dirancang hanya untuk mengangkut lalu lintas data (traffic-centric networking), tetapi harus mampu mendukung interaksi AI secara real time.
"Jaringan komunikasi kini harus bergeser dari sekadar mengangkut data menjadi jaringan yang dirancang untuk mendukung interaksi secara real time," kata Wang. Dia menjelaskan jaringan generasi berikutnya harus mampu menghubungkan komputasi, AI, dan berbagai sistem cerdas yang bekerja secara bersamaan.
Posisi Indonesia di Tengah Tren Jaringan 5G Advanced
Sementara Cina mulai membangun ekosistem AI yang terhubung dengan jaringan 5G-Advanced, Indonesia masih berada pada tahap memperluas fondasi jaringan 5G. Tantangan Indonesia bukan hanya memperluas cakupan jaringan, tetapi juga menyiapkan ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung AI, industri, dan layanan digital generasi berikutnya.
Berdasarkan data dari Ericsson Mobility Report (EMR) Juni 2026, pengguna jaringan 5G di Indonesia hingga akhir 2025 sudah mencapai 14%, sisanya 86% masih menggunakan Long Term Evolution (LTE) atau 4G.
Tak perlu membandingkan dengan Cina, angka adopsi ini tertinggal di banding negara-negara Kawasan Asia Tenggara. Indonesia masih tertinggal dibanding Singapura dengan penetrasi pengguna 5G sebanyak 73%, kemudian Thailand (41%), dan Malaysia (38%).
Direktur Eksekutif Information and Communication Technology Institute (ICT) Heru Sutadi mengatakan rendahnya adopsi 5G sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. "Sebagian besar kebutuhan masyarakat saat ini masih bisa dilayani dengan baik oleh 4G, sehingga belum ada dorongan kuat untuk beralih ke 5G," kata dia.
Heru menilai rendahnya adopsi 5G dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, mulai dari terbatasnya cakupan jaringan, belum meratanya kepemilikan perangkat 5G, hingga model bisnis operator yang masih berkembang.
"Tantangan lainnya adalah model bisnis 5G yang belum sepenuhnya terbentuk. Operator masih mencari layanan dan aplikasi yang benar-benar dapat menghasilkan nilai tambah dari investasi 5G yang relatif besar," kata Heru.
Lelang Frekuensi Apakah Cukup?
Pemerintah pada 2026 baru memulai proses seleksi pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang selama ini dinantikan operator seluler untuk mengatasi keterbatasan spektrum. Spektrum 700 MHz diproyeksikan memperluas cakupan layanan terutama di wilayah pedesaan, sedangkan pita 2,6 GHz akan meningkatkan kapasitas layanan 5G di kawasan perkotaan.
Secara global, mayoritas implementasi 5G berkapasitas tinggi bertumpu pada pita frekuensi 3,5 GHz (band n78). Spektrum ini dianggap sebagai "golden band" karena memberikan keseimbangan terbaik antara jangkauan dan kapasitas bagi jaringan 5G maupun 5G-Advanced di berbagai negara.
Namun, Indonesia menghadapi kendala karena sebagian besar pita 3,5 GHz masih digunakan oleh layanan satelit. Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Joseph Matheus Edward menilai perlu ada terobosan ilmiah agar pemakaian bersama (koeksistensi) antara satelit dan 5G dapat dilakukan di spektrum tersebut.
Heru mengatakan, setelah frekuensi tersedia, operator masih perlu melakukan investasi jaringan yang cukup besar. Karena itu, keberhasilan 5G tidak hanya ditentukan oleh lelang frekuensi, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem, daya beli masyarakat, serta hadirnya layanan digital yang benar-benar membutuhkan kemampuan 5G.
Heru mengingatkan bahwa ketersediaan frekuensi hanyalah langkah awal. Keberhasilan 5G tidak boleh hanya diukur dari jumlah BTS, melainkan dari kesiapan ekosistem dan hadirnya layanan digital yang memberikan manfaat nyata.
Pandangan ini sejalan dengan para pembicara di MWC Shanghai, yang menekankan bahwa jaringan generasi berikutnya harus dibangun bersamaan dengan pusat data, cloud computing, AI, serta aplikasi industri. Tanpa ekosistem tersebut, 5G hanya akan menjadi jaringan internet yang lebih cepat, bukan infrastruktur ekonomi digital baru.
Teknologi 5G Jadi Tulang Punggung Ekonomi
Head of Network Solutions Ericsson South East Asia Stanislaus Bawono mengatakan teknologi 5G bisa menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital. Menurutnya, jaringan 5G menjadi infrastruktur yang memungkinkan ekonomi digital berkembang pertama melalui transformasi digital.
“Transformasi digital mungkin kita lihat bukan cuma dari sisi konsumer tapi juga kita lihat dari sisi industri, kita lihat dari sisi government, e-government, dan lain-lain,” katanya.
Potensi pertumbuhan ekonomi digital ini tercermin dari laporan The Mobile Economy 2026 yang diterbitkan GSMA. Laporan itu menyebutkan teknologi seluler menyumbang sekitar US$7,6 triliun terhadap ekonomi dunia pada 2025 (sekitar 6,4% PDB global).
"Dampak ekonomi industri ini akan tumbuh menjadi US$11,3 triliun pada 2030 seiring dengan semakin cepatnya adopsi 5G, AI, dan teknologi digital lainnya," bunyi laporan GSMA.
Nilai ekonomi tersebut tidak hanya berasal dari layanan telekomunikasi, tetapi juga dari manufaktur, transportasi, kesehatan, energi, logistik, hingga berbagai industri yang memanfaatkan AI dan jaringan generasi baru.
Robot humanoid, kendaraan otonom, drone, pabrik pintar, hingga layanan kesehatan berbasis AI sama-sama membutuhkan kemampuan jaringan untuk mengirim dan memproses data secara real time. Karena itu, 5G-Advanced bukan sekadar peningkatan kecepatan internet, tapi sebagai fondasi lahirnya berbagai system embodied AI yang diramal menjadi penggerak ekonomi digital masa depan.
Tanpa kesiapan jaringan tersebut, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi produk-produk digital asing. Nilai tambah dari pengembangan robot, perangkat industri pintar, hingga layanan AI berbasis edge computing, hanya akan tercipta di negara yang lebih dahulu membangun infrastruktur digitalnya.



